Saham News
Lo Kheng Hong Hadiri RUPS Ramayana Lestari Sentosa! Terungkap Jumlah Saham RALS yang Dimilikinya
/index.php
Berita Terkini - Diposting pada 11 May 2026 Waktu baca 5 menit
Penyakit hantavirus kembali mendapat perhatian setelah dalam dua tahun terakhir sejumlah kasus ditemukan di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan puluhan orang terinfeksi virus yang ditularkan melalui tikus dan hewan pengerat lainnya tersebut. Sorotan terhadap penyakit ini semakin meningkat setelah adanya laporan meninggalnya seorang penumpang kapal pesiar MV Hondius akibat infeksi hantavirus varian Andes Virus. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengingatkan potensi peningkatan kasus apabila pengendalian kesehatan masyarakat tidak dijalankan secara ketat.
Andes Virus umumnya ditemukan di kawasan Amerika Selatan dan dikenal sebagai penyebab utama Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yaitu penyakit yang menyerang paru-paru dengan tingkat kematian tinggi. Sementara itu, di Indonesia Kemenkes mencatat terdapat 23 kasus hantavirus sepanjang periode 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 20 pasien dinyatakan sembuh dan tiga orang meninggal dunia.
Secara keseluruhan, tercatat 251 kasus suspek hantavirus pada periode tersebut, dengan rincian 225 kasus negatif dan tiga kasus tidak dapat diperiksa. Jumlah kasus terbanyak terjadi pada 2025 dengan 17 kasus, disusul tahun 2026 hingga minggu ke-16 sebanyak lima kasus, serta satu kasus pada 2024.
Penyebaran kasus hantavirus di Indonesia meliputi Jakarta sebanyak enam kasus, Yogyakarta enam kasus, Jawa Barat lima kasus, serta masing-masing satu kasus di Jawa Timur, Banten, Sumatra Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Barat.
Dalam laporan terbarunya, Kemenkes menjelaskan bahwa hantavirus disebabkan oleh orthohantavirus yang memiliki sekitar 50 varian, di mana 24 di antaranya dapat menginfeksi manusia. Beberapa jenis yang diketahui dapat menular pada manusia antara lain Seoul Virus, Hantaan Virus, Andes Virus seperti yang ditemukan pada kasus MV Hondius, dan Sin Nombre Virus.
Infeksi hantavirus pada manusia terbagi menjadi dua bentuk klinis. Bentuk pertama adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang ditandai dengan gejala seperti demam, nyeri tubuh, tubuh lemas, batuk, hingga sesak napas. Masa inkubasi penyakit ini berkisar 14–17 hari dengan tingkat kematian mencapai 60%.
Bentuk kedua adalah Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yang memiliki gejala berupa demam, sakit kepala, nyeri badan, tubuh lemas, serta kondisi tubuh menguning. Masa inkubasi tipe ini berkisar satu hingga dua minggu dengan tingkat kematian sekitar 5–15%, lebih rendah dibandingkan HPS.
Di Indonesia sendiri, seluruh 23 kasus hantavirus yang terdeteksi termasuk tipe HFRS yang berasal dari varian Seoul Virus. Faktor risiko utama penularannya adalah kontak langsung dengan tikus atau celurut maupun paparan terhadap cairan ekskresi dan sekresi hewan tersebut.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.