IHSG Tertekan! MSCI & FTSE Russell Kompak Keluarkan Saham RI, Investor Mulai Waspada

Saham News - Diposting pada 15 May 2026 Waktu baca 5 menit

Pasar saham Indonesia kembali menghadapi tekanan setelah dua penyedia indeks global, MSCI dan FTSE Russell, mengambil kebijakan yang dianggap memberikan sinyal negatif terhadap kualitas serta likuiditas sejumlah saham domestik.

 

Keputusan tersebut tidak hanya memicu pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terkait menurunnya daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor internasional.

 

Sejumlah saham Indonesia keluar dari indeks global

Dalam evaluasi berkala indeks Mei 2026, MSCI menghapus enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Indexes.

Enam emiten yang dikeluarkan tersebut adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

 

Sementara itu, saham AMRT dipindahkan ke MSCI Small Cap Indexes. Selain itu, MSCI juga mencoret 13 saham lainnya dari MSCI Small Cap Indexes, termasuk ANTM, AALI, BSDE, SIDO, hingga MIKA.

Tekanan pasar semakin bertambah setelah FTSE Russell mengumumkan rencana penghapusan saham dengan kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari indeksnya.

 

FTSE bahkan membuka kemungkinan pemberian penilaian price to zero terhadap saham dengan tingkat konsentrasi kepemilikan yang terlalu tinggi.

Langkah tersebut dinilai menjadi peringatan serius bagi pasar modal Indonesia karena berkaitan dengan isu likuiditas dan kemudahan transaksi bagi investor global, khususnya pengelola dana pasif berbasis indeks.

 

IHSG melemah tajam, asing ramai melakukan aksi jual

Pengumuman tersebut langsung memberikan tekanan besar terhadap pasar. Pada perdagangan Rabu (13/5/2026), IHSG ditutup turun 1,98 persen ke level 6.723,32.

Sejumlah saham yang keluar dari indeks MSCI mengalami penurunan signifikan. Saham TPIA merosot 14,85 persen, BREN turun 11,36 persen, DSSA melemah 11,16 persen, dan CUAN anjlok 10,05 persen.

 

Investor asing juga tercatat melakukan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp1,53 triliun di seluruh pasar. Secara year to date (ytd), total net sell asing telah mencapai Rp40,25 triliun.

 

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menyebut dampak rebalancing MSCI kali ini tetap cukup besar terhadap arus modal asing, walaupun sebagian pelaku pasar sebenarnya sudah memperkirakan keputusan tersebut sejak beberapa minggu sebelumnya.

 

Menurutnya, saham-saham yang dikeluarkan dari indeks global masih berpotensi mengalami volatilitas tinggi dalam jangka pendek akibat tekanan jual asing dan penyesuaian portofolio institusi global.

 

“Sebaliknya, saham-saham defensif dan berbasis domestik justru relatif lebih diuntungkan karena dianggap lebih mampu bertahan dari tekanan eksternal,” ujar Hendra.

 

Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, menilai berkurangnya jumlah saham Indonesia di indeks MSCI dapat mengurangi peluang masuknya capital inflow ke pasar domestik.

 

Pasalnya, indeks global seperti MSCI selama ini menjadi salah satu acuan utama investor internasional dalam menentukan alokasi investasi di pasar negara berkembang.

 

BEI menilai ketidakpastian pasar mulai berkurang

Di tengah tekanan yang terjadi di pasar, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) justru menilai pengumuman MSCI membawa sisi positif karena membantu mengurangi ketidakpastian yang sebelumnya membayangi pasar.

 

Pejabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan pelaku pasar sebelumnya cenderung mengambil sikap wait and see sambil menunggu hasil keputusan MSCI.

 

Menurut Jeffrey, setelah hasil rebalancing diumumkan, setidaknya satu faktor ketidakpastian di pasar telah berkurang.

“Dengan apa yang disampaikan oleh MSCI hari ini, satu unsur ketidakpastian di pasar telah berkurang,” ujar Jeffrey dalam konferensi pers di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta.

 

Jeffrey optimistis pasar saham domestik masih memiliki peluang untuk pulih apabila ketidakpastian global mulai mereda serta didukung kerja sama antara regulator, emiten, dan pelaku pasar.

 

Regulator diminta memperbaiki transparansi pasar

Di sisi lain, regulator dinilai perlu melakukan berbagai pembenahan agar kepercayaan investor global terhadap pasar saham Indonesia dapat kembali meningkat.

 

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menilai reformasi yang dilakukan regulator selama ini masih bersifat reaktif.

 

Menurutnya, persoalan free float efektif, transparansi beneficial ownership, hingga konsentrasi kepemilikan saham seharusnya sudah diperbaiki sebelum menjadi perhatian MSCI dan FTSE Russell.

Sementara itu, sejumlah analis menilai kondisi saat ini dapat menjadi momentum evaluasi bagi investor sekaligus peluang untuk melakukan akumulasi pada saham-saham dengan fundamental kuat yang telah terkoreksi cukup dalam.

 

Pengamat Pasar Modal dan Co-Founder PasarDana, Hans Kwee, memperkirakan IHSG berpotensi kembali bergerak menuju kisaran 7.600–7.800 hingga akhir 2026, dengan catatan tensi geopolitik global mulai mereda dan tekanan akibat rebalancing indeks telah selesai.

Sumber: kompas.id

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.