Saham News
Saham Pelat Merah Masih Diskon: Pilihan Menarik dari PTBA hingga BMRI untuk Investor
/index.php
Saham News - Diposting pada 22 June 2026 Waktu baca 5 menit
Pasar saham Asia membuka pekan ini dengan pergerakan yang beragam di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Pelaku pasar masih memantau kenaikan harga minyak dunia serta menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 menjadi salah satu yang mencatat kinerja paling kuat di kawasan. Hingga pukul 09.30 waktu Tokyo, indeks tersebut naik 631,74 poin atau 0,89% ke level 71.881,80.
Sementara itu, pasar saham China cenderung tidak mengalami perubahan berarti. Indeks Shanghai Composite tercatat stabil di level 4.090,481 tanpa perubahan dari penutupan sebelumnya, dan indeks Shenzhen Component juga bergerak datar di posisi 16.030,702.
Di Hong Kong, indeks Hang Seng Index turut stagnan di level 23.924,81.
Berbeda dengan Jepang, pasar saham Australia justru melemah. Indeks S&P/ASX 200 turun 13,40 poin atau 0,15% ke 8.815,30.
Tekanan yang lebih besar terlihat di Korea Selatan, di mana indeks KOSPI melemah 71,34 poin atau 0,79% menjadi 8.981,08.
Di Asia Tenggara, indeks Straits Times Index di Singapura turun 20,14 poin atau 0,39% ke level 5.192,70.
Mengacu pada CNBC Internasional, pasar keuangan global memasuki pekan ini dengan suasana yang cenderung berhati-hati.
Pasar energi justru bergerak berbeda, dengan harga minyak mentah Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) naik hampir 3% ke sekitar US$78 per barel, sementara minyak Brent sebagai acuan global juga menguat lebih dari 1% ke kisaran US$81 per barel.
Pergerakan tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu mengancam akan melakukan serangan lanjutan terhadap Iran apabila para pemimpin negara tersebut tidak segera menghentikan kelompok proxy berbayar tinggi mereka di Lebanon agar tidak menimbulkan gangguan.
Pernyataan itu muncul ketika Wakil Presiden JD Vance bertemu dengan pejabat Iran dalam putaran awal negosiasi di Swiss, setelah pembicaraan sebelumnya dibatalkan.
Fokus utama pasar pekan ini adalah rilis data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) bulan Mei pada hari Kamis, yang merupakan indikator inflasi favorit Federal Reserve. Bahkan dengan mengecualikan komponen pangan dan energi yang volatil, PCE inti diperkirakan tetap meningkat dibanding April berdasarkan survei ekonom FactSet.
Usai pertemuan The Fed pekan lalu yang bernada hawkish, ekspektasi pemangkasan atau kenaikan suku bunga kini bergeser paling cepat ke bulan Oktober. Investor pun semakin fokus pada setiap rilis data inflasi yang dapat menjadi sinyal arah kebijakan suku bunga berikutnya.
Meski demikian, Tom Lee dari Fundstrat Global Advisors menilai sejumlah faktor seperti pembentukan gugus tugas di The Fed dan potensi gangguan rantai pasok akibat penutupan Selat Hormuz dapat memengaruhi pasar ke depan, namun kondisi pasar saat ini masih cenderung positif.
Ia menyebut bahwa meskipun ada potensi perubahan besar menjelang akhir tahun yang bisa menyerupai kondisi pasar bearish, pihaknya tidak ingin terburu-buru memprediksi puncak pasar.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.