Saham News
HSG Hari Ini Berpeluang Bergerak Positif! Simak Rekomendasi Saham Pilihan Selasa, 2 Juni 2026
/index.php
Saham News - Diposting pada 02 June 2026 Waktu baca 5 menit
Pelemahan nilai tukar rupiah yang masih berlangsung membuat para manajer investasi semakin berhati-hati dan selektif dalam mengalokasikan dana di pasar keuangan. Berdasarkan data TradingView per Senin (1/6/2026), kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp17.878 per dolar AS. Dalam situasi tersebut, Simpan Asset Management menjadi salah satu manajer investasi yang mulai mengarahkan fokus investasinya ke saham-saham dengan tingkat imbal hasil dividen (dividend yield) tinggi yang dinilai semakin menarik setelah terjadinya koreksi pasar. Senior Equity Research Simpan Asset Management, Genandy Amiharja, menyampaikan bahwa pelemahan rupiah saat ini menjadi perhatian penting bagi perusahaan.
Menurutnya, keputusan Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga melebihi ekspektasi pasar mencerminkan bahwa stabilisasi nilai tukar kini menjadi prioritas utama otoritas moneter. Sebagai langkah antisipasi terhadap perubahan kondisi makroekonomi sejak kuartal pertama tahun ini, Simpan Asset Management telah melakukan penyesuaian portofolio secara bertahap.
Di pasar saham, Simpan Asset Management menerapkan strategi yang lebih defensif. Perusahaan telah meningkatkan porsi kas sejak munculnya tekanan arus keluar modal asing yang dipicu oleh rebalancing indeks MSCI, yang menurut Genandy menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya volatilitas di pasar domestik.
Ia menilai bahwa risiko di pasar saham saat ini tidak hanya bersumber dari pelemahan rupiah dan tingginya tingkat suku bunga, tetapi juga dipengaruhi oleh ketidakpastian terkait pergerakan dana asing. Dalam kondisi seperti itu, Simpan Asset Management memilih untuk lebih selektif dalam menentukan saham yang layak dimasukkan ke dalam portofolio. Salah satu indikator utama yang menjadi fokus perusahaan adalah tingkat imbal hasil dividen.
“Dividend yield sejumlah emiten saat ini telah mencapai level yang secara historis cukup menarik akibat koreksi harga yang terjadi, dan hal tersebut menjadi salah satu kriteria utama dalam proses seleksi kami saat ini,” ujarnya kepada Bisnis pada Senin (1/6/2026).
Untuk instrumen pendapatan tetap, perusahaan memilih meningkatkan eksposur pada obligasi berjangka pendek karena kenaikan imbal hasil pada tenor pendek terjadi lebih cepat dibandingkan kenaikan suku bunga acuan. Strategi ini diterapkan sebagai langkah mitigasi untuk mengurangi risiko penurunan harga obligasi yang biasanya lebih besar pada surat utang berjangka panjang ketika suku bunga mengalami kenaikan.
“Langkah ini kami lakukan secara proaktif, bukan sebagai respons setelah terjadi tekanan, dengan tujuan melindungi portofolio dari dampak mark-to-market yang umumnya lebih besar pada obligasi dengan tenor panjang,” jelasnya.
Ke depan, Simpan Asset Management akan terus menyesuaikan komposisi portofolionya sesuai dengan perkembangan kondisi makroekonomi. Perusahaan juga tetap menjaga tingkat likuiditas yang memadai guna memanfaatkan peluang investasi ketika valuasi pasar menjadi lebih menarik dan tanda-tanda pembalikan tren mulai terlihat, baik di pasar saham maupun pasar obligasi.
“Kami mempertahankan likuiditas untuk menangkap peluang saat valuasi semakin menarik dan ketika pembalikan arah mulai terjadi pada indeks saham maupun imbal hasil obligasi,” ujarnya.
Sumber: bisnis.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.