Saham News
Saham Pelat Merah Masih Diskon: Pilihan Menarik dari PTBA hingga BMRI untuk Investor
/index.php
Saham News - Diposting pada 22 June 2026 Waktu baca 5 menit
MNC Sekuritas memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berpeluang mempertahankan momentum penguatan jangka pendeknya pada perdagangan Senin (21/6/2026). Dalam risetnya, tim analis MNC Sekuritas menjelaskan bahwa indeks tercatat naik tipis 0,08% ke level 6.177 pada penutupan akhir pekan lalu, dengan akumulasi kenaikan sebesar 2,82% dalam sepekan. “Saat ini IHSG diperkirakan berada dalam fase wave [iv] dari wave 3 dari wave (C), sehingga masih berpotensi melanjutkan penguatan untuk menguji area 6.328—6.545,” demikian tertulis dalam riset MNC Sekuritas, Minggu (21/6/2026). Meski demikian, investor tetap diingatkan untuk mewaspadai kemungkinan koreksi jangka pendek di kisaran 6.127—6.161 apabila terjadi aksi ambil untung pada perdagangan berikutnya.
Secara teknikal, MNC Sekuritas menempatkan area support indeks di level 5.784 dan 5.594 sebagai batas bawah pergerakan. Sementara itu, resistance terdekat diperkirakan berada pada rentang 6.286 hingga 6.459. Untuk perdagangan esok hari, beberapa saham direkomendasikan dengan strategi buy on weakness, yaitu PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA), PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS), dan PT ESSA Industries Indonesia Tbk. (ESSA). Selain itu, saham PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) juga masuk dalam pantauan dengan rekomendasi trading buy setelah mencatat lonjakan volume pembelian sebelumnya.
Di sisi lain, pasar modal Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah mengalami tekanan jual besar-besaran atau sell-off terparah dalam 18 tahun terakhir sejak krisis keuangan global 2008. Analis PT Indo Premier Sekuritas, Axel Azriel, menyebut IHSG mampu rebound 16,4% dalam sepekan terakhir setelah sebelumnya sempat merosot hingga 38,2% secara year-to-date. Penurunan sebelumnya bahkan lebih dalam dibanding koreksi saat pandemi Covid-19 yang mencapai 37%, menjadikannya salah satu fase pelemahan terdalam dalam dua dekade terakhir.
Namun demikian, Indo Premier Sekuritas menilai bahwa pemulihan jangka pendek ini belum sepenuhnya kuat karena kondisi fiskal nasional masih menghadapi tekanan ketat. “Ini hanya dorongan sementara, bukan solusi utama. Kami menilai target defisit fiskal 2,7% tidak memberikan ruang yang cukup untuk kesalahan kebijakan,” ujar Axel dalam risetnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan untuk mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan maupun kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Sumber: bisnis.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.