Saham News
Rekomendasi Saham Hari Ini: ADMR, ITMG dan Deretan Saham Pilihan Berpotensi Cuan
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 09 June 2026 Waktu baca 5 menit
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menunjukkan pergerakan yang fluktuatif pada perdagangan Selasa (9/6/2026), meskipun sempat dibuka dengan kenaikan lebih dari 1% pada awal sesi perdagangan.
Setelah sempat mencapai level 5.428, indeks mengalami pergerakan yang cukup tajam naik turun sebelum akhirnya berada di posisi 5.391,47 atau menguat 0,92% pada sekitar pukul 09.19 WIB.
Pergerakan IHSG yang cukup dinamis pada pagi hari ini mencerminkan bahwa pasar domestik masih berada dalam tahap mencari titik keseimbangan setelah sebelumnya diterpa tekanan jual besar dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.
Dari sudut pandang teknikal maupun psikologis, kenaikan signifikan saat pembukaan lebih menggambarkan adanya aksi pembelian pada saham-saham yang dinilai murah (bargain hunting) dibandingkan perubahan sentimen pasar secara menyeluruh.
Penguatan IHSG pada awal perdagangan terutama didorong oleh saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) yang memberikan kontribusi paling besar terhadap pergerakan indeks. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menjadi kontributor utama dengan sumbangan sekitar 24 poin terhadap indeks, diikuti oleh PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), serta PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).
Menariknya, penguatan pada pagi ini terjadi meskipun sejumlah saham perbankan besar masih menjadi faktor penekan indeks. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tercatat sebagai pemberat terbesar IHSG dengan kontribusi negatif sekitar 4,7 poin, disusul oleh PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT United Tractors Tbk (UNTR).
Fenomena tersebut mengindikasikan bahwa pelaku pasar mulai memandang valuasi beberapa saham big caps di luar sektor perbankan sebagai peluang investasi yang menarik setelah mengalami koreksi dalam beberapa waktu terakhir. Selain itu, kenaikan pada saham sektor telekomunikasi, ritel, dan komoditas turut membantu menjaga sentimen pasar tetap positif.
Sebagai informasi, saham TLKM menguat setelah perusahaan mengumumkan pembagian dividen dengan tingkat imbal hasil yang menarik. TLKM berencana membagikan dividen tunai yang berasal dari laba bersih tahun buku 2025 sebesar 123% dari laba bersih, atau senilai Rp21,9 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp4,2 triliun berasal dari saldo laba ditahan perusahaan pada tahun sebelumnya.
Keputusan tersebut telah memperoleh persetujuan para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diselenggarakan hari ini. Dividen tunai yang akan dibagikan setara dengan Rp221 per saham.
Jika dihitung menggunakan harga penutupan saham sehari sebelumnya, dividen yang ditawarkan TLKM memberikan potensi dividend yield sekitar 9%.
Di sisi lain, kondisi eksternal juga terlihat lebih kondusif dibandingkan saat terjadi gelombang aksi jual besar sebelumnya. Meskipun rupiah masih bergerak di kisaran Rp18.160 per dolar AS, laju pelemahannya mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Situasi ini sedikit mengurangi kekhawatiran investor terhadap kemungkinan tekanan lanjutan di pasar keuangan domestik.
Walaupun demikian, tingkat volatilitas diperkirakan masih akan tetap tinggi sepanjang perdagangan berlangsung. Hal ini terlihat dari pergerakan indeks yang sempat melonjak lebih dari 1,5% saat pembukaan, kemudian terkoreksi dengan cepat sebelum kembali menguat.
Dari sisi pergerakan saham, kondisi pasar pada pagi hari ini masih tergolong cukup positif. Sebanyak 335 saham mengalami kenaikan, 262 saham mengalami penurunan, dan 362 saham bergerak tanpa perubahan. Hal ini menunjukkan bahwa penguatan IHSG tidak hanya ditopang oleh beberapa saham berkapitalisasi besar, tetapi juga mulai didukung oleh lebih banyak saham lainnya.
Secara teknikal, rebound yang terjadi pada pagi hari ini belum sepenuhnya mengubah tren pelemahan yang telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. Meskipun indeks sempat menguat lebih dari 1%, posisinya masih berada cukup jauh di bawah area resistance penting sehingga potensi volatilitas yang tinggi masih tetap terbuka. Saat ini, area 5.300 menjadi level yang sangat diperhatikan oleh pelaku pasar sebagai zona pertahanan utama setelah tekanan jual besar yang terjadi dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.