Cadangan Devisa RI Turun ke US$144,9 Miliar, Terendah dalam Hampir 2 Tahun

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 08 June 2026 Waktu baca 5 menit

Bank Indonesia melaporkan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 mencapai US$144,9 miliar atau setara sekitar Rp2.590,2 triliun berdasarkan kurs JISDOR 29 Mei 2026 yang berada di level Rp17.883 per dolar AS. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan posisi pada bulan sebelumnya yang tercatat sebesar US$146,2 miliar.

 

Jika melihat data historis dalam periode yang lebih panjang, posisi cadangan devisa sebesar US$144,9 miliar tersebut menjadi level terendah sejak Juni 2024, ketika cadangan devisa berada di angka US$140,2 miliar. Dengan demikian, posisi saat ini merupakan titik terendah dalam kurun waktu sekitar 23 bulan terakhir.

 

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa penurunan cadangan devisa dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan Bank Indonesia. Faktor tersebut terjadi di tengah adanya penerimaan dari sektor pajak, jasa, serta hasil penerbitan obligasi global (global bond) pemerintah.

 

Dalam keterangannya pada Senin (8/6/2026), Denny menyampaikan bahwa kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan Bank Indonesia merupakan respons terhadap tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global serta meningkatnya permintaan valuta asing musiman dari dalam negeri.

 

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2026 setara dengan kemampuan pembiayaan impor selama 5,6 bulan atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut juga masih berada di atas standar kecukupan internasional yang umumnya berada pada level sekitar tiga bulan impor.

 

Oleh karena itu, Bank Indonesia menilai bahwa cadangan devisa saat ini masih cukup kuat untuk menopang ketahanan sektor eksternal sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional. Bank sentral juga meyakini bahwa kondisi eksternal Indonesia akan tetap terjaga berkat tingkat cadangan devisa yang masih memadai.

 

Denny menambahkan bahwa keyakinan tersebut juga didukung oleh persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian domestik serta tingkat imbal hasil investasi yang masih menarik.

 

Ia juga menegaskan bahwa Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah guna meningkatkan ketahanan sektor eksternal, menjaga stabilitas ekonomi nasional, dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

 

Sebagai informasi, dalam beberapa waktu terakhir nilai tukar rupiah memang terus mengalami tekanan. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, kurs rupiah tercatat berada di level Rp18.039 per dolar AS pada perdagangan Jumat (5/6/2026).

 

Posisi tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 7,86% dibandingkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada awal tahun. Bahkan, level Rp18.039 per dolar AS tersebut menjadi nilai tukar terendah yang pernah tercatat dalam sejarah Indonesia.

Sumber: bisnis.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.