Saham News
Net Sell Asing di BEI Tembus Rp94 Triliun, Saham Apa Paling Banyak Dilepas?
/index.php
Saham News - Diposting pada 29 July 2026 Waktu baca 5 menit
JAKARTA — Pasar saham Indonesia kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa, 28 Juli 2026. Indeks Harga Saham Gabungan berakhir turun 0,89% atau sekitar 55,19 poin ke posisi 6.130,59.
Pelemahan tersebut melanjutkan koreksi hari sebelumnya, ketika IHSG turun 0,17% ke 6.185,78. Pada perdagangan Selasa, tekanan jual meningkat menjelang penutupan setelah indeks hanya melemah tipis pada sesi pertama.
Sebanyak 360 saham berakhir melemah, sedangkan 265 saham menguat dan 172 saham tidak mengalami perubahan harga. Nilai perdagangan dalam data yang menjadi dasar artikel mencapai sekitar Rp10,92 triliun, dengan volume 25,45 miliar saham dan frekuensi 1,67 juta transaksi.
Besarnya jumlah saham yang terkoreksi menunjukkan pelemahan terjadi cukup luas. Nilai transaksi yang lebih rendah dibandingkan periode perdagangan aktif sebelumnya juga menggambarkan terbatasnya kekuatan pembelian ketika indeks bergerak turun.
Mayoritas sektor saham berakhir di zona merah.
Sektor properti mencatat penurunan sekitar 3,25%, disusul energi 1,75%, industri 1%, teknologi 0,88%, keuangan 0,85%, infrastruktur 0,76%, dan kesehatan 0,63%.
Sektor barang konsumsi nonprimer menjadi pengecualian dengan kenaikan sekitar 0,52%.
Tekanan pada sektor keuangan, energi, dan properti memiliki pengaruh penting terhadap indeks karena kelompok tersebut mencakup sejumlah emiten berkapitalisasi besar.
Di sisi lain, saham seperti KOBX, ALKA, DWGL, MCAS, dan ZONE masih mencatat kenaikan tajam. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peluang perdagangan tetap muncul pada saham tertentu meskipun arah pasar secara umum melemah.
Investor asing membukukan penjualan bersih sekitar Rp1,07 triliun di seluruh pasar.
Dari jumlah tersebut, sekitar Rp788,57 miliar berasal dari pasar reguler. Penjualan bersih di pasar negosiasi dan tunai mencapai sekitar Rp276,89 miliar.
Data sumber lain mencatat angka keseluruhan sekitar Rp1,06 triliun. Selisih kecil tersebut dapat berasal dari pembulatan atau waktu penarikan data.
Tekanan asing terutama terjadi pada sejumlah saham besar. BMRI mencatat net sell sekitar Rp150,19 miliar, diikuti NSSS Rp141,95 miliar, BBRI Rp135,63 miliar, MORA Rp72,05 miliar, dan MKPI Rp68,95 miliar.
Besarnya penjualan pada saham perbankan menunjukkan investor global masih berhati-hati terhadap aset Indonesia. Arus keluar dari saham berkapitalisasi besar juga dapat memberikan tekanan yang lebih besar terhadap IHSG dibandingkan penjualan pada emiten dengan bobot kecil.
Di tengah arus keluar yang besar, investor asing tetap melakukan pembelian selektif.
Berdasarkan daftar Stockbit dalam bahan, PT Timah Tbk. atau TINS mencatat net foreign buy terbesar dengan nilai Rp33,52 miliar. PT Barito Pacific Tbk. atau BRPT menyusul dengan pembelian bersih Rp32,01 miliar.
Dua saham tersebut juga berada di posisi teratas pada rekap pasar lain yang berhasil diverifikasi. Akumulasi TINS sejalan dengan tren pembelian asing selama Juli, ketika nilai net buy bulan berjalan sebelumnya telah mencapai lebih dari Rp200 miliar.
TINS memberikan eksposur terhadap komoditas timah, sedangkan BRPT mewakili bisnis petrokimia dan energi. Masuknya kedua emiten tersebut memperlihatkan minat asing terhadap saham berbasis sumber daya masih tersedia meskipun kondisi indeks sedang lemah.
PT Bank Central Asia Tbk. mencatat pembelian bersih asing sekitar Rp19,09 miliar.
Masuknya BBCA berbeda dari arah transaksi asing pada bank besar lainnya. Pada saat BMRI dan BBRI mengalami tekanan jual, sebagian dana asing masih mengalir ke BBCA.
PT Gudang Garam Tbk. memperoleh net buy Rp17,31 miliar, sedangkan PT Rukun Raharja Tbk. mencatat Rp14,66 miliar.
Pembelian juga mengalir ke PT Bach Multi Global Tbk. BACH tercatat menjadi salah satu saham dengan volume beli bersih asing terbesar, mencapai lebih dari 20 juta saham berdasarkan rekap transaksi lain.
Investor asing juga memilih saham Semen Indonesia, Elnusa, Indofood CBP, dan Medikaloka Hermina. Komposisi tersebut mencakup sektor konstruksi, jasa energi, kebutuhan konsumen, serta layanan kesehatan.
Keragaman sektor menunjukkan pembelian tidak hanya berorientasi pada saham siklikal. INDF, ICBP, GGRM, dan HEAL memiliki karakteristik permintaan yang relatif defensif dibandingkan emiten yang sangat bergantung pada siklus komoditas atau properti.
Berikut daftar berdasarkan data Stockbit yang disampaikan dalam bahan:
| Peringkat | Emiten | Kode | Net foreign buy |
|---|---|---|---|
| 1 | PT Timah Tbk. | TINS | Rp33,52 miliar |
| 2 | PT Barito Pacific Tbk. | BRPT | Rp32,01 miliar |
| 3 | PT Bank Central Asia Tbk. | BBCA | Rp19,09 miliar |
| 4 | PT Gudang Garam Tbk. | GGRM | Rp17,31 miliar |
| 5 | PT Rukun Raharja Tbk. | RAJA | Rp14,66 miliar |
| 6 | PT Bach Multi Global Tbk. | BACH | Rp11,42 miliar |
| 7 | PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. | SMGR | Rp9,71 miliar |
| 8 | PT Elnusa Tbk. | ELSA | Rp6,45 miliar |
| 9 | PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. | ICBP | Rp5,48 miliar |
| 10 | PT Medikaloka Hermina Tbk. | HEAL | Rp4,72 miliar |
Akumulasi pembelian bersih pada sepuluh saham tersebut mencapai sekitar Rp154,37 miliar.
Nilai itu jauh lebih kecil dibandingkan total net sell asing sekitar Rp1,07 triliun. Artinya, pembelian pada sepuluh emiten belum mampu menutup penjualan yang berlangsung pada saham-saham lain.
Perlu dicatat bahwa rekap lain juga memasukkan DAAZ dengan pembelian bersih Rp29,25 miliar. Perbedaan dapat berasal dari cakupan pasar, waktu pengambilan data, atau penyedia yang digunakan.
Data perdagangan memperlihatkan dua kondisi yang berlangsung bersamaan.
Investor asing mengurangi eksposur terhadap pasar Indonesia secara keseluruhan, tetapi tetap mengakumulasi saham tertentu yang dinilai memiliki prospek komoditas, valuasi menarik, likuiditas memadai, atau karakter bisnis defensif.
Karena itu, net foreign buy pada sebuah saham tidak otomatis berarti tren harganya akan naik. Pembelian asing dapat bersifat jangka pendek, bagian dari penyeimbangan portofolio, atau diimbangi penjualan oleh investor lain.
Investor juga perlu memperhatikan perbedaan antara nilai dan volume transaksi. Sebuah saham berharga rendah dapat menempati posisi tinggi berdasarkan volume, tetapi belum tentu berdasarkan nilai rupiahnya.
Pelemahan IHSG ke 6.130 menunjukkan sentimen pasar belum pulih. Konfirmasi perbaikan memerlukan masuknya dana asing yang lebih konsisten, peningkatan nilai transaksi, dan kenaikan yang lebih merata di berbagai sektor.
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi. Data transaksi asing dan penyebutan saham bukan rekomendasi, penawaran, maupun ajakan untuk membeli atau menjual efek. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.