Baru Debut, Saham JELI dan RANS Langsung Masuk Top Losers Sepekan

Saham News - Diposting pada 25 July 2026 Waktu baca 5 menit

JAKARTA — Penguatan pasar saham Indonesia sepanjang 20–24 Juli 2026 tidak dinikmati oleh seluruh emiten. Dua perusahaan yang baru beberapa pekan melantai di Bursa Efek Indonesia, PT Niramas Utama Tbk. dan PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk., justru masuk dalam kelompok saham dengan penurunan terdalam.

Berdasarkan tabel statistik mingguan BEI yang menjadi dasar tulisan ini, saham Niramas Utama atau JELI turun 27,93% dari Rp895 menjadi Rp645. Koreksi tersebut menempatkan JELI sebagai pelemah terbesar kedua selama sepekan.

 

Saham RANS juga masuk daftar top losers setelah melemah 14,40% dari Rp250 menjadi Rp214. Emiten sektor hiburan itu menempati posisi kesembilan.

Pergerakan keduanya menunjukkan bahwa arah indeks secara keseluruhan tidak selalu mencerminkan kinerja setiap saham, terutama emiten baru yang masih menjalani proses pembentukan harga setelah penawaran umum perdana.

 

RANS Masih di Atas Harga IPO, JELI Berada di Bawahnya

JELI resmi diperdagangkan di BEI pada 7 Juli 2026 dengan harga penawaran Rp900 per saham. Perusahaan yang dikenal melalui merek Inaco tersebut bergerak di industri makanan dan minuman olahan berbasis kelapa serta serat alami.

Dengan posisi mingguan Rp645 dalam bahan ini, harga JELI berada sekitar 28,3% di bawah harga IPO. Penurunan tersebut terjadi setelah sahamnya juga menjadi top loser pada pekan 13–17 Juli dengan koreksi 40,13% ke Rp895.

 

Situasi RANS sedikit berbeda. Perseroan mencatatkan saham perdananya pada 10 Juli 2026 dengan harga IPO Rp170 per saham. Melalui penawaran tersebut, RANS melepas 2,525 miliar saham baru dan menghimpun dana sekitar Rp429,25 miliar.

Walaupun turun dari Rp250 menjadi Rp214 selama pekan 20–24 Juli, harga tersebut masih sekitar 25,9% lebih tinggi daripada harga IPO Rp170.

 

Artinya, RANS mengalami koreksi secara mingguan, tetapi investor yang memperoleh saham pada harga penawaran masih berada dalam posisi keuntungan secara nominal—sebelum memperhitungkan biaya transaksi dan waktu pembelian.

Perbandingan ini penting karena istilah top loser hanya mengukur perubahan harga dalam periode tertentu. Status tersebut tidak otomatis berarti harga saham sudah lebih rendah daripada harga IPO atau harga beli seluruh investor.

 

FILM Memimpin Pelemahan

Posisi pertama dalam tabel top losers yang menjadi dasar bahan ditempati PT MD Entertainment Tbk. atau FILM.

Saham FILM anjlok 29,57%, dari Rp1.505 menjadi Rp1.060. Penurunan itu lebih dalam daripada koreksi JELI sebesar 27,93%.

PT Prodia Diagnostic Line Tbk. berada di urutan ketiga setelah turun 25,91% dari Rp386 menjadi Rp286. Perusahaan tersebut merupakan produsen perangkat dan reagen diagnostik in vitro.

 

Berikut daftar lengkap berdasarkan tabel mingguan dalam bahan:

Peringkat Emiten Kode Harga awal Harga akhir Perubahan
1 PT MD Entertainment Tbk. FILM Rp1.505 Rp1.060 -29,57%
2 PT Niramas Utama Tbk. JELI Rp895 Rp645 -27,93%
3 PT Prodia Diagnostic Line Tbk. PRDL Rp386 Rp286 -25,91%
4 PT Puri Sentul Permai Tbk. KDTN Rp585 Rp440 -24,79%
5 PT Harapan Duta Pertiwi Tbk. HOPE Rp216 Rp177 -18,06%
6 PT Bekasi Asri Pemula Tbk. BAPA Rp228 Rp187 -17,98%
7 PT City Retail Developments Tbk. NIRO Rp162 Rp137 -15,43%
8 PT MNC Digital Entertainment Tbk. MSIN Rp456 Rp386 -15,35%
9 PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk. RANS Rp250 Rp214 -14,40%
10 PT Lion Metal Works Tbk. LION Rp388 Rp340 -12,37%

Daftar tersebut memperlihatkan bahwa pelemahan tidak hanya dialami saham IPO. Emiten media dan hiburan, properti, layanan kesehatan, manufaktur, serta perdagangan ritel properti juga berada dalam kelompok yang sama.

Namun, data harga mingguan saja tidak menjelaskan penyebab penurunan masing-masing saham. Tanpa keterbukaan perusahaan, perubahan fundamental, atau informasi transaksi yang lebih terperinci, koreksi tidak seharusnya langsung dikaitkan dengan satu kejadian tertentu.

 

Aktivitas Bursa Justru Melonjak

Di tengah koreksi sepuluh saham tersebut, pasar secara keseluruhan masih mencatatkan pertumbuhan mingguan.

IHSG naik 0,34% dan berakhir di posisi 6.196,430, dibandingkan 6.175,535 pada akhir pekan sebelumnya. Kapitalisasi pasar juga bertambah 1,13% dari Rp10.749 triliun menjadi Rp10.870 triliun.

Kenaikan indeks berlangsung bersama peningkatan aktivitas perdagangan yang cukup besar.

 

Rata-rata volume transaksi harian melonjak 66,88% menjadi 43,68 miliar saham dari 26,17 miliar saham per hari. Rata-rata nilai perdagangan meningkat 41,21% menjadi Rp19,76 triliun, sedangkan frekuensi transaksi bertambah 14,4% menjadi 2,67 juta kali per hari.

Indikator pasar Pekan 20–24 Juli Perubahan
IHSG 6.196,430 Naik 0,34%
Kapitalisasi pasar Rp10.870 triliun Naik 1,13%
Rata-rata volume harian 43,68 miliar saham Naik 66,88%
Rata-rata nilai transaksi Rp19,76 triliun Naik 41,21%
Rata-rata frekuensi harian 2,67 juta transaksi Naik 14,40%

Peningkatan volume dan frekuensi tidak selalu berarti harga seluruh saham naik. Aktivitas perdagangan dapat meningkat ketika investor melakukan pembelian, penjualan, rotasi portofolio, maupun transaksi jangka pendek.

Karena setiap transaksi membutuhkan pembeli dan penjual, tingginya volume juga dapat muncul bersamaan dengan tekanan harga yang besar pada saham tertentu.

 

Indeks Menguat meski Jumat Tertekan

Kenaikan mingguan IHSG hanya sebesar 0,34% karena pasar mengalami koreksi tajam pada perdagangan terakhir.

Pada Jumat, 24 Juli, IHSG turun 1,88% menjadi 6.196,430. Pelemahan tersebut memangkas sebagian besar kenaikan yang sempat terbentuk pada awal hingga pertengahan pekan.

 

Kondisi tersebut menjelaskan bagaimana indeks dapat tetap positif secara mingguan, sementara banyak saham mencatat penurunan dua digit.

IHSG merupakan indeks berbobot kapitalisasi pasar. Saham berukuran besar dapat memberikan pengaruh lebih kuat terhadap indeks daripada saham dengan kapitalisasi dan bobot lebih kecil.

Akibatnya, sebuah pekan dapat berakhir dengan kenaikan indeks meskipun sejumlah saham individu mengalami koreksi tajam.

 

Investor Asing Masih Mencatat Arus Keluar

Tekanan lain berasal dari pergerakan investor asing.

Pada perdagangan Jumat, investor asing mencatatkan penjualan bersih sekitar Rp1,36 triliun. Secara kumulatif sejak awal 2026, nilai net foreign sell di BEI mencapai Rp79,09 triliun.

Arus keluar tersebut menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas perdagangan belum sepenuhnya disertai perubahan sentimen investor global terhadap pasar Indonesia.

 

Investor domestik tetap menjadi sumber penting likuiditas. Namun, aksi jual asing dapat memberikan tekanan khusus pada saham-saham besar dan likuid yang menjadi bagian dari portofolio institusi internasional.

 

Volatilitas Saham Baru Perlu Dicermati

Masuknya JELI dan RANS dalam daftar top losers kembali memperlihatkan risiko perdagangan saham yang baru tercatat.

Pada periode awal setelah IPO, jumlah saham yang tersedia, besarnya permintaan investor ritel, aksi pemegang saham awal, serta proses pencarian harga wajar dapat menghasilkan perubahan harga yang lebar.

 

Harga IPO juga tidak menjamin saham akan terus meningkat. Sebaliknya, koreksi mingguan tidak selalu berarti prospek bisnis perusahaan telah berubah.

Investor perlu memisahkan tiga hal: harga penawaran perdana, harga yang terbentuk selama euforia awal pencatatan, dan nilai yang dinilai layak berdasarkan kinerja serta prospek perusahaan.

 

Untuk JELI, harga dalam tabel mingguan telah berada di bawah harga IPO. RANS masih berada di atas harga penawaran, tetapi telah turun dari posisi pekan sebelumnya.

Perbedaan itu menunjukkan pentingnya menentukan titik pembanding sebelum menyimpulkan apakah sebuah investasi sedang untung atau rugi.

 

Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi. Daftar top losers menggambarkan perubahan harga historis dan bukan rekomendasi untuk membeli, mempertahankan, atau menjual saham. Setiap keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

Sumber: bisnis.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.