Bisnis | Ekonomi
Ekonom Peringatkan Inflasi Berpotensi Melonjak Tahun Depan, Ini Faktor Pemicunya
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 27 June 2026 Waktu baca 5 menit
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan sebesar 4,55% sepanjang perdagangan pada periode 22–26 Juni 2026. Pelemahan tersebut dipengaruhi oleh tekanan dari pasar saham global serta koreksi pada saham-saham sektor komoditas yang menjadi beban utama pergerakan indeks selama sepekan.
Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), Kautsar Primadi Ahmad, menyampaikan bahwa IHSG ditutup di level 5.896,134 atau turun 4,55% dibandingkan posisi pekan sebelumnya di level 6.177,139. Berdasarkan data BEI, sektor bahan baku menjadi penyumbang penurunan terbesar dengan koreksi 4,99%, diikuti sektor konsumen nonprimer yang melemah 2,96%, sementara sektor energi turun sebesar 2,61%.
Phintraco Sekuritas menilai pelemahan IHSG sepanjang pekan dipicu oleh berbagai sentimen negatif. Pada perdagangan Jumat (26/6/2026), misalnya, tekanan terhadap indeks terutama berasal dari pelemahan bursa Asia dan Eropa akibat aksi jual pada saham-saham teknologi.
Dalam risetnya, Phintraco Sekuritas menjelaskan bahwa tekanan tersebut dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap kenaikan biaya pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), yang menyebabkan saham-saham teknologi tertekan. Kondisi tersebut kemudian memicu koreksi harga komoditas logam sehingga ikut menyeret saham-saham yang berkaitan dengan sektor tersebut.
Secara teknikal, Phintraco menambahkan bahwa IHSG kini bergerak di bawah garis MA5, MA10, dan MA20. Dengan histogram MACD yang mulai melemah serta Stochastic RSI yang memasuki area pivot, indeks dinilai masih berpotensi menguji area 5.700–5.800 pada perdagangan pekan depan.
Di sisi lain, Pilarmas Investindo Sekuritas juga mencatat bahwa tekanan jual masih mendominasi perdagangan pada akhir pekan sehingga memperpanjang tren pelemahan IHSG secara mingguan.
Dalam risetnya, Pilarmas menyebutkan bahwa IHSG terkoreksi 4,55% selama sepekan. Sektor keuangan menjadi satu-satunya sektor yang masih mampu mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,03%, sedangkan sektor bahan baku mengalami penurunan paling dalam, yakni sekitar 5%.
Menurut Pilarmas, pelemahan sektor bahan baku menjadi faktor utama yang menekan pergerakan indeks, sementara kenaikan terbatas pada saham-saham perbankan belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan jual di sektor lainnya.
Untuk perdagangan pekan depan, pelaku pasar diperkirakan akan mencermati sejumlah data ekonomi domestik, seperti indeks PMI manufaktur, neraca perdagangan, serta data inflasi yang berpotensi menjadi katalis bagi arah pergerakan IHSG berikutnya.
Di pasar global, indeks S&P 500 pada penutupan perdagangan terakhir di Amerika Serikat bergerak relatif datar meskipun investor masih terus mengamati perkembangan pada perusahaan-perusahaan produsen chip. Bloomberg News melaporkan bahwa sebagian besar saham berhasil menguat seiring munculnya indikasi ketahanan ekonomi yang memicu spekulasi bahwa perusahaan-perusahaan Amerika Serikat masih memiliki prospek pertumbuhan yang baik.
Selain itu, aksi buyback yang dilakukan perusahaan-perusahaan semikonduktor setelah reli besar turut menjadi perhatian, mengingat kelompok saham tersebut sedang berada di jalur untuk membukukan kinerja kuartalan terbaik sepanjang sejarah. Sementara itu, harga minyak dunia juga terpantau mengalami penurunan.
Mark Hackett dari Nationwide mengatakan bahwa sentimen investor memang terlihat semakin pesimistis akibat aksi jual di sektor teknologi serta rotasi sektor yang cukup tajam. Namun, menurutnya kondisi pasar secara keseluruhan masih menunjukkan gambaran yang berbeda.
Ia menilai situasi saat ini lebih mencerminkan fase konsolidasi dibandingkan awal dari penurunan pasar yang besar.
Hackett juga menjelaskan bahwa fundamental pasar masih tetap solid. Konsumen masih aktif melakukan belanja, perusahaan terus melakukan investasi, dan proyeksi laba perusahaan juga terus meningkat. Menurutnya, meskipun gejolak di sektor teknologi dapat memicu kekhawatiran, kondisi seperti ini sering kali menjadi fondasi bagi kelanjutan tren bullish berikutnya.
Pergerakan yang sangat fluktuatif pada saham-saham teknologi dalam beberapa hari terakhir juga menunjukkan bahwa optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI) dapat dengan cepat berubah menjadi kekhawatiran mengenai tingginya valuasi.
Walaupun mayoritas pelaku pasar masih meyakini bahwa tren investasi AI belum berakhir, keyakinan bahwa harga aset akan terus meningkat secara konsisten dan tanpa hambatan tampaknya mulai memudar dari waktu ke waktu.
Sumber: kompas.id
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.