Saham News
Saham Bank Tertekan Aksi Jual Asing-Saatnya Waspada atau Justru Peluang?
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 28 August 2025 Waktu baca 5 menit
Kereta Cepat Whoosh diharapkan menjadi simbol kemajuan Indonesia menuju masa depan. Namun kenyataannya, proyek ini justru membawa beban utang miliaran dolar AS dan rangkaian gerbong yang sering kosong.
Proyek yang semula diperkirakan menelan biaya US$6 miliar (Rp97,67 triliun) membengkak menjadi US$7,3 miliar (Rp118,83 triliun). Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kini terbebani pinjaman lebih dari US$5 miliar (Rp81,39 triliun), sebagian besar berasal dari China Development Bank.
Pemerintah sempat menjanjikan bahwa proyek ini akan mencapai titik impas dengan target 16 juta penumpang per tahun. Kenyataannya, bahkan setengah dari angka tersebut belum terpenuhi.
Data KCIC menunjukkan jumlah penumpang hingga akhir Juni 2025 mencapai 2.936.599 orang, naik 10% dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatat 2.668.894 penumpang. Sepanjang 2024, Whoosh hanya berhasil melayani 6,06 juta penumpang.
Kerugian proyek ini sudah mencapai triliunan rupiah, dan perlahan-lahan akan dibebankan kepada pembayar pajak. Ini adalah contoh nyata malinvestasi: dana publik digunakan bukan untuk kebutuhan rakyat, melainkan demi pencitraan politik. Pinjaman murah dari China dan jaminan negara sempat menciptakan ilusi bahwa proyek ini menguntungkan.
Seandainya Hayek melihat, ia mungkin akan menertawakan proyek ini. Pasar tak pernah meminta kereta cepat Jakarta-Bandung, namun para pengambil keputusan tetap membangunnya. Kini tanda-tanda kerugian terlihat jelas dari tahun ke tahun, dan yang lebih buruk lagi, Whoosh hanyalah awal dari masalah yang lebih besar.
Diperkirakan, utang publik akan mencapai 40% dari PDB pada 2025, melonjak dari sekitar 30% hanya setahun sebelumnya. Pemerintahan baru bahkan merencanakan tambahan pinjaman Rp775 triliun untuk proyek-proyek mercusuar berikutnya.
Mereka mencoba menenangkan publik dengan mengatakan bahwa rasio utang masih di bawah rata-rata global. Namun, ini terdengar seperti alasan seorang pecandu yang mencari dosis tambahan. Utang tidak menciptakan kemakmuran; utang hanya memberikan fatamorgana.
Kereta ini dibangun menuju tujuan yang tak pasti, melewati stasiun-stasiun yang tak pernah diminta rakyat. Modal yang seharusnya mendorong inovasi bisnis malah tersedot untuk proyek prestisius. Hasilnya, bukannya keuntungan yang didapat, melainkan subsidi yang terus mengalir.
Faktanya sederhana: Whoosh tidak akan mencapai titik impas bahkan dalam 40 tahun mendatang. Saat itu tiba, keretanya akan berkarat, relnya aus, dan lingkaran utang baru sudah menunggu giliran. Ini bukan pembangunan; ini panggung sandiwara utang.
Indonesia kini berada pada persimpangan jalan: terus memelihara ilusi bahwa pinjaman membawa kemakmuran, atau bangun dari mimpi ini. Pasar—bukan birokrat, bukan Beijing, bukan perencana di Jakarta—yang seharusnya menentukan arah penempatan modal.
Jika peringatan ini diabaikan, Whoosh akan dikenang bukan sebagai simbol kemajuan, melainkan sebagai pelajaran pahit.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.