IHSG Melonjak Lebih dari 2%, Ini Penyebab Utama yang Mendorong Reli Bursa Hari Ini

Saham News - Diposting pada 03 July 2026 Waktu baca 5 menit

Pasar saham Indonesia mengawali perdagangan Jumat (3/7/2026) dengan performa yang sangat positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung bergerak di zona hijau sejak pembukaan, melanjutkan tren penguatan yang telah terjadi pada sesi sebelumnya. Optimisme investor terlihat sejak awal perdagangan, didorong oleh penguatan saham-saham berkapitalisasi besar di berbagai sektor.

 

Pada pukul 09.00 WIB, IHSG menguat 1,07% atau bertambah 61 poin ke posisi 5.806,17. Momentum beli terus berlanjut sehingga sekitar tiga puluh menit kemudian indeks berhasil menguat sekitar 2,39% dan mencapai level 5.881.

 

Aktivitas perdagangan berlangsung cukup ramai. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp2,59 triliun dengan volume perdagangan sekitar 5,57 miliar saham dalam lebih dari 358 ribu transaksi. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 460 saham mencatat kenaikan harga, 101 saham mengalami penurunan, sedangkan 155 saham diperdagangkan tanpa perubahan.

 

Pada awal sesi, saham-saham dengan nilai transaksi terbesar didominasi oleh BBCA, BBRI, BMRI, BRPT, serta TPIA. Berdasarkan data Refinitiv, seluruh sektor di Bursa Efek Indonesia bergerak positif, dengan sektor utilitas, bahan baku, keuangan, dan teknologi menjadi penyumbang kenaikan terbesar.

 

Kinerja IHSG terutama didorong oleh penguatan saham-saham unggulan, khususnya sektor perbankan, perusahaan BUMN, serta emiten konglomerasi. Saham Bank Central Asia menjadi kontributor terbesar terhadap kenaikan indeks dengan sumbangan sekitar 13,27 poin indeks. Bank Mandiri menyusul dengan kontribusi sekitar 9 poin, sedangkan Bank Rakyat Indonesia dan Bank Negara Indonesia masing-masing memberikan tambahan sekitar 4,39 poin dan 2,98 poin.

 

Dari kelompok konglomerasi, saham AMMN, BREN, dan DCII turut menjadi pendorong utama penguatan pasar. Sementara itu, Astra International menyumbang sekitar 5,72 poin terhadap kenaikan IHSG. Dua emiten BUMN lainnya, yakni Aneka Tambang dan Telkom Indonesia, masing-masing memberikan kontribusi sekitar tiga poin terhadap pergerakan indeks.

 

Mayoritas saham BUMN yang aktif diperdagangkan juga membukukan penguatan. Sentimen positif tersebut muncul setelah Danantara mengumumkan telah menyelesaikan laporan keuangan seluruh BUMN hingga Desember 2025, sekaligus menyoroti peningkatan kinerja perusahaan-perusahaan pelat merah hingga April 2026.

 

Selain itu, saham-saham konglomerasi secara umum juga bergerak lebih tinggi. Penguatan turut terjadi pada kelompok perbankan besar kategori KBMI III dan KBMI IV, sementara saham-saham sektor pertambangan emas maupun nikel juga mencatat kinerja positif.

 

Dari sisi eksternal, pasar memperoleh dukungan dari sejumlah perkembangan di Amerika Serikat menjelang peringatan Hari Kemerdekaan AS ke-250 pada Sabtu (4/7/2026). Data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan sinyal yang beragam, namun secara keseluruhan mengindikasikan perlambatan ekonomi. Kondisi tersebut meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan mendatang sambil terus mengevaluasi perkembangan inflasi. Apabila pelemahan pasar tenaga kerja berlanjut dan tekanan inflasi semakin mereda dalam beberapa bulan ke depan, peluang kenaikan suku bunga diperkirakan semakin kecil.

 

Di sisi lain, indeks dolar Amerika Serikat turun ke level 100,856, yang merupakan titik terendah sejak 19 Juni 2026. Pelemahan dolar tersebut mencerminkan berkurangnya minat investor terhadap mata uang AS dan diharapkan dapat memberikan ruang bagi penguatan nilai tukar rupiah. Perkembangan tersebut dipandang sebagai sentimen yang mendukung pasar keuangan Indonesia.

 

Sementara itu, bursa saham di kawasan Asia-Pasifik bergerak dengan arah yang berbeda-beda. Pergeseran dana investor dari saham-saham teknologi masih menjadi faktor yang memengaruhi perdagangan setelah sektor teknologi dan semikonduktor di Wall Street mengalami tekanan pada sesi sebelumnya.

 

Di Jepang, indeks Nikkei 225 dibuka melemah sekitar 0,86%, sedangkan indeks Topix justru menguat sekitar 0,34%. Bursa Korea Selatan juga menunjukkan pergerakan yang beragam, dengan indeks Kospi naik sekitar 0,97%, sementara Kosdaq turun sekitar 1,12%. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 mencatat kenaikan sekitar 0,42%.

 

Kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong diperdagangkan di kisaran 23.061, sedikit lebih tinggi dibandingkan penutupan sebelumnya di level 23.055,03.

 

Pergerakan bursa Asia mengikuti penutupan pasar saham Amerika Serikat yang berlangsung bervariasi. Indeks Dow Jones mencetak rekor penutupan baru setelah laporan ketenagakerjaan bulan Juni yang lebih lemah dari perkiraan meningkatkan optimisme bahwa Federal Reserve berpotensi mulai melonggarkan kebijakan moneternya. Dow Jones Industrial Average menguat 594,83 poin atau 1,14% hingga mencapai rekor 52.900,07, bahkan sempat menyentuh level intraday tertinggi di 52.903,85.

 

Sebaliknya, indeks S&P 500 berakhir hampir tidak berubah dengan kenaikan kurang dari satu poin ke posisi 7.483,24. Di sisi lain, indeks Nasdaq terkoreksi sekitar 0,8% dan ditutup pada level 25.832,67.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.