Edukasi
7 Profesi Baru Bergaji Fantastis! Penghasilan Bisa Tembus Rp2 Miliar, Banyak Diburu Perusahaan
/index.php
Saham News - Diposting pada 19 May 2026 Waktu baca 5 menit
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di zona merah sepanjang sesi perdagangan Senin (18/5/2026). Pelemahan indeks disebut masih dipengaruhi hasil rebalancing MSCI serta rencana FTSE Russell yang akan menghapus saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) sejak diumumkan pada Rabu (13/5).
Meski demikian, sentimen dari dua penyedia indeks global tersebut bukan menjadi satu-satunya faktor utama. Pergerakan IHSG juga sejalan dengan tekanan yang dialami sejumlah bursa utama di kawasan Asia.
Mengacu pada data RTI Business, IHSG terkoreksi 1,85% ke posisi 6.599,24. Pelemahan indeks saham domestik bergerak searah dengan pasar Asia, termasuk Nikkei 225 Index (N225) yang turun 0,97% ke level 60.815,89.
Selanjutnya, pasar saham China juga bergerak melemah, di mana Hang Seng Index (HSI) turun 1,11% ke posisi 25.675,17 dan Shanghai Composite Index (SSEC) terkoreksi 0,09% menjadi 4.131,52. Sementara itu, Straits Times Index (STI) di Singapura justru menguat 0,15% ke level 4.996,75.
“Pergerakan IHSG hari ini tidak hanya dipengaruhi MSCI dan FTSE, tetapi juga tekanan dari pasar global serta regional Asia,” ujar Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, kepada detikcom, Senin (18/5/2026).
Di sisi lain, konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran turut memberi tekanan terhadap IHSG setelah memicu kenaikan harga minyak mentah dunia. Herditya menyebut harga minyak saat ini telah berada di atas US$100 per barel.
Dari faktor domestik, pelemahan IHSG juga dipicu oleh kurs rupiah terhadap dolar AS yang sempat menyentuh Rp17.676 per dolar AS. Kombinasi berbagai sentimen tersebut kembali memunculkan kekhawatiran investor di pasar modal Indonesia.
“Situasi ini kembali meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi tekanan inflasi ke depan serta perlambatan ekonomi global,” ujarnya.
Pelaksana tugas Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa bursa saham Asia mengalami koreksi cukup dalam selama dua hari perdagangan terakhir. Tekanan dari pasar Asia tersebut kemudian tercermin pada pelemahan IHSG hari ini.
“Kalau diperhatikan, tingkat ketidakpastian di pasar masih cukup tinggi. Selain itu, saat pasar domestik libur pada Kamis dan Jumat lalu, pasar global khususnya Asia juga mengalami koreksi,” kata Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Senin (18/5/2026).
Jeffrey menambahkan, selain dipengaruhi pelemahan bursa Asia, koreksi IHSG saat ini juga dipicu sentimen global. Meski demikian, menurutnya arah pelemahan IHSG masih sejalan dengan mayoritas pasar saham Asia.
Ia juga meminta investor agar tidak panik dalam menghadapi dinamika pasar global. Menurut Jeffrey, investor perlu mempertimbangkan fundamental perusahaan serta melakukan analisis matang sebelum menentukan keputusan investasi.
“Ditambah koreksi tambahan yang terjadi hari ini di pasar global, pergerakan IHSG masih sejalan dengan kondisi pasar internasional. Namun memang ketidakpastian di pasar domestik masih cukup tinggi,” jelasnya.
Pengamat pasar modal Reydi Octa mengatakan para investor saat ini tengah menata ulang portofolio investasinya di pasar modal Indonesia. Langkah tersebut juga dipengaruhi pengumuman MSCI dan FTSE Russell pada pekan lalu.
“Pasar menilai kebijakan ini berpotensi mendorong penyesuaian portofolio lanjutan baik dari investor asing maupun dana pasif, khususnya pada saham dengan free float terbatas dan likuiditas yang kurang optimal,” ujar Reydi kepada detikcom.
Ia menjelaskan investor tidak akan terburu-buru mengambil keputusan investasi baru di pasar modal Indonesia. Menurutnya, proses penyesuaian portofolio diperkirakan berlangsung dalam beberapa minggu ke depan.
“Biasanya proses rebalancing dilakukan secara bertahap dalam hitungan hari hingga beberapa minggu, tergantung profil risiko, tujuan investasi, dan kondisi likuiditas pasar,” tutupnya.
Sumber: detik.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.