Saham News
Saham Bank Tertekan Aksi Jual Asing-Saatnya Waspada atau Justru Peluang?
/index.php
Crypto News - Diposting pada 01 August 2025 Waktu baca 5 menit
Michael Saylor tidak menunjukkan tanda-tanda mundur. Pendiri Strategy, yang merupakan nama asli dari MicroStrategy Inc., sedang mempersiapkan penjualan saham preferen senilai US$4,2 miliar atau sekitar lebih dari Rp69 triliun untuk mendukung investasi besar terbarunya di Bitcoin — sambil meyakinkan investor yang khawatir akan dilupakan.
Rencana ini, diumumkan bersamaan dengan laporan pendapatan kuartal kedua pada Kamis waktu setempat, menjadi respons terbaru Saylor terhadap pertanyaan penting yang terus menghantui saham perusahaannya: sampai kapan dia bisa terus memanfaatkan premi saham tinggi untuk membeli lebih banyak Bitcoin?
Untuk memberikan keyakinan kepada para investor, Strategy menyatakan tidak akan menerbitkan saham biasa baru dengan harga kurang dari 2,5 kali nilai aset bersihnya, kecuali digunakan untuk membayar bunga utang atau dividen dari saham preferen. Di sisi lain, Saylor akan terus melakukan pembelian Bitcoin secara oportunistik ketika premi pasar sedang tinggi, dengan mengubah hasil penjualan ekuitas menjadi pembelian aset kripto tersebut.
Langkah ini bertujuan ganda: menjaga kepercayaan pemegang saham terhadap harga saham perusahaan dan memperkuat modal perusahaan untuk melanjutkan pembelian Bitcoin. Strategi ini menjadi pertarungan langsung antara Saylor dan manajer hedge fund seperti Jim Chanos, yang bertaruh bahwa premi saham Strategy akan runtuh.
“Langkah ini akan menenangkan para investor ritel yang khawatir tentang kemungkinan dilusi,” ujar Brian Dobson, Direktur Pelaksana Disruptive Technology Equity Research di Clear Street. “Pasar merespons positif terhadap produk ekuitas Strategy. Permintaannya terbukti dengan jumlah modal yang berhasil dikumpulkan.”
Ini merupakan bagian dari rangkaian manuver keuangan yang telah mentransformasi perusahaan perangkat lunak yang dulunya tidak terlalu dikenal menjadi kendaraan investasi Bitcoin yang sangat dimanfaatkan.
Strategi ganda tersebut mencerminkan kemampuan Saylor menguasai pasar modal dalam masa bullish aset digital: menenangkan para skeptis dengan aturan yang dia tetapkan sendiri, sekaligus mempersenjatai perusahaan dengan dana segar untuk terus menambah kepemilikan Bitcoin.
Sepanjang tahun ini, perusahaan telah menghimpun lebih dari US$10 miliar dari penjualan saham dan penawaran terstruktur, dan kini memiliki Bitcoin senilai US$74 miliar di neraca keuangannya. Harga saham perusahaan telah melonjak 3.300% sejak pembelian pertama Bitcoin oleh Saylor, mengungguli performa Bitcoin itu sendiri dan mendorong hedge fund untuk mempertaruhkan nasib pada keberlangsungan strategi berbasis premi tersebut.
Sejak pertama kali membeli Bitcoin pada 2020, Saylor telah menjual ekuitas, menerbitkan berbagai jenis utang, serta menambahkan saham preferen ke dalam struktur modal perusahaan. Strategi ini juga memicu kemunculan perusahaan-perusahaan publik baru yang meniru pendekatan treasury yang difokuskan untuk membeli dan menyimpan mata uang kripto.
Momentum yang Tepat
Dengan saham Strategy yang diperdagangkan jauh di atas nilai Bitcoin yang mereka miliki, perusahaan dapat menjual saham pada harga premium, membeli lebih banyak Bitcoin, dan memperkuat nilai saham tersebut. Ini menciptakan efek berulang yang, menurut para kritikus, bisa hancur jika sentimen pasar berubah.
Untuk saat ini, kemampuan Saylor mengubah pasar ekuitas menjadi mesin pembiayaan Bitcoin menjadikan Strategy sebagai perwakilan kripto di bursa dan pusat perhatian dari para pengkritik yang bertaruh bahwa strategi ini akan gagal.
Perusahaan mencatatkan laba belum direalisasi sekitar US$14 miliar pada kuartal kedua. Setelah memperhitungkan pajak tangguhan, Strategy melaporkan laba bersih sebesar US$10 miliar atau US$32,6 per saham. Laba ini — yang menarik perhatian investor — didorong oleh kenaikan harga Bitcoin dan perubahan akuntansi yang baru-baru ini diterapkan.
Permintaan terhadap penawaran saham dapat berubah tergantung harga Bitcoin. Salah satu penawaran saham preferen sebelumnya harus diberi diskon besar agar menarik minat investor.
Baru minggu lalu, Strategy memperkenalkan jenis saham preferen baru bernama Stretch, yang awalnya direncanakan sebesar US$500 juta namun kemudian dinaikkan menjadi lebih dari US$2 miliar. Ini menunjukkan betapa lihainya Saylor dalam menggunakan strategi keuangan untuk memperbesar daya tembak di sektor kripto — setidaknya untuk saat ini.
“Peningkatan besar dalam ukuran penawaran Strategy mencerminkan kuatnya permintaan pasar terhadap Saham Preferen Stretch,” ujar Tyler Evans, Co-Founder dan Chief Investment Officer UTXO Management. “Mereka pernah melakukan peningkatan serupa sebelumnya, tapi kali ini jumlahnya sungguh luar biasa.”
Sumber: bloombergtechnoz.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.