Saham News
Saham Bank Tertekan Aksi Jual Asing-Saatnya Waspada atau Justru Peluang?
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 30 December 2024 Waktu baca 5 menit
DIGIVESTASI - Pemerintah tengah mempersiapkan pelaksanaan program Bahan Bakar Campuran Biodiesel 40% (B40) yang direncanakan mulai diterapkan pada 1 Januari 2025. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot memastikan bahwa program B40 akan terlaksana dengan baik.
"Hari ini, tim kami turun untuk memeriksa kesiapan implementasi B40 yang akan dimulai pada awal tahun depan. Menteri ESDM telah mengeluarkan keputusan terkait pelaksanaan ini, dan kami telah melihat kesiapan dari sisi industri Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebagai bahan bakar nabati," ujar Yuliot dalam kunjungannya ke Kilang Pertamina Refinery Unit II Dumai, Riau, yang dikutip dari laman Kementerian ESDM, Minggu (29/12/2024).
Yuliot menyatakan bahwa untuk mendukung penerapan mandatori B40, kebutuhan biodiesel diperkirakan mencapai 15,6 juta kiloliter per tahun. Angka ini mencakup distribusi ke seluruh Indonesia, sehingga kesiapan bahan baku dan rantai pasok menjadi hal utama yang perlu diperhatikan.
Kementerian ESDM juga terbuka terhadap masukan dari berbagai perusahaan untuk mendukung kelancaran pelaksanaan B40. Yuliot menyebutkan bahwa tantangan utama dalam penerapan B40 bukan hanya soal ketersediaan bahan baku, tetapi juga faktor geografis Indonesia yang sangat beragam.
"Kami berharap ada masukan dari Pertamina Patra Niaga dan badan usaha lainnya mengenai tantangan implementasi B40, misalnya di daerah dengan suhu ekstrim seperti Dumai yang panas, atau daerah dataran tinggi dengan suhu lebih rendah. Hal ini perlu menjadi perhatian, baik oleh Pertamina maupun badan usaha lainnya yang akan melaksanakan program B40," jelas Yuliot.
PT Pertamina (Persero) telah menyiapkan dua kilang utama untuk mendukung produksi B40, yakni Refinery Unit III di Plaju, Palembang, dan Refinery Unit VII di Kasim, Papua. Pencampuran biodiesel dengan bahan bakar nabati akan dilakukan oleh Pertamina Patra Niaga.
"Pada umumnya, kilang kami memproduksi bahan bakar B0, dan insya Allah akan siap untuk memproduksi B40. Kilang yang akan memproduksi B40 adalah RU III Plaju dan RU VII Kasim, sedangkan blendingnya akan dilakukan oleh Patra Niaga," kata Direktur Operasi PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Didik Bahagia.
Selain B40, Pertamina juga telah berhasil memproduksi bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) dengan campuran 2,4% bahan bakar berbasis kelapa sawit. Produksi SAF ini dilakukan di Green Refinery Kilang Cilacap melalui metode co-processing.
"Kami dapat mengolah bioavtur dengan kapasitas mencapai 9.000 barel per hari (bph), dengan menggunakan bahan baku Refined Bleached Deodorized Palm Kernel Oil (RBDPKO), hasil turunan dari kelapa sawit. Uji coba telah dilakukan menggunakan pesawat Garuda Indonesia, Boeing 737-800, untuk rute Jakarta-Solo pulang pergi," jelas Didik.
Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita
Sumber: detik.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.