Perang Timur Tengah Kian Sengit, Analis Ungkap Prediksi Mengejutkan Harga Minyak Dunia

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 16 March 2026 Waktu baca 5 menit

Foto: (REUTERS/Amr Abdallah Dalsh) Kobaran api dan puing-puing berhamburan setelah serangan Israel yang dilaporkan terjadi di pinggiran selatan Beirut, menyusul eskalasi antara Hizbullah dan Israel, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, Lebanon, Jumat

Harga minyak dunia diperkirakan berpotensi kembali mengalami kenaikan saat pembukaan perdagangan pada Senin (15/3/2026), seiring konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang telah memasuki minggu ketiga.

 

Mengutip Reuters, situasi tersebut meningkatkan ancaman terhadap infrastruktur energi serta membuat Selat Hormuz masih tertutup di tengah gangguan pasokan energi terbesar di dunia.

 

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan mengancam akan melancarkan serangan lanjutan terhadap pusat ekspor minyak Iran yang berada di Pulau Kharg. Ancaman itu langsung ditanggapi oleh Teheran dengan pernyataan kesiapan untuk melakukan serangan balasan.

 

Peningkatan ketegangan ini mendorong harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) melonjak tajam dan mengguncang pasar keuangan global. Kedua kontrak minyak tersebut tercatat telah meningkat lebih dari 40% sepanjang bulan ini hingga mencapai level tertinggi sejak tahun 2022.

 

Kenaikan harga terjadi setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu Teheran menghentikan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut merupakan rute penting yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

 

Trump juga meminta sejumlah negara seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk mengirimkan kapal perang guna menjaga keamanan jalur pelayaran tersebut. Langkah ini dinilai penting untuk membuka kembali akses energi global yang sempat terganggu.

 

Militer Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan terhadap target militer di Pulau Kharg pada Sabtu. Serangan tersebut kemudian dibalas Iran dengan mengirimkan drone yang menargetkan terminal minyak utama di Uni Emirat Arab.

 

Analis JP Morgan yang dipimpin Natasha Kaneva menilai peristiwa ini sebagai eskalasi baru dalam konflik di kawasan Timur Tengah. Selama ini, menurut mereka, infrastruktur minyak di wilayah tersebut relatif masih terhindar dari serangan langsung.

 

Selain terminal minyak Fujairah di Uni Emirat Arab, para analis juga menyoroti terminal ekspor Ras Tanura di Arab Saudi serta fasilitas pemrosesan minyak Abqaiq sebagai titik energi yang sangat penting sekaligus rentan di kawasan Teluk. Ketiga fasilitas tersebut dianggap memiliki peran krusial dalam menjaga stabilitas pasokan minyak global.

 

Meski demikian, aktivitas pemuatan minyak di terminal Fujairah dilaporkan telah kembali berjalan. Terminal yang berada di luar Selat Hormuz itu menjadi jalur ekspor sekitar 1 juta barel per hari minyak mentah Murban milik Uni Emirat Arab, atau sekitar 1% dari total permintaan minyak dunia.

 

Gangguan pada distribusi energi diperkirakan akan memberikan dampak besar terhadap pasokan minyak global. Badan Energi Internasional atau International Energy Agency memperkirakan pasokan minyak dunia dapat berkurang sekitar 8 juta barel per hari pada bulan Maret akibat gangguan pengiriman.

 

Selain itu, produsen minyak di Timur Tengah dilaporkan telah mengurangi produksi setidaknya sebesar 10 juta barel per hari. Situasi ini semakin memperketat ketersediaan energi di pasar global.

 

Untuk menekan lonjakan harga, IEA pada pekan lalu menyepakati pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis negara-negara anggotanya. Jepang bahkan berencana mulai mengeluarkan cadangan minyaknya pada Senin pekan ini.

 

Di sisi lain, upaya diplomasi untuk meredakan konflik masih belum menemukan titik terang. Pemerintahan Donald Trump dilaporkan menolak sejumlah dorongan dari sekutu di Timur Tengah untuk memulai perundingan.

 

Iran juga menegaskan bahwa mereka tidak akan mempertimbangkan gencatan senjata selama serangan dari Amerika Serikat dan Israel masih berlangsung. Sikap tersebut membuat peluang berakhirnya konflik dalam waktu dekat semakin kecil.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.