Bisnis | Ekonomi
Utang Luar Negeri RI Tembus Rp7.488 Triliun! Apa Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia?
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 15 November 2023 Waktu baca 5 menit
Presiden Jokowi berhasil membawa pulang hasil kesepakatan bisnis senilai US$25,85 miliar atau setara dengan Rp400 triliun (dengan asumsi kurs Rp15.493 per dolar AS) setelah melakukan pertemuan dengan Presiden AS Joe Biden.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, yang mendampingi Presiden Jokowi dalam kunjungan bilateral tersebut, menyampaikan informasi ini. Retno mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan satu-satunya negara yang diundang untuk bertemu dengan Biden di Gedung Putih sebelum Konferensi Tingkat Tinggi Asia Pasifik (APEC) 2023 di San Fransisco, AS.
"Dalam bidang bisnis, kami telah mencapai kesepakatan kerja sama senilai US$25,85 miliar, termasuk investasi dalam pembangunan carbon capture storage (CCS) dan kilang petrokimia, pengolahan nikel untuk baterai kendaraan listrik (EV), serta pembangunan modul dan panel surya," ungkapnya dalam keterangan pers di saluran YouTube Sekretariat Presiden, pada Selasa (14/11).
Setelah meninggalkan Washington, Presiden Jokowi akan melanjutkan perjalanannya ke San Fransisco untuk menghadiri serangkaian acara APEC, pertemuan pemimpin IPEF, dan berbagai kegiatan lainnya, termasuk pertemuan bisnis dengan para pengusaha Amerika Serikat," tambah Retno.
Retno merinci enam poin penting yang disepakati oleh Jokowi dan Biden pada pertemuan Senin (13/11) di Gedung Putih.
Pertama, Indonesia dan Amerika Serikat sepakat untuk meningkatkan status hubungan bilateral dari kemitraan strategis menjadi Comprehensive Strategic Partnership (CSP). Retno menyebutkan bahwa CSP antara Indonesia dan AS akan menjadi dasar yang kuat untuk memperkuat kerjasama bilateral, terutama di bidang ekonomi.
Kedua, Jokowi dan Biden sepakat akan pentingnya memperkuat kerja sama dalam sumber daya mineral kritis. Rencananya, akan dibuat sebuah rencana menuju pembentukan Critical Mineral Agreement (CMA).
Apabila CMA telah terbentuk, Retno menyatakan bahwa Indonesia akan menjadi pemasok kebutuhan baterai kendaraan listrik di Amerika Serikat secara berkelanjutan dan jangka panjang.
"Kedua pemimpin sepakat akan segera mengimplementasikan Just Energy Transition Partnership (JETP). Presiden RI (Jokowi) menyampaikan harapannya agar Amerika Serikat dapat mendukung upaya percepatan transisi energi di Indonesia, termasuk program early retirement atau pensiun dini PLTU dan pengembangan jaringan transmisi dan distribusi kelistrikan di Indonesia," kata Retno mengenai kesepakatan ketiga.
Keempat, Retno menyebutkan bahwa Indonesia secara resmi terpilih sebagai salah satu mitra International Technology Security and Innovation (ITSI) Fund milik AS. Menurutnya, ini dapat membuka pintu untuk memperkuat rantai pasok semikonduktor.
Kelima, Jokowi menekankan kepada Biden tentang pentingnya perpanjangan generalized system of preferences (GSP) untuk meningkatkan perdagangan Indonesia. GSP adalah pembebasan tarif bea masuk yang diberlakukan oleh AS untuk barang-barang dari negara-negara berkembang.
"Amerika Serikat berkomitmen untuk mendukung aplikasi Indonesia agar dapat menjadi anggota Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD)," tandasnya mengenai poin kesepakatan keenam.
Sumber: CNN Indonesia
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.