Trump Siapkan Tarif ‘Senjata’ 1 Februari, Bitcoin & Ethereum Langsung Anjlok

Crypto News - Diposting pada 21 January 2026 Waktu baca 5 menit

Pasar keuangan global kembali bergerak ke arah defensif pada Selasa (20/1), setelah Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, secara terbuka menegaskan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump siap kembali menggunakan tarif sebagai instrumen utama dalam tekanan geopolitik. Pernyataan ini membangkitkan kembali kekhawatiran mengenai inflasi yang dipicu perang dagang, tepat di saat pasar kripto mulai menunjukkan tanda-tanda konsolidasi.

 

Bitcoin turun menembus level US$90.000, sementara Ethereum melemah ke bawah US$3.000. Penurunan ini terjadi seiring investor menilai ulang risiko makroekonomi setelah pernyataan Bessent dalam World Economic Forum (WEF) di Davos.

 

Tarif sebagai Instrumen Tekanan Strategis

Dalam forum Davos, Bessent menegaskan bahwa tarif tetap menjadi komponen inti kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ia menggambarkan tarif bukan sebagai opsi terakhir, melainkan sebagai alat negosiasi yang efektif untuk menekan mitra internasional.

 

“Tenanglah, tarik napas, dan jangan membalas. Presiden akan hadir besok dan menyampaikan langsung posisinya,” ujar Bessent menanggapi kritik Eropa atas ancaman tarif yang dikaitkan dengan isu Greenland.

 

Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa Gedung Putih telah memperhitungkan potensi penolakan dari negara-negara sekutu dan siap meningkatkan tekanan jika diperlukan. Pasar menafsirkan hal ini sebagai sinyal meningkatnya kembali risiko konflik dagang, khususnya antara Amerika Serikat dan Uni Eropa.

 

Bessent juga menyampaikan kerangka waktu yang jelas, dengan menyebut bahwa Presiden Trump berpotensi memberlakukan tarif sebesar 10% mulai 1 Februari apabila Denmark dan mitra sekutu lainnya menolak bekerja sama terkait Greenland.

 

Inflasi Kembali Menjadi Faktor Risiko

Di luar aspek geopolitik, Bessent membela tarif sebagai kebijakan yang berdampak positif secara ekonomi dan menepis anggapan bahwa langkah tersebut akan membebani perekonomian domestik AS.

 

Ia menyatakan bahwa kecil kemungkinan Mahkamah Agung akan membatalkan kebijakan ekonomi strategis seorang presiden, seraya menekankan bahwa tarif telah menghasilkan pemasukan negara dalam jumlah besar.

 

Namun, pandangan ini berlawanan dengan sejumlah riset terbaru yang menunjukkan bahwa konsumen AS menanggung porsi terbesar dari dampak tarif tersebut. Studi dari ekonom Eropa dan Amerika mengindikasikan bahwa tarif berfungsi layaknya pajak konsumsi terselubung yang secara bertahap menggerus daya beli rumah tangga.

 

Bagi pasar kripto, dinamika ini sangat relevan. Melemahnya daya beli dan meningkatnya tekanan harga cenderung mengurangi aliran modal spekulatif, terutama ke aset berisiko tinggi seperti kripto.

 

Volatilitas Suku Bunga Kembali Menjadi Ancaman

Bessent mencoba meredam kekhawatiran pasar obligasi dengan menyatakan bahwa lonjakan imbal hasil lebih disebabkan oleh gejolak di pasar Jepang, bukan akibat kebijakan Amerika Serikat.

 

Ia mencontohkan bahwa dalam dua hari terakhir, pasar obligasi Jepang mengalami pergerakan ekstrem hingga enam standar deviasi, sehingga sulit mengisolasi faktor spesifik dari AS.

 

Meski demikian, pelaku pasar lebih memusatkan perhatian pada gambaran besar: ancaman tarif baru, eskalasi geopolitik, serta meningkatnya volatilitas suku bunga—kombinasi yang secara historis memberikan tekanan signifikan terhadap pasar kripto.

 

Kegagalan Bitcoin bertahan di atas US$90.000 dan koreksi Ethereum ke bawah US$3.000 mencerminkan penyesuaian ulang terhadap risiko tersebut. Altcoin bahkan mengalami tekanan yang lebih dalam, seiring pelepasan posisi leverage dan pengurangan eksposur risiko.

 

Pola Lama yang Kembali Terjadi

Tekanan jual ini mencerminkan pola yang sudah berulang, di mana pengumuman tarif menguras likuiditas tanpa langsung memicu perlambatan ekonomi secara luas. Tarif sebelumnya juga menjadi salah satu faktor yang membuat pasar kripto bergerak datar pasca-guncangan likuidasi pada Oktober lalu, meskipun minat institusional terus meningkat secara bertahap.

 

Forum Davos kembali menempatkan risiko ini di pusat perhatian pasar.

Walaupun Bessent menekankan ketahanan ekonomi AS dan pertumbuhan sektor swasta yang semakin solid, pasar lebih merespons arah kebijakan dibandingkan narasi optimisme.

 

Penempatan tarif sebagai alat tawar-menawar aktif, bukan sekadar cadangan kebijakan, memperjelas ketidakpastian yang masih berlangsung—dan aset kripto kembali menjadi kelas aset yang paling cepat bereaksi terhadap perubahan tersebut.

 

Untuk saat ini, pesan dari Davos cukup jelas: risiko inflasi akibat perang dagang kembali muncul, dan pasar kripto tengah menyesuaikan diri dengan realitas tersebut.

Sumber: beincrypto.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.