ADB Naikkan Proyeksi Inflasi Indonesia 2026, Risiko Harga dan Cuaca Jadi Sorotan

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 02 November 2026 Waktu baca 5 menit

Ilustrasi AI

Asian Development Bank (ADB) memperkirakan inflasi Indonesia mencapai 3,3% pada 2026 dan 3,0% pada 2027. Proyeksi itu dinaikkan dari perkiraan Juli yang masing-masing sebesar 3,0% dan 2,5%. Pada saat yang sama, ADB mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi di 5,2% untuk kedua tahun tersebut.

Bank pembangunan itu menilai kinerja ekonomi pada semester pertama 2026 memberi landasan yang relatif kuat. Namun, laju kegiatan berpotensi melandai pada paruh kedua tahun ini ketika belanja pemerintah dan konsumsi kembali ke pola yang lebih normal, sementara permintaan dari luar negeri masih lemah.

Tekanan harga dipengaruhi faktor eksternal, terutama harga energi dunia dan inflasi impor. Untuk 2027, ADB memperkirakan inflasi berangsur turun mendekati titik tengah sasaran. Harga pangan dipandang relatif terkendali, tetapi cuaca tetap menjadi risiko. Ketersediaan cadangan beras dan dukungan terhadap produksi pertanian dinilai dapat membantu meredam tekanan pasokan.

ADB juga menyoroti dampak potensial El Niño dan kebakaran hutan serta lahan gambut. Jika gangguan cuaca atau bencana menghambat produksi dan aktivitas ekonomi secara signifikan, risiko terhadap pertumbuhan dapat meningkat. Sejauh ini, kondisi kering belum berdampak besar pada produksi pangan pokok dan sektor pertanian masih menunjukkan daya tahan.

Untuk menjaga daya beli kelompok rentan, laporan tersebut menyebut irigasi, cadangan pangan, bantuan sosial, stabilisasi harga pangan dan energi, serta program prioritas pemerintah sebagai penyangga. Koordinasi pemerintah dan Bank Indonesia juga diharapkan membantu menjaga ekspektasi inflasi. ADB memperkirakan BI akan berhati-hati mempertahankan kebijakan suku bunga hingga akhir 2026, mengingat kondisi keuangan global yang ketat dan rupiah yang peka terhadap arus modal.

Risiko lain datang dari tingginya suku bunga global dan lemahnya permintaan eksternal. Keduanya dapat menaikkan biaya pembiayaan, membatasi arus modal, dan menahan investasi swasta. Ketegangan geopolitik maupun perdagangan serta perlambatan mitra dagang dapat menekan ekspor dan rupiah, sekaligus menambah beban inflasi impor dan energi. Subsidi serta kompensasi yang lebih besar juga berpotensi mempersempit ruang fiskal.

Di sisi domestik, ADB melihat permintaan dalam negeri dan investasi swasta sebagai penopang proyeksi pertumbuhan. Perlindungan sosial dan stabilisasi harga diperkirakan membantu konsumsi rumah tangga, sedangkan realisasi anggaran dapat mendukung infrastruktur, belanja modal, dan proyek strategis. Defisit fiskal 2026 diperkirakan tetap di bawah batas 3% PDB. Untuk 2027, inflasi global dan harga energi yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan impor, sementara keberlanjutan penyaluran dana melalui lembaga keuangan berpotensi menopang investasi dan permintaan.

Sumber: “ADB Prediksi Inflasi Indonesia Naik jadi 3,3% pada 2026, 3,0% pada 2027,” Bisnis.com, Nadia Larisa, 2 November 2026. https://ekonomi.bisnis.com/read/20261102/9/2017458/adb-prediksi-inflasi-indonesia-naik-jadi-33-pada-2026-30-pada-2027

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com/read/20261102/9/2017458/adb-prediksi-inflasi-indonesia-naik-jadi-33-pada-2026-30-pada-2027

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.