Bisnis | Ekonomi
IHSG Terkoreksi 4,55% dalam Sepekan, Ini Sentimen yang Berpotensi Menggerakkan Pasar
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 27 June 2026 Waktu baca 5 menit
Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk meredakan konflik di kawasan Timur Tengah. Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump juga mulai menunjukkan sikap yang lebih lunak dalam perselisihan dagang dengan China.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, harga minyak dunia mulai bergerak turun. Meski demikian, ancaman inflasi masih menjadi perhatian. Para ekonom menilai kini muncul faktor baru yang berpotensi memicu tekanan harga, yakni percepatan investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat.
Persaingan sengit di antara perusahaan teknologi raksasa untuk menjadi pemimpin dalam industri AI dinilai mendorong kenaikan harga berbagai produk dan layanan, mulai dari perangkat elektronik seperti ponsel dan laptop hingga tarif listrik.
Dana yang dikucurkan untuk pengembangan AI mencapai skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Berdasarkan estimasi analis yang mengacu pada FactSet, belanja modal lima perusahaan hyperscaler—Alphabet, Amazon, Meta Platforms, Microsoft, dan Oracle—diperkirakan mencapai US$741 miliar (Rp13.219 triliun) pada tahun ini, meningkat hampir 75% dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut ekonom Universitas Columbia, Stijn Van Nieuwerburgh, sebagaimana dikutip Wall Street Journal pada Sabtu (27/6/2026), meskipun perhatian publik lebih banyak tertuju pada kemampuan AI, pembangunan infrastrukturnya sangat bergantung pada aset fisik.
Pusat data (data center) untuk AI membutuhkan perangkat komputasi berteknologi tinggi, sistem pendingin agar perangkat tidak mengalami panas berlebih, jaringan kabel listrik dan serat optik, serta generator cadangan untuk menjamin pasokan listrik tetap stabil.
Berdasarkan proyek yang telah diumumkan maupun yang masih dalam tahap perencanaan, Van Nieuwerburgh memperkirakan investasi pembangunan AI hingga 2032 dapat mencapai sekitar US$8 triliun (Rp142.586 triliun). Nilai tersebut setara dengan lima kali kapitalisasi seluruh pasar properti di New York City.
Lonjakan kebutuhan pembangunan AI diperkirakan akan meningkatkan harga berbagai barang dan jasa yang diperlukan untuk membangun ekosistem tersebut. Karena banyak komponen tersebut juga digunakan di sektor lain, dampak kenaikan harga diperkirakan akan meluas ke berbagai sektor ekonomi.
Sebagai contoh, chip memori dan media penyimpanan yang digunakan pada berbagai produk elektronik, seperti konsol gim, ponsel, laptop, hingga kendaraan, mengalami peningkatan permintaan. Nintendo, Microsoft, dan Sony pun telah menaikkan harga sejumlah produknya.
Apple juga diperkirakan akan melakukan penyesuaian harga. CEO Apple Tim Cook mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa lonjakan biaya yang terjadi saat ini merupakan kondisi yang belum pernah ia alami selama lebih dari empat dekade berkarier.
Di sisi lain, apabila AI benar-benar membawa revolusi seperti yang diperkirakan banyak ekonom, dalam jangka panjang teknologi tersebut justru dapat membantu menurunkan inflasi. Sejarah revolusi teknologi sebelumnya menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas memungkinkan perusahaan memenuhi permintaan tanpa harus terus menaikkan harga.
Pandangan serupa sebelumnya juga disampaikan oleh Kevin Warsh, yang kini menjabat sebagai Ketua Federal Reserve.
"AI akan menjadi kekuatan disinflasi yang signifikan karena mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat daya saing Amerika," tulis Warsh dalam Journal pada November 2025.
Pandangan tersebut kini menjadi salah satu ujian utama dalam kepemimpinannya di Federal Reserve.
Pembangunan infrastruktur AI memang dapat berlangsung lebih cepat dibandingkan revolusi teknologi sebelumnya, seperti pembangunan jaringan kereta api pada abad ke-19, elektrifikasi pada awal abad ke-20, maupun perkembangan telekomunikasi saat era dot-com. Namun, manfaat ekonominya tetap memerlukan waktu untuk terealisasi.
Ekonom UBS memperkirakan bahwa meskipun proses pembangunan berlangsung lebih cepat, AI baru akan mulai memberikan dampak penurunan inflasi dalam beberapa tahun ke depan. Dalam jangka pendek, lonjakan permintaan akibat investasi AI justru akan meningkatkan tekanan harga.
Dalam survei National Association for Business Economics (NABE) yang dipublikasikan pada awal pekan ini, sebanyak 81% ekonom berpendapat bahwa pembangunan AI akan mendorong inflasi sepanjang satu tahun mendatang.
"Kami melihat bahwa pada tahap awal setiap revolusi teknologi besar biasanya terjadi tekanan terhadap sumber daya yang terbatas, sehingga harga cenderung meningkat," ujar Kepala Ekonom EY-Parthenon sekaligus Presiden NABE, Gregory Daco.
Gejala tersebut mulai tercermin pada data inflasi. Departemen Tenaga Kerja AS mencatat harga perangkat lunak serta aksesori komputer pada Mei meningkat sekitar 15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Potensi kenaikan harga juga masih berlanjut. Indeks harga grosir untuk komponen dan aksesori elektronik menurut Departemen Tenaga Kerja AS melonjak 27% secara tahunan pada bulan lalu.
Strategis Evercore ISI menilai dampak pengembangan AI terhadap inflasi memiliki karakteristik berbeda dibandingkan tarif impor maupun kenaikan harga energi.
Tarif dan minyak hanya memberikan tekanan harga yang bersifat sementara, sedangkan investasi AI menciptakan lonjakan permintaan yang dapat berlangsung selama bertahun-tahun.
Meski demikian, sebagian besar lonjakan permintaan tersebut diperkirakan masih akan terjadi di masa mendatang. Gubernur Federal Reserve Lisa Cook dalam pidatonya bulan lalu menyebut bahwa baru sebagian kecil proyek pembangunan data center yang telah direalisasikan.
Selain itu, rencana OpenAI dan Anthropic untuk menghimpun dana melalui penawaran umum perdana (IPO) diperkirakan akan semakin mempercepat pembangunan infrastruktur AI.
Optimisme tersebut tercermin pada reli saham perusahaan semikonduktor yang melonjak tajam karena investor mengantisipasi lonjakan permintaan. Bahkan setelah terkoreksi pada pekan ini, Indeks Semikonduktor PHLX masih membukukan kenaikan sekitar 150% dalam satu tahun terakhir.
Bukan hanya chip yang dibutuhkan dalam pembangunan data center. Berbagai komponen lain yang digunakan untuk membangun dan mengoperasikan fasilitas tersebut juga banyak dimanfaatkan oleh berbagai sektor industri.
Akibatnya, kenaikan biaya pembangunan data center dapat meningkatkan beban operasional perusahaan lain, yang kemudian berpotensi meneruskan biaya tersebut kepada konsumen melalui kenaikan harga.
Dalam beberapa kasus, pembangunan AI juga mulai mendorong kenaikan biaya tenaga kerja. Upah pekerja yang terlibat dalam pembangunan data center mengalami peningkatan.
Rata-rata pendapatan per jam bagi kontraktor instalasi listrik dan kabel naik 6,5% pada April 2026 dibandingkan tahun sebelumnya, lebih tinggi dibandingkan kenaikan rata-rata seluruh pekerja sektor swasta yang sebesar 3,6%.
Seiring bertambahnya jumlah data center yang mulai beroperasi, kebutuhan listrik juga meningkat. Ekonom Goldman Sachs sebelumnya memperkirakan bahwa hingga 2030, hampir separuh pertumbuhan permintaan listrik di Amerika Serikat akan berasal dari data center.
Konsekuensinya, mereka memproyeksikan tarif listrik bagi konsumen akan meningkat sekitar 6% per tahun pada tahun ini maupun tahun depan.
Meskipun demikian, para ekonom tidak memperkirakan pembangunan AI akan memicu lonjakan inflasi sebesar yang terjadi ketika ekonomi AS kembali dibuka pascapandemi Covid-19.
Selain itu, pengeluaran masyarakat untuk produk seperti ponsel maupun konsol gim hanya mencakup porsi kecil dari total belanja konsumen setiap tahun. Bahkan biaya listrik sendiri hanya berkontribusi sekitar 2,5% terhadap total pengeluaran rumah tangga di Amerika Serikat, menurut data Departemen Tenaga Kerja AS.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.