Saudi Aramco Raup Rp561 Triliun! Strategi Cerdik Saudi Amankan Jalur Minyak Tanpa Selat Hormuz Terungkap

Saham News - Diposting pada 11 May 2026 Waktu baca 5 menit

Di tengah memanasnya perang yang mengganggu aktivitas di Selat Hormuz, raksasa energi dunia Saudi Aramco justru berhasil mencatat lonjakan keuntungan yang sangat besar. Perusahaan milik negara Arab Saudi tersebut melaporkan kenaikan laba bersih sebesar 25% pada kuartal pertama 2026.
 

Kondisi ini menunjukkan bahwa Aramco memiliki jalur alternatif tersendiri untuk menghindari area konflik. Laba perusahaan melonjak hingga mencapai USD32,5 miliar atau sekitar Rp561 triliun dengan asumsi kurs Rp17.264 per dolar AS untuk periode yang berakhir pada 31 Maret. Kenaikan tersebut terjadi ketika dunia sedang menghadapi gangguan pasokan energi dan lonjakan harga minyak mentah global akibat perang antara AS dan Israel melawan Iran.


Strategi Jalur Alternatif Melalui Laut Merah

Keberhasilan Aramco tersebut bukan semata-mata faktor keberuntungan. Ketika Iran secara efektif mengendalikan Selat Hormuz—jalur vital yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia—Aramco mengambil langkah strategis dengan mengalihkan jalur ekspornya. CEO Aramco, Amin Nasser, mengungkapkan bahwa perusahaan memaksimalkan penggunaan Pipa Timur-Barat (East-West Pipeline).


Pipa raksasa tersebut membentang melintasi wilayah Arab Saudi dan menyalurkan minyak langsung dari ladang minyak di bagian timur menuju Laut Merah, sehingga kapal tanker tidak perlu melewati Selat Hormuz yang tengah berada dalam kondisi blokade dan berisiko tinggi.


“Pipa Timur-Barat kami saat ini beroperasi pada kapasitas penuh sebesar 7 juta barel per hari,” ujar Nasser.

Ia menambahkan bahwa langkah tersebut membantu mengurangi dampak gejolak energi global sekaligus memberikan kepastian pasokan kepada pelanggan Aramco.

 

Harga Minyak Global Masih Tinggi

Walaupun Saudi berhasil mengalihkan sebagian distribusi ekspornya, pasar energi global masih berada dalam tekanan. Pada Minggu, harga minyak mentah Brent kembali naik 2,58% menjadi USD103,91 per barel.

 

Harga tersebut memang masih lebih rendah dibanding puncak harga saat konflik yang sempat mencapai USD119 per barel, namun tetap jauh lebih tinggi dibandingkan kisaran normal sekitar USD70 sebelum perang pecah pada akhir Februari lalu.

 

Nasser menegaskan bahwa perkembangan terbaru menjadi pengingat penting bahwa stabilitas pasokan energi sangat menentukan kondisi ekonomi dunia.

 

“Keamanan energi sangat penting, dan Aramco fokus memanfaatkan infrastruktur domestik serta jaringan global kami untuk menghadapi gangguan ini,” tambahnya.

Sumber: sindonews.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.