Rekomendasi Saham IPO Hari Ini: EMMI, RANS, atau JELI, Mana yang Paling Menarik?

Saham News - Diposting pada 29 June 2026 Waktu baca 5 menit

Antrean perusahaan yang akan melantai di pasar modal kembali bertambah menjelang berakhirnya semester pertama 2026. Sebanyak enam perusahaan tengah bersiap menguji minat investor melalui penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO), yaitu PT RANS Entertainment Indonesia Tbk. (RANS), PT Bach Multi Global Tbk. (BACH), PT Nitrasanata Dharma Tbk. (JECX), PT Esa Medika Mandiri Tbk. (EMMI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk. (PRDL), serta PT Niramas Utama Tbk. (JELI).

 

Gelombang IPO tersebut berlangsung ketika pasar saham masih berada di bawah tekanan jual yang menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 31,81% secara year-to-date (YtD) hingga berada di level 5.896,14 per Jumat (26/6). Penurunan indeks juga diiringi aksi jual bersih (net sell) investor asing yang secara agregat mencapai Rp71,68 triliun. Dalam kondisi tersebut, keberhasilan pelaksanaan IPO berpotensi menghadapi tantangan akibat terbatasnya daya serap pasar.

 

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai antrean IPO saat ini terjadi bersamaan dengan tingginya suku bunga acuan BI Rate. Menurutnya, kenaikan BI Rate menyebabkan biaya dana (cost of fund) di sektor perbankan meningkat sehingga bunga kredit modal kerja maupun kredit investasi menjadi lebih mahal. Sebaliknya, melalui pendanaan berbasis ekuitas di pasar modal, perusahaan dapat memperoleh tambahan modal tanpa harus menanggung beban bunga secara berkala maupun kewajiban pembayaran pokok utang sebagaimana pinjaman bank atau penerbitan obligasi. Oleh karena itu, Nafan menilai IPO menjadi salah satu alternatif restrukturisasi permodalan yang sehat untuk menjaga likuiditas internal perusahaan.

 

"Pendanaan melalui IPO hingga akhir tahun ini tetap menarik dari sisi kebutuhan emiten. Namun, pelaksanaannya membutuhkan kompromi yang cukup besar dalam menentukan harga penawaran perdana agar mampu menarik likuiditas investor yang saat ini cenderung lebih selektif," ujar Nafan, dikutip Minggu (28/6/2026). Ia juga menyarankan agar investor tetap berhati-hati dengan mempertimbangkan kombinasi faktor valuasi, profitabilitas, sponsor atau ultimate beneficial owner (UBO), penggunaan dana hasil IPO, serta risiko likuiditas setelah saham tercatat di bursa.

 

Nafan turut mengulas keunggulan masing-masing calon emiten IPO. Menurutnya, PRDL menawarkan valuasi paling murah dengan price to earnings ratio (PER) sekitar 10,3–12,3 kali dan price to book value (PBV) pasca-IPO berkisar 1,2–1,4 kali. Emiten tersebut juga mendapat dukungan dari Grup Prodia. Sementara itu, BACH mencatat return on equity (ROE) tertinggi sebesar 28,9%, didukung Grup Djarum, dengan potensi kapitalisasi pasar sekitar Rp2,04 triliun.

 

Di sisi lain, JECX memperoleh dukungan dari Grup Emtek dan diperkirakan memiliki kapitalisasi pasar terbesar, yakni sekitar Rp4,55 triliun. Namun demikian, saham tersebut juga memiliki valuasi paling premium dengan PER sekitar 52,9–61,8 kali. Adapun RANS dinilai memiliki tingkat pengenalan merek (brand awareness) yang kuat, membukukan return on assets (ROA) tertinggi sebesar 13,2%, serta memiliki debt to equity ratio (DER) terendah di antara seluruh calon emiten IPO, yaitu 0,35 kali. Sementara itu, JELI dan EMMI sama-sama membukukan ROE yang solid masing-masing sebesar 27,0% dan 25,2%, meskipun keduanya diperdagangkan pada valuasi yang relatif premium dengan tingkat leverage yang lebih tinggi.

 

Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai EMMI dan PRDL merupakan dua calon emiten IPO yang memiliki prospek pertumbuhan paling menarik. Menurutnya, kedua perusahaan di sektor kesehatan tersebut didukung oleh ekspansi bisnis diagnostik dan peluang penetrasi pasar yang masih luas. Selain itu, Abida juga menilai RANS memiliki keunggulan sebagai emiten di sektor ekonomi kreatif dengan tingkat pengenalan merek yang tinggi. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa model bisnis berbasis konten masih memerlukan kajian lebih lanjut terkait keberlanjutan prospek pertumbuhannya.

 

Abida juga menilai JELI sebagai emiten sektor konsumer memiliki basis permintaan yang stabil sehingga berpotensi menopang pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan. Mengenai penggunaan dana hasil IPO, ia menjelaskan bahwa alokasi dana untuk melunasi utang tidak serta-merta mengurangi daya tarik suatu saham selama disertai rencana ekspansi yang jelas. Menurutnya, pembayaran utang di tengah tingginya suku bunga justru dapat memperkuat struktur neraca perusahaan sekaligus meningkatkan profitabilitas bersih pada masa mendatang. Meski demikian, investor tetap perlu memperhatikan keseimbangan alokasi dana antara deleveraging dan investasi untuk pertumbuhan sebagai indikator kualitas prospek pertumbuhan emiten.

 

Secara keseluruhan, Abida menilai momentum IPO pada semester kedua 2026 berpotensi membaik seiring meredanya ketegangan geopolitik, meningkatnya kepastian setelah MSCI, serta potensi rebound IHSG yang dapat menciptakan kondisi pasar yang lebih kondusif. Menurutnya, semakin ramainya antrean IPO menjadi sinyal pulihnya kepercayaan terhadap pasar modal, sementara kualitas emiten akan menjadi faktor utama yang menentukan keberlanjutan momentum tersebut.

 

Ia juga menambahkan bahwa tingginya tingkat suku bunga saat ini justru menjadi faktor pendukung bagi aktivitas IPO karena menawarkan alternatif pendanaan yang lebih menarik dibandingkan pinjaman perbankan pada saat BI Rate berada di level 5,75%, mengingat perusahaan tidak perlu menanggung tambahan beban bunga.

 

Disclaimer: Informasi ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli maupun menjual saham. Seluruh keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan maupun kerugian yang timbul akibat keputusan investasi yang diambil pembaca.

Sumber: bisnis.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.