Saham News
Purbaya ke Investor: Jangan Cemas, Pemerintah Paham Kondisi Pasar
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 04 February 2026 Waktu baca 5 menit
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai nilai tukar rupiah saat ini belum mencerminkan kekuatan fundamental ekonominya dan berada di bawah nilai wajarnya. Ia optimistis mata uang rupiah masih memiliki ruang penguatan dalam waktu dekat, bahkan berpeluang kembali ke kisaran Rp15.000 per dolar AS.
Purbaya menyampaikan bahwa meskipun sebelumnya menyebut level Rp16.500, menurutnya pergerakan rupiah saat ini membuka peluang untuk mendekati Rp15.000 per dolar AS tanpa kesulitan berarti. Namun, ia menegaskan tidak berbicara atas nama Bank Indonesia sebagai otoritas moneter. Pernyataan itu disampaikan usai menghadiri Indonesia Economic Summit di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Ia juga berseloroh bahwa penguatan rupiah hingga level Rp15.000 per dolar AS akan lebih mudah tercapai jika dirinya berada di Bank Indonesia. Optimisme tersebut, menurutnya, didukung oleh penguatan mata uang negara-negara kawasan seperti ringgit Malaysia, dolar Singapura, baht Thailand, dan dong Vietnam.
Dalam dialog berbahasa Inggris di Hotel Shangri-La Jakarta pada hari yang sama, Purbaya menilai pergerakan menuju Rp15.000 per dolar AS bukan hal sulit jika mempertimbangkan tren penguatan mata uang regional, meskipun ia kembali menegaskan tidak mewakili pandangan bank sentral.
Purbaya mengakui kondisi rupiah yang melemah ketika sebagian besar mata uang ASEAN justru menguat terhadap dolar AS merupakan situasi yang tidak lazim. Namun, ia memilih tidak mengulas lebih jauh karena hal tersebut menjadi kewenangan Bank Indonesia.
Ia menekankan bahwa tugas BI adalah menjaga agar pergerakan nilai tukar rupiah tetap sejalan dengan mata uang negara-negara lain di kawasan.
Pada penutupan perdagangan Selasa (3/2/2026), rupiah tercatat menguat 44 poin atau 0,26 persen ke level Rp16.754 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia melalui Jisdor menempatkan rupiah di posisi Rp16.777 per dolar AS.
Penguatan rupiah terjadi seiring tren positif mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS. Yen Jepang menguat 0,03 persen, yuan China naik 0,13 persen, dan dolar Singapura terapresiasi 0,20 persen.
Won Korea Selatan dan baht Thailand masing-masing naik 0,37 persen, sementara ringgit Malaysia mencatatkan penguatan tertinggi di kawasan dengan kenaikan 0,50 persen.
Sebelumnya, rupiah sempat diperkirakan berada di bawah tekanan akibat penguatan dolar AS yang dipicu oleh rilis data manufaktur Amerika Serikat yang jauh melampaui ekspektasi pasar.
Sumber: kompas.id
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.