Bisnis | Ekonomi
'Sell America!' Menggema, Dolar AS Anjlok Terburuk dalam 5 Bulan
/index.php
Edukasi - Diposting pada 21 January 2026 Waktu baca 5 menit
Warren Buffett dikenal luas sebagai salah satu individu terkaya di dunia, dengan total kekayaan yang nilainya bahkan bisa disandingkan dengan produk domestik bruto negara kecil.
Meski demikian, kehidupan sehari-hari Buffett jauh dari citra kemewahan yang kerap melekat pada para miliarder. Ia memilih menjalani hidup yang sederhana dan penuh perhitungan, meskipun secara finansial mampu membeli apa pun yang diinginkan.
Bagi Buffett, uang bukan sarana untuk menunjukkan gengsi atau status sosial. Ia memandang uang sebagai alat untuk menciptakan pertumbuhan dan nilai jangka panjang. Setiap dana yang tidak dihabiskan untuk konsumsi berlebihan akan dialokasikan kembali ke investasi agar terus berkembang.
Prinsip ini membuatnya konsisten mempertahankan gaya hidup hemat sejak awal karier, bahkan ketika kekayaannya telah meningkat berkali-kali lipat.
Dikutip dari New Trader U pada Senin (19/1/2026), berikut lima hal yang secara mengejutkan tidak pernah menjadi tempat Warren Buffett menghabiskan uangnya, meskipun ia termasuk orang terkaya di dunia.
1. Mobil Mewah
Alih-alih mengoleksi mobil sport mahal seperti kebanyakan miliarder, Buffett lebih memilih kendaraan yang praktis dan awet. Ia dikenal menggunakan satu mobil dalam waktu lama hingga orang terdekat menyarankan untuk menggantinya. Pilihannya jatuh pada mobil buatan Amerika yang fungsional, bukan sekadar simbol status.
Baginya, mobil hanyalah alat untuk berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Kendaraan mewah cepat mengalami penurunan nilai dan membutuhkan biaya perawatan besar. Oleh karena itu, ia lebih memilih menanamkan uangnya ke instrumen investasi daripada aset yang terdepresiasi cepat.
2. Properti Mewah
Buffett juga tidak tertarik mengikuti tren kepemilikan banyak properti mewah di berbagai negara. Ia tetap tinggal di rumah sederhana di Omaha, Nebraska, yang dibelinya pada 1958 dengan harga 31.500 dolar AS. Rumah tersebut dianggapnya sebagai tempat kenyamanan dan kenangan, bukan sekadar aset finansial.
Menurutnya, kepemilikan banyak properti memerlukan biaya dan waktu yang tidak sedikit, mulai dari pajak, perawatan, asuransi, hingga manajemen. Buffett lebih memilih memfokuskan energinya pada aktivitas produktif seperti membaca laporan keuangan dan menganalisis bisnis.
3. Makanan Mahal dan Koki Pribadi
Dengan kekayaannya, Buffett tentu mampu bersantap di restoran kelas dunia atau mempekerjakan koki pribadi. Namun, pola makannya justru sangat sederhana. Ia kerap membeli sarapan di McDonald’s dan dikenal menyukai Coca-Cola serta es krim Dairy Queen.
Ia memilih makanan berdasarkan kesukaan pribadi, bukan demi citra atau kemewahan. Bagi Buffett, kepuasan makan tidak ditentukan oleh harga, melainkan oleh rasa dan kenyamanan.
4. Fashion dan Aksesori Mewah
Barang-barang seperti jam mahal, jas desainer, dan aksesori eksklusif sering diasosiasikan dengan orang super kaya. Namun, Buffett justru mengenakan pakaian yang sama selama bertahun-tahun, selama masih nyaman dan sesuai kebutuhannya.
Ia tidak melihat nilai dalam mengikuti tren fashion yang cepat berubah. Menghabiskan uang demi gaya dianggapnya bukan keputusan finansial yang cerdas. Dana tersebut lebih baik dialokasikan ke investasi yang memberi imbal hasil.
5. Gadget dan Teknologi Terbaru
Meskipun dekat dengan Bill Gates dan perusahaannya berinvestasi besar di Apple, Buffett dikenal lambat dalam mengadopsi teknologi terbaru. Ia masih menggunakan ponsel lipat hingga tahun 2020 dan baru beralih ke smartphone setelah didorong oleh orang-orang di sekitarnya.
Ia tidak tertarik mengikuti siklus pembelian gadget tahunan yang menurutnya hanya menambah pengeluaran tanpa peningkatan produktivitas yang signifikan. Buffett lebih menikmati membaca koran cetak dan laporan tahunan dibanding menghabiskan waktu di media sosial.
Gaya hidup Warren Buffett menunjukkan bahwa kekayaan sejati bukan soal pamer harta, melainkan tentang kemampuan mengelola uang secara bijak. Kebiasaan hidup hemat dan investasi cerdas yang ia terapkan sejak awal menjadi fondasi kekayaannya saat ini.
Pelajaran penting yang bisa dipetik adalah perlunya kesadaran dalam mengatur pengeluaran berdasarkan nilai dan tujuan hidup, bukan demi memenuhi tekanan sosial. Dengan pendekatan tersebut, kekayaan dapat tumbuh secara berkelanjutan dan memberikan manfaat jangka panjang.
Sumber: kompas.id
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.