Purbaya: RI Berpotensi Dapat 'Durian Runtuh' dari Dampak Perang Iran

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 13 March 2026 Waktu baca 5 menit

Menkeu Purbaya Yudi Sadewa. (Foto: Istimewa)

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan bahwa harga sejumlah komoditas ekspor utama Indonesia berpotensi meningkat akibat pecahnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Kondisi ini membuka peluang munculnya keuntungan tak terduga atau windfall profit yang dapat mendorong peningkatan penerimaan negara.

 

Lonjakan harga komoditas ekspor seperti batu bara, minyak kelapa sawit mentah (CPO), hingga nikel diperkirakan dapat menjadi penyeimbang terhadap risiko kenaikan harga minyak mentah global yang berpotensi memperbesar kebutuhan belanja subsidi energi dalam APBN 2026. Pasalnya, konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah turut mengganggu salah satu jalur vital perdagangan minyak dan gas dunia, yaitu Selat Hormuz.

 

“Walaupun ada potensi kenaikan subsidi energi serta meningkatnya beban bunga utang, di tengah peluang windfall profit dari komoditas seperti batu bara, CPO, dan nikel, pemerintah tetap terus memantau perkembangan situasi secara ketat. Pemerintah juga memastikan instrumen APBN bekerja secara responsif serta menjaga pengelolaan fiskal tetap prudent agar kebijakan yang diambil tetap terukur untuk menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN di kantornya, seperti dikutip pada Kamis (12/3/2026).

 

Purbaya menjelaskan bahwa harga batu bara sepanjang tahun berjalan telah meningkat sekitar 28% hingga 10 Maret 2026, mencapai US$107,5 per ton. Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, dengan kenaikan sebesar 4,1% secara tahunan.

 

Ia menambahkan bahwa kenaikan harga batu bara juga dipicu oleh efek substitusi, di mana sejumlah negara di kawasan Eropa dan Asia mulai mencari sumber energi alternatif akibat terganggunya pasokan minyak dan gas alam cair.

 

Di sisi lain, harga CPO telah meningkat sekitar 14% secara year to date (ytd) menjadi US$1.110,47 per ton. Namun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, harga tersebut masih mencatat penurunan sebesar 2,8%.

 

Komoditas nikel juga mengalami kenaikan sekitar 4,9% secara ytd hingga mencapai US$17.469 per ton, serta naik 12,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal serupa juga terjadi pada tembaga yang meningkat 4,3% ytd menjadi US$12.954 per ton, dengan lonjakan yang cukup besar secara tahunan yaitu 40,3%. Sementara itu, harga emas tercatat naik 19,5% secara ytd menjadi US$5.164,39 per troy ounce, serta melonjak 75,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

 

Purbaya menyampaikan bahwa harga emas masih berada dalam tren peningkatan karena adanya perubahan sentimen pasar yang beralih menuju aset yang dianggap lebih aman atau safe haven. Di sisi lain, harga komoditas mineral seperti nikel dan tembaga juga mengalami kenaikan dan tetap memberikan dukungan kuat terhadap kinerja penerimaan negara.

 

Adapun harga minyak mentah dunia yang menjadi acuan, seperti minyak Brent, telah meningkat sekitar 47,1% secara year to date hingga mencapai US$89,9 per barel. Namun demikian, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu dengan kontraksi sebesar 8,2%.

 

Purbaya juga menyebut bahwa harga minyak Brent sempat menembus level US$100 per barel. Namun saat ini harga tersebut telah mengalami koreksi setelah adanya pernyataan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memperkirakan bahwa perang akan segera berakhir.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

TAG :