IHSG Berbalik ke Zona Merah, Saham Bank-Bank Besar Kompak Anjlok

Saham News - Diposting pada 25 June 2026 Waktu baca 5 menit

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah pada sesi pertama perdagangan hari Rabu (24/6/2026), sehingga kembali turun ke kisaran level 6.000-an setelah sebelumnya sempat bergerak menguat.

 

Berdasarkan data RTI Business, hingga penutupan sesi I, IHSG terkoreksi 1,62% dan berada di level 6.002,20. Pada awal perdagangan, indeks sempat mencatat kenaikan hingga menyentuh level 6.171,38.

 

Volume transaksi yang tercatat mencapai 12,23 miliar saham dengan nilai perdagangan sebesar Rp6,73 triliun. Sementara itu, frekuensi transaksi saham tercatat sebanyak 1.045.975 kali.

 

Sejalan dengan pelemahan IHSG, indeks LQ45 juga mengalami penurunan sebesar 1,45% ke posisi 589.763 hingga akhir sesi pertama. Pada periode tersebut, terdapat 426 saham yang mengalami penurunan harga, 201 saham yang menguat, dan 178 saham yang bergerak tidak berubah.

 

Sampai penutupan sesi I, saham-saham sektor perbankan bergerak serempak di zona negatif. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun 2,43% ke level Rp4.020 per saham. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) melemah 2,04% menjadi Rp3.360 per saham.

 

Selain itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terkoreksi 1,72% ke posisi Rp2.860 per saham, sedangkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 0,41% menjadi Rp6.100 per saham.

 

Pada hari yang sama, MSCI memutuskan untuk tetap menempatkan pasar modal Indonesia dalam kategori Emerging Markets. Di kawasan Asia Pasifik, posisi Indonesia sejajar dengan pasar modal di China, India, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Thailand.

 

Dalam pengumumannya, MSCI juga memberikan pengakuan terhadap berbagai reformasi yang telah dilakukan oleh Self-Regulatory Organization (SRO) di pasar modal Indonesia. Reformasi tersebut meliputi peningkatan transparansi informasi bagi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%, klasifikasi investor yang lebih terperinci, implementasi kerangka High Shareholding Concentration (HSC), serta peningkatan batas free float menjadi 15%.

 

Meskipun demikian, MSCI masih menyoroti sejumlah kekhawatiran yang dimiliki investor institusional global terkait daya tarik investasi di pasar modal Indonesia. Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan struktur kepemilikan saham dan adanya indikasi aktivitas perdagangan yang dilakukan secara terkoordinasi.

 

Dalam pernyataannya, MSCI menyebut bahwa kedua isu tersebut secara signifikan membatasi kemampuan investor untuk menilai tingkat free float yang sebenarnya serta menggunakan harga pasar yang tersedia sebagai dasar dalam penyusunan portofolio dan proses replikasi indeks.

Sumber: detik.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.