Saham News
Breaking News: Harga Minyak Dunia Melonjak, IHSG Terkoreksi Lebih dari 1%
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 27 June 2025 Waktu baca 5 menit
Harga batu bara mengalami penurunan dalam dua hari terakhir, memberikan sinyal bahaya bagi Indonesia. Di tengah tren penurunan ini, batu bara asal Indonesia harus bersaing lebih keras untuk mempertahankan pasar ekspornya di berbagai negara.
Menurut data Refinitiv, harga batu bara pada Rabu (25 Juni 2025) ditutup di angka US$ 109,1 per ton, turun sebesar 0,73%. Ini memperpanjang tren negatif batu bara, yang dalam dua hari terakhir telah mengalami penurunan total sebesar 3,4%.
Di tengah penurunan harga global, Indonesia harus menghadapi kenyataan bahwa mempertahankan pasar ekspor batu bara kini jauh lebih sulit.
Seperti dilaporkan oleh Reuters, dua konsumen utama batu bara termal dunia—China dan India—terus mengurangi pembelian dari Indonesia. Keduanya kini lebih memilih batu bara dengan kalori tinggi dari negara lain karena harganya kini lebih bersaing berkat penurunan harga global.
Sebagai eksportir batu bara termal terbesar di dunia yang digunakan untuk pembangkit listrik, posisi Indonesia kini dalam ancaman serius.
| Negara | 2021 | 2022 | 2023 |
|---|---|---|---|
| Indonesia | 436 | 473 | 500 |
| Australia | 370 | 350 | 348 |
| Rusia | 215 | 192 | 221 |
| Amerika Serikat | 77 | 76 | 84 |
| Afrika Selatan | 63 | 70 | 70 |
| Kolombia | 55 | 53 | 57 |
Data menunjukkan bahwa pembelian dari China dan India terhadap batu bara Indonesia menurun lebih cepat dibandingkan total penurunan impor batu bara termal mereka secara keseluruhan. Kedua negara tersebut kini beralih ke batu bara dengan nilai kalor (CV) yang lebih tinggi, karena lebih efisien dalam menghasilkan energi per ton.
Vasudev Pamnani, Direktur di perusahaan perdagangan batu bara I-Energy Natural Resources yang berbasis di India, mengatakan: “Batu bara dengan kalori tinggi memang lebih mahal, tetapi menghasilkan lebih banyak energi per dolar. Satu juta ton batu bara dengan CV tinggi dapat menggantikan 1,2–1,5 juta ton batu bara asal Indonesia.”
Menurut analis Kpler, Zhiyuan Li, batu bara Indonesia dengan kalori sedang dan rendah kini kalah bersaing di China karena batu bara Rusia dengan kualitas serupa dijual lebih murah.
| Negara | Jan–Mei 2024 | Jan–Mei 2025 | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Total | 152,09 | 137,44 | -14,65 |
| Rusia | 18,19 | 15,7 | -2,49 |
| Mongolia | 7,29 | 10,56 | +3,27 |
| Kolombia | 3,95 | 0,33 | -3,53 |
| Indonesia | 90,07 | 78,45 | -11,62 |
| Filipina | 3,72 | 3,7 | -0,02 |
| Australia | 27,19 | 28,11 | +0,92 |
Pengiriman batu bara Indonesia ke China hanya mencapai 78,45 juta ton selama Januari–Mei 2025, turun 11,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, pasokan dari Australia dan Mongolia terus meningkat.
Direktur Utama Ombilin Energi, Ramli Ahmad, menyatakan bahwa permintaan terhadap batu bara Indonesia bisa kembali meningkat jika harga batu bara CV tinggi naik akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Namun, selama batu bara berkalori tinggi tetap lebih kompetitif, batu bara Indonesia berkalori rendah akan tetap tertekan.
Mongolia kini menjadi pemain utama di pasar China, menggantikan posisi Indonesia. Di India, permintaan batu bara dari Afrika Selatan melonjak, mencatatkan pangsa pasar tertinggi dalam lima bulan pertama tahun ini.
Sebaliknya, ekspor batu bara Indonesia ke India anjlok 7,24% menjadi 43,59 juta ton. Di pasar India, Indonesia juga harus bersaing dengan pemasok dari Rusia dan Amerika Serikat.
| Negara | Jan–Mei 2024 | Jan–Mei 2025 | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Total | 78,19 | 74,03 | -4,16 |
| Indonesia | 50,83 | 43,59 | -7,24 |
| Afrika Selatan | 12,88 | 16,24 | +3,36 |
| Amerika Serikat | 5,87 | 6,22 | +0,35 |
| Rusia | 2,78 | 2,79 | +0,01 |
| Australia | 2,97 | 1 | -1,97 |
Menurut analis Mysteel, Xue Dingcui, efisiensi rantai pasok batu bara dari Mongolia akan terus mendorong pertumbuhannya meskipun harga global menurun.
Negara-negara seperti Tanzania, Kazakhstan, Kolombia, dan Mozambik kini juga mulai masuk radar pembelian China dan India. Bahkan Australia mulai merebut kembali pangsa pasarnya di China.
Impor batu bara China secara keseluruhan turun hampir 10% menjadi 137,4 juta ton pada Januari–Mei 2025. Di sisi lain, India juga mencatatkan penurunan lebih dari 5%, menjadi 74 juta ton.
Ekspor batu bara Indonesia paling terdampak, dengan penurunan sebesar 12,3% ke China dan 14,3% ke India. Secara total, ekspor Indonesia turun 12% menjadi 187 juta ton menurut data Kpler.
Untuk mengatasi penurunan tersebut, Asosiasi Jasa Pertambangan Indonesia menyebut bahwa perusahaan tambang kini lebih fokus ke pasar domestik. Pengiriman lokal diperkirakan naik 3% tahun ini, sedangkan ekspor diproyeksikan menurun sekitar 10%.
Permintaan lokal, terutama dari industri smelter nikel, diprediksi akan menyumbang porsi terbesar pasokan batu bara nasional dalam satu dekade terakhir, yaitu 48,6%.
Karena harga jual batu bara untuk pembangkit listrik telah ditetapkan batas atas oleh pemerintah, para smelter menjadi pembeli yang lebih menarik secara ekonomi dibandingkan ekspor.
"Industri smelter saat ini adalah pasar paling menjanjikan. Kami mendapatkan harga yang lebih baik dibanding menjual ke sektor ketenagalistrikan atau mengekspor ke China," ujar Ramli Ahmad dari Ombilin Energi.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.