Edukasi
Fear & Greed Index Global Tertekan Geopolitik: Sinyal Ketakutan atau Peluang di Pasar?
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 21 May 2025 Waktu baca 5 menit
Di tengah kekhawatiran pasar terkait kondisi fiskal Amerika Serikat, CEO JP Morgan, Jamie Dimon, memperingatkan bahwa para investor saat ini terlalu mengabaikan risiko-risiko yang dapat mengancam perekonomian, terutama setelah lembaga pemeringkat Moody's menurunkan peringkat kredit tertinggi AS.
Moody's secara resmi memangkas peringkat surat utang pemerintah AS dari Aaa menjadi Aa1. Ini berarti untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, Amerika Serikat kehilangan status triple-A dari ketiga lembaga pemeringkat utama secara bersamaan. Keputusan ini diambil karena meningkatnya kekhawatiran terhadap defisit anggaran yang sangat besar dan utang nasional yang terus bertambah, yang saat ini telah mencapai US$36,2 triliun.
Dalam pidato yang disampaikan saat acara Investor Day JP Morgan di New York, Dimon menyatakan bahwa pasar terlihat terlalu tenang dalam menyikapi peringatan mengenai kondisi fiskal yang memburuk dan kegagalan kebijakan pemerintah.
"Kita menghadapi defisit yang sangat besar, dan menurut saya bank sentral terlalu pasif. Kalian semua berasumsi bahwa mereka mampu mengendalikan situasi. Namun saya tidak begitu yakin," ujar Dimon, dikutip dari The Guardian.
Ia juga menambahkan bahwa risiko terjadinya stagflasi sebenarnya jauh lebih tinggi daripada yang disadari oleh mayoritas investor saat ini. "Ada tingkat kepuasan diri yang sangat besar," tambahnya.
Penurunan peringkat dari Moody's ini terjadi di saat Presiden Donald Trump tengah berupaya untuk mendorong pengesahan RUU pemotongan pajak dan pengeluaran tambahan melalui Kongres — sebuah program ambisius yang diperkirakan dapat meningkatkan total utang negara hingga US$5 triliun dalam sepuluh tahun ke depan.
Dalam pernyataan resminya, Moody's menyampaikan bahwa baik pemerintahan AS maupun Kongres secara berkelanjutan gagal mencapai kesepakatan dalam hal menahan tren defisit anggaran tahunan yang besar serta membengkaknya biaya bunga.
"Kami tidak melihat bahwa kebijakan fiskal yang saat ini diusulkan akan mampu menghasilkan pemotongan belanja dan pengurangan defisit yang signifikan," sebut Moody's.
Lembaga itu juga memperingatkan bahwa dalam sepuluh tahun mendatang, defisit fiskal AS kemungkinan akan semakin membesar akibat meningkatnya pengeluaran wajib, sementara pendapatan pemerintah diprediksi tidak akan mengalami pertumbuhan yang signifikan.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dalam wawancaranya dengan NBC, mencoba meremehkan dampak penurunan peringkat tersebut, dengan menyebut Moody's sebagai indikator yang tertinggal.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait keputusan pemeringkatan tersebut.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.