Saham News
Media Asing Soroti Keputusan MSCI untuk Indonesia, Ini yang Jadi Perhatian Utama
/index.php
Investasi Digital - Diposting pada 25 June 2026 Waktu baca 5 menit
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa industri kesehatan Indonesia memiliki potensi untuk berkembang mandiri tanpa ketergantungan pada luar negeri. Selain itu, sektor kesehatan nasional dinilai mampu menarik investasi dalam jumlah yang sangat besar.
Dalam acara Economic Update 2026 CNBC Indonesia bertema “Capaian Kinerja dan Arah Penguatan Program Prioritas Kementerian” pada Rabu (24/6/2026), Budi menjelaskan bahwa penguatan industri kesehatan berawal dari upaya menjaga ketahanan kesehatan nasional agar tidak bergantung pada impor. Menurutnya, pengalaman selama pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa ketika terjadi lockdown, impor menjadi terhambat sehingga ketergantungan pada luar negeri menimbulkan risiko besar.
Ia menambahkan, daya tarik industri kesehatan Indonesia bagi investor didukung oleh pertumbuhan kinerja sektor tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Belanja kesehatan nasional tercatat mencapai sekitar Rp640 triliun per tahun dengan pertumbuhan berkisar 9% hingga 11%.
Budi juga mengungkapkan bahwa pemerintah tengah berdiskusi dengan sebuah perusahaan asal Jepang yang berencana menanamkan investasi sebesar US$1 miliar. Menurutnya, investasi tersebut berpotensi menghasilkan kontribusi ekonomi hingga sekitar US$3 miliar terhadap produk domestik bruto (PDB).
Selain perusahaan Jepang tersebut, sejumlah perusahaan internasional lain juga mulai melirik sektor kesehatan Indonesia, antara lain General Electric, Aspen Medical, Swire Group, dan SK Plasma. Budi menyebut Apollo Hospital juga telah datang untuk menjajaki kerja sama dengan Mayapada dan berencana masuk ke pasar Indonesia. Di sisi lain, investor domestik seperti Astra dan Djarum juga telah terlibat melalui investasi di Hermina.
Tidak hanya pada layanan kesehatan, kemampuan industri dalam negeri dalam memproduksi alat kesehatan juga terus berkembang. Saat ini Indonesia mulai mampu memproduksi berbagai peralatan seperti alat antropometri, USG, vaksin, hingga CT Scan melalui kerja sama dengan perusahaan global.
Sebagai contoh, General Electric kini bekerja sama dengan Kalbe untuk membangun industri produksi CT Scan di dalam negeri, meskipun teknologi tersebut tergolong cukup kompleks.
Sementara untuk produksi vaksin, Indonesia saat ini memiliki tiga produsen lokal, yaitu Bio Farma, Etana, dan Biotis.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.