Pasar Saham Asia Merosot Tajam Setelah Israel Melancarkan Serangan Militer Ke Wilayah Iran

Teknologi Terkini - Diposting pada 14 June 2025 Waktu baca 5 menit

Foto yang dirilis oleh saluran Telegram resmi Korps Garda Revolusi Iran, Sepah News, Jumat (13/6/2025) menunjukkan asap mengepul dari sebuah lokasi yang dilaporkan menjadi sasaran serangan Israel di ibu kota Iran, Teheran.(SEPAH NEWS via AFP)

Serangan Israel ke Iran Guncang Pasar Asia, Bursa Tertekan dan Harga Minyak Melonjak

Pasar saham Asia mengalami tekanan tajam pada perdagangan Jumat pagi, dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah setelah Israel meluncurkan serangan militer besar-besaran ke Iran. Ketegangan geopolitik tersebut langsung mengguncang sentimen investor global, yang berbondong-bondong mengalihkan aset ke instrumen aman seperti emas dan mata uang franc Swiss.

Langkah militer Israel yang dijuluki “Operation Rising Lion” menargetkan sejumlah lokasi strategis di Iran, termasuk fasilitas nuklir, pusat misil, serta menewaskan komandan senior Garda Revolusi, Jenderal Hossein Salami, menurut laporan sejumlah media internasional seperti Reuters dan The Star.

 

Indeks Saham Asia Melemah Serentak

Dampaknya langsung terasa di bursa kawasan. Indeks Nikkei Jepang terkoreksi 1,2%, Kospi Korea Selatan melemah 1,1%, dan Hang Seng Hong Kong turun 0,8%. Koreksi ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi perluasan konflik dan implikasinya terhadap rantai pasok global.

Sementara itu, pasar berjangka AS juga terpukul. Futures S&P E-mini tercatat melemah 1,7%, Nasdaq futures jatuh 1,8%, dan indeks STOXX 50 Eropa ikut terkoreksi 1,6%, sebagaimana dilaporkan Reuters.

 

Lonjakan Harga Komoditas dan Reli Safe-Haven

Gejolak geopolitik ini juga menyebabkan lonjakan harga komoditas. Harga minyak mentah Brent naik hampir 9% ke level US$75,36 per barel, sedangkan WTI melonjak ke US$74,20 per barel. Harga emas juga menguat 1,5%, mendekati level tertingginya, seiring peningkatan permintaan aset pelindung nilai.

Di sisi mata uang, franc Swiss dan yen Jepang menunjukkan penguatan signifikan, mencerminkan pergerakan investor ke aset yang dianggap lebih aman. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun ke posisi terendah satu bulan di 4,31%.

 

India Ikut Terdampak, Tapi Potensi Rebound Masih Terbuka

Di pasar India, tekanan turut terasa. Indeks Sensex jatuh lebih dari 1.100 poin, dan Nifty tergelincir di bawah level 24.650, terdorong oleh kekhawatiran atas lonjakan harga minyak serta tekanan eksternal dari pasar global.

Meski demikian, sejumlah analis memproyeksikan bahwa pelemahan ini bersifat sementara. Xu Tiachen dari Economist Intelligence Unit menilai bahwa eksposur langsung Asia terhadap konflik bersenjata tetap terbatas, dan hubungan dagang strategis dengan negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi dan UEA dapat menopang pemulihan pasar dalam waktu dekat.

 

Serangan Israel ke Iran telah menciptakan gelombang kekhawatiran global, yang langsung tercermin dalam koreksi tajam bursa Asia, lonjakan harga minyak, dan peningkatan permintaan aset safe-haven. Meskipun ada potensi pemulihan, pasar masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, dan pelaku pasar diimbau tetap waspada terhadap potensi eskalasi lanjutan.

 

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.