Saham News
Purbaya ke Investor: Jangan Cemas, Pemerintah Paham Kondisi Pasar
/index.php
Edukasi - Diposting pada 30 June 2025 Waktu baca 5 menit
Dalam beberapa tahun belakangan, meningkatnya ketertarikan generasi muda terhadap investasi saham menjadi sorotan utama dalam industri keuangan. Hal ini sejalan dengan pesatnya perkembangan teknologi, kemudahan dalam mengakses informasi, serta peran besar media sosial sebagai sarana edukasi dan promosi. Meskipun perkembangan ini terlihat positif, ada tantangan besar yang harus dihadapi: rendahnya tingkat literasi keuangan yang menyebabkan keputusan investasi lebih dipengaruhi oleh emosi dan tren, terutama fenomena Fear of Missing Out (FOMO).
Generasi milenial dan Gen Z yang lahir dan tumbuh di era digital kini dapat mengakses berbagai platform investasi hanya lewat ponsel. Aplikasi investasi telah membuka gerbang bagi anak muda untuk masuk ke dunia pasar modal yang dulu dianggap rumit dan eksklusif. Kemudahan ini juga didukung oleh kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memungkinkan pembukaan rekening efek secara online, sehingga mempercepat partisipasi generasi muda dalam pasar modal.
Data dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mengungkapkan bahwa lebih dari separuh investor baru di pasar modal Indonesia berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun. Ini menandai pergeseran demografis yang besar dan menciptakan peluang untuk memperluas pertumbuhan pasar modal secara berkelanjutan dan inklusif.
Peran media sosial di sini menjadi paradoks. Di satu sisi, akun-akun edukatif di TikTok, Instagram, dan YouTube telah membantu menyebarkan informasi dasar terkait saham dengan cara yang ringan dan menarik. Konten kreator menyampaikan materi keuangan secara visual dan sederhana sehingga lebih mudah dipahami oleh anak muda.
Namun, sisi negatifnya adalah munculnya selebritas-investor dan influencer keuangan yang kerap membagikan rekomendasi saham tanpa analisis yang mendalam. Tak jarang, konten-konten viral justru berisi ajakan membeli saham tertentu demi keuntungan instan. Hal ini mendorong perilaku FOMO, di mana seseorang membeli saham hanya karena ikut tren, tanpa memahami risiko maupun prinsip dasar berinvestasi.
Investasi berbasis FOMO sering kali membuat investor mengambil keputusan tanpa pertimbangan matang. Mereka tergesa-gesa membeli saham populer tanpa meninjau fundamental perusahaan, kinerja masa lalu, atau prospek jangka panjangnya. Ketika harga saham menurun, mereka panik dan menjual dengan kerugian.
Situasi ini menunjukkan pentingnya literasi keuangan. Tanpa pemahaman tentang bagaimana pasar saham bekerja, cara menilai kinerja perusahaan, atau manajemen risiko, generasi muda akan rentan terjebak dalam informasi keliru dan hype sesaat.
Literasi keuangan bukan hanya sekadar tahu cara membeli saham. Ini mencakup pemahaman yang komprehensif mengenai perencanaan keuangan, strategi investasi, manajemen risiko, diversifikasi portofolio, pemantauan kinerja, hingga kesadaran akan tujuan jangka panjang.
Sumber edukasi bisa berasal dari buku, seminar, kursus online, maupun komunitas investor. Namun, yang paling penting adalah memiliki sikap kritis dan komitmen untuk terus belajar. Mengikuti rekomendasi dari influencer tanpa verifikasi hanya akan menyerupai spekulasi dalam dunia saham.
Pemerintah melalui OJK dan Bursa Efek Indonesia (BEI) telah meluncurkan berbagai program edukasi seperti Sekolah Pasar Modal dan Galeri Investasi BEI di kampus-kampus, yang semuanya mendukung kampanye #AkuInvestorSaham. Inisiatif ini harus terus dikembangkan terutama di platform digital yang biasa digunakan generasi muda.
Perusahaan sekuritas dan fintech juga punya tanggung jawab besar dalam memberikan edukasi yang benar, bukan sekadar meningkatkan jumlah pengguna atau volume transaksi. Contohnya adalah menyediakan simulasi trading, artikel informatif dalam aplikasi, serta layanan nasihat investasi berdasarkan profil risiko investor.
Ketertarikan anak muda terhadap dunia investasi merupakan potensi besar untuk masa depan pasar modal Indonesia. Tapi minat ini perlu diarahkan agar tidak sekadar menjadi tren sesaat. Literasi keuangan yang baik akan melahirkan investor yang berpikir jangka panjang, rasional, dan disiplin.
Investasi bukan soal menjadi kaya secara cepat, melainkan tentang menumbuhkan aset dengan strategi yang konsisten dan terencana. Dengan edukasi yang tepat, generasi muda bisa menjadi pelopor ekosistem pasar modal yang sehat, inklusif, dan berkesinambungan.
Agar tidak terjebak dalam FOMO, penting untuk memahami tujuan investasi sejak awal—apakah jangka pendek, menengah, atau panjang. Mulailah dari instrumen yang sederhana seperti reksa dana saham yang dikelola oleh Manajer Investasi, sebelum terjun langsung ke saham individu. Jangan langsung percaya rekomendasi viral, dan selalu lakukan riset secara mandiri dan berkelanjutan.
Ikuti kelas atau webinar dari lembaga resmi seperti BEI, OJK, atau institusi keuangan terpercaya. Bangun portofolio yang beragam dan jangan menaruh seluruh dana pada satu saham atau aset. Gunakan dana yang tidak akan dibutuhkan dalam waktu dekat, atau yang biasa disebut “uang dingin”.
Selalu catat dan evaluasi hasil investasi. Ini akan membantu menyempurnakan strategi ke depan. Saham memang merupakan salah satu instrumen terbaik untuk membangun kekayaan, tapi hanya jika dilakukan secara bijak dan berbasis pengetahuan. Generasi muda harus bertransformasi dari sekadar mengikuti tren menuju pemahaman menyeluruh. Perjalanan dari FOMO menuju literasi adalah langkah penting agar investasi menjadi alat pemberdayaan finansial, bukan sekadar euforia sesaat.
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.