Saham News
Rekomendasi Saham Hari Ini (5 Juni 2026): Cek Prediksi IHSG dan Saham Pilihan Analis
/index.php
Saham News - Diposting pada 05 June 2026 Waktu baca 5 menit
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Jumat (5/6/2026), melanjutkan tren pelemahan setelah sehari sebelumnya merosot hampir 2%.
Pada awal sesi perdagangan, IHSG sempat dibuka menguat 0,11% ke level 5.846,49. Namun, dominasi aksi jual kembali menekan pergerakan indeks sehingga dalam waktu kurang dari satu jam setelah pembukaan pasar, IHSG turun ke posisi 5.718,38 atau melemah 121 poin (-2,08%). Selama sesi pagi, indeks sempat mencapai titik tertinggi di level 5.860 dan terendah di level 5.714.
Sebagian besar saham diperdagangkan di wilayah negatif. Tercatat sebanyak 469 saham mengalami penurunan, sementara 156 saham menguat dan 107 saham tidak mengalami perubahan harga.
Pada awal perdagangan, nilai transaksi mencapai Rp6,18 triliun dengan volume perdagangan sebesar 7,81 miliar saham yang diperdagangkan melalui 648 ribu transaksi. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia juga menyusut menjadi Rp10.096 triliun.
Tekanan terhadap IHSG terjadi bersamaan dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali mencetak rekor terendah baru. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka melemah 0,17% ke level Rp18.050 per dolar AS.
Pelemahan tersebut melanjutkan tren negatif pada perdagangan sebelumnya. Pada Kamis (4/6/2026), rupiah ditutup melemah 0,45% ke posisi Rp18.020 per dolar AS, yang sekaligus menjadi level terlemah sepanjang sejarah terhadap mata uang Amerika Serikat.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB bergerak relatif stabil di level 99,438 setelah sebelumnya ditutup turun 0,12%.
Setelah mengalami tekanan besar pada perdagangan sebelumnya, IHSG diperkirakan masih akan menghadapi berbagai sentimen negatif pada hari ini. Baik faktor domestik maupun global diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan pasar.
Penurunan tajam Wall Street, kenaikan kembali harga minyak dunia, penguatan dolar AS, serta ketahanan ekonomi Amerika Serikat yang masih kuat berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap pasar keuangan Indonesia.
Di kawasan Asia, indeks Kospi Korea Selatan anjlok 4,11%, dipicu penurunan saham-saham berkapitalisasi besar seperti Samsung Electronics dan SK Hynix yang masing-masing turun sekitar 6% dan 8%. Sementara itu, indeks Kosdaq yang berisi saham-saham berkapitalisasi kecil juga terkoreksi 2,41%.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 1,1% mengikuti pelemahan sektor teknologi global. Sementara indeks S&P/ASX 200 Australia juga melemah 0,2% pada awal perdagangan.
Prospek pasar Hong Kong juga terlihat kurang positif. Kontrak berjangka indeks Hang Seng terakhir berada di level 25.158, lebih rendah dibandingkan posisi penutupan Hang Seng pada Kamis yang tercatat di level 25.253,40.
Pelemahan bursa Asia terjadi setelah Wall Street menunjukkan pergerakan yang beragam pada perdagangan Kamis waktu setempat. Indeks Dow Jones Industrial Average justru berhasil mencatat rekor tertinggi baru setelah melonjak 874,86 poin atau 1,73% ke level 51.561,93.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menerima kunjungan delegasi lembaga pemeringkat Standard & Poor’s (S&P) Global di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, pada Rabu (3/6/2026).
Dalam pertemuan tersebut, S&P diwakili oleh Kim Eng Tan selaku Managing Director Sovereign Ratings S&P Asia Pasifik. Diskusi berfokus pada prospek dan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah berbagai tantangan global yang masih berlangsung.
Airlangga menjelaskan bahwa pemerintah memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memaparkan kondisi ekonomi nasional yang dinilai tetap kuat meskipun menghadapi tantangan eksternal seperti ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi global, dan gangguan rantai pasok internasional.
“Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah kondisi global yang masih penuh ketidakpastian,” ujar Airlangga melalui akun Instagram resminya.
Menurut Airlangga, stabilitas ekonomi nasional didukung oleh kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang terukur, konsumsi domestik yang kuat, serta perbaikan kinerja sektor eksternal.
Ia menegaskan bahwa sejumlah indikator ekonomi utama masih menunjukkan perkembangan yang positif. “Inflasi tetap terkendali, investasi terus tumbuh positif, dan program hilirisasi mulai memberikan dampak nyata terhadap peningkatan nilai tambah industri nasional,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, pemerintah juga memaparkan berbagai agenda strategis yang sedang dijalankan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, mulai dari percepatan hilirisasi industri, penguatan ketahanan energi dan pangan, hingga peningkatan daya saing sektor manufaktur.
“Berbagai langkah tersebut merupakan bagian dari transformasi ekonomi Indonesia agar semakin tangguh menghadapi tekanan global sekaligus mampu meningkatkan daya saing dalam jangka panjang,” kata Airlangga.
Ia juga menambahkan bahwa pemerintah tetap optimistis prospek ekonomi Indonesia akan tetap terjaga seiring berlanjutnya reformasi struktural serta pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Di tengah pelemahan pasar yang cukup tajam, Bursa Efek Indonesia (BEI) secara aktif mengajak investor institusi maupun investor global untuk meningkatkan penempatan dana di pasar saham Indonesia guna membantu menahan tekanan terhadap IHSG.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengatakan pihaknya telah menyiapkan program roadshow untuk memperkuat sisi permintaan di pasar modal. Program tersebut akan menyasar investor domestik maupun investor internasional.
“Kami telah melakukan pertemuan dengan sejumlah bursa di luar negeri untuk menjalin kerja sama, termasuk dengan perusahaan sekuritas asing. Tujuannya adalah membawa perusahaan tercatat Indonesia agar lebih dikenal sehingga dapat menarik minat investor,” ujar Nyoman kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Di dalam negeri, BEI juga berencana memperluas kegiatan edukasi dan sosialisasi pasar modal ke berbagai daerah dengan memperkenalkan emiten kepada investor lokal, baik institusi maupun ritel.
Ketika ditanya mengenai koordinasi dengan perusahaan asuransi dan dana pensiun sebagai penyangga pasar, PJS Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa pihaknya terus menjalin komunikasi dengan berbagai kelompok investor, termasuk investor institusi domestik.
Jeffrey juga menyampaikan bahwa fundamental pasar modal Indonesia saat ini masih berada dalam kondisi yang baik. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan laba perusahaan-perusahaan tercatat yang terus berlanjut.
Menurutnya, seluruh emiten di BEI berhasil mencatat pertumbuhan laba lebih dari 21% pada akhir tahun buku 2025. Selain itu, pada kuartal I-2026, emiten yang tergabung dalam indeks LQ45 membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 29,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain itu, sekitar 80% perusahaan tercatat berhasil mencetak laba bersih pada kuartal I-2026. Angka tersebut merupakan persentase tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Jeffrey menjelaskan bahwa pada tahun 2020 hanya 63% perusahaan tercatat yang membukukan laba bersih. Pada periode 2021 hingga 2025, persentasenya berkisar antara 73% hingga 76%, sebelum meningkat menjadi 80% pada kuartal pertama tahun ini.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.