Saham News
Saham Pelat Merah Masih Diskon: Pilihan Menarik dari PTBA hingga BMRI untuk Investor
/index.php
Teknologi Terkini - Diposting pada 22 June 2026 Waktu baca 5 menit
China memiliki target ambisius dalam lima tahun mendatang. Negara tersebut bertekad menjadi pemimpin global dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan mengukuhkan diri sebagai kekuatan utama AI di dunia.
Target tersebut tercantum dalam blueprint teknologi terbaru yang diumumkan pemerintah China melalui Rencana Lima Tahun (Five-Year Plan) ke-15 yang berlaku hingga tahun 2030.
Melalui dokumen itu, pemerintah di Beijing memetakan sejumlah teknologi strategis yang akan menjadi fokus pengembangan nasional dalam beberapa tahun ke depan.
Ruang lingkupnya sangat luas, mencakup AI, robot humanoid, mobil terbang, hingga teknologi yang memungkinkan koneksi langsung antara otak manusia dan komputer melalui brain-computer interface.
Dari berbagai sasaran yang ditetapkan, salah satu yang paling menonjol adalah keinginan China agar AI terintegrasi dalam 90 persen aktivitas ekonomi nasional pada tahun 2030.
Dengan demikian, AI tidak hanya digunakan dalam bentuk chatbot atau asisten digital, tetapi juga diharapkan mampu mendukung operasional pabrik, meningkatkan efisiensi bisnis, serta menjalankan berbagai aktivitas ekonomi lainnya.
Untuk merealisasikan tujuan tersebut, pemerintah China menyiapkan investasi bernilai miliaran dolar AS di berbagai sektor teknologi. Beberapa bidang yang menjadi prioritas meliputi:
Meski terlihat beragam, hampir seluruh teknologi tersebut memiliki satu kesamaan utama, yakni menjadikan AI sebagai fondasi pengembangannya.
Pemerintah China tampaknya memandang AI bukan sekadar chatbot, melainkan sebagai pusat kendali berbagai sistem yang digunakan oleh masyarakat maupun sektor industri.
Gambaran tersebut bahkan sudah mulai terlihat saat ini.
Sebagai contoh, produsen otomotif di China telah mulai membekali kendaraan mereka dengan asisten AI dan teknologi mengemudi cerdas. Perusahaan teknologi juga mulai memperkenalkan perangkat wearable berbasis AI.
Di sisi lain, model AI pembuat video yang baru diluncurkan disebut mampu menghasilkan video yang sangat realistis sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan industri perfilman dan Hollywood.
Selain menggelontorkan investasi besar, China juga menerapkan pendekatan yang berbeda dibandingkan banyak perusahaan AI di Amerika Serikat.
Salah satu strateginya adalah mempertahankan sebagian besar model AI yang mereka kembangkan dalam format open-source atau sumber terbuka.
Melalui pendekatan ini, model AI dapat diunduh, digunakan, dan dimodifikasi dengan lebih leluasa oleh para pengembang.
Menurut peneliti Brookings Institute, Kyle Chan, strategi tersebut berbeda dengan banyak model AI terkemuka asal Amerika Serikat yang umumnya bersifat tertutup dan mengharuskan pengguna membayar biaya langganan tertentu.
China meyakini bahwa model open-source dapat mempercepat adopsi teknologi AI sekaligus memperluas ekosistem pengembang dan perusahaan yang memanfaatkan teknologi tersebut.
Menurut Chan, strategi open-source China dirancang untuk mendorong penggunaan AI dengan menyediakan model secara gratis, membangun ekosistem perangkat lunak yang lebih luas, lalu memperoleh pendapatan dari layanan integrasi dan dukungan teknis berbayar.
Meskipun memiliki ambisi besar untuk menjadi pemimpin AI dunia, perjalanan China diperkirakan tidak sepenuhnya berjalan tanpa hambatan. Salah satu tantangan utama yang masih dihadapi adalah ketergantungan terhadap chip AI berteknologi tinggi.
Chip canggih tersebut merupakan komponen utama yang dibutuhkan untuk melatih serta menjalankan model AI dalam skala besar.
Permasalahannya, pasar chip AI kelas atas saat ini masih didominasi oleh perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat.
Sejak tahun 2022, pemerintah AS bahkan telah membatasi ekspor chip AI canggih ke China sebagai bagian dari persaingan teknologi antara kedua negara.
Situasi tersebut mendorong China untuk mempercepat pengembangan industri semikonduktor domestik agar tidak lagi bergantung pada pasokan chip dari Amerika Serikat.
Meski demikian, kemampuan chip buatan China masih dinilai belum mampu menyamai teknologi yang dikembangkan perusahaan-perusahaan AS. Berdasarkan analisis Council on Foreign Relations, chip AI terbaik milik Huawei masih tertinggal cukup jauh.
Kinerjanya bahkan disebut sekitar lima kali lebih rendah dibandingkan chip AI tercanggih yang saat ini tersedia di Amerika Serikat.
Sumber: kompas.id
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.