Saham News
Asing Kembali Borong Saham RI saat Bursa Global Bergejolak, Ada Apa?
/index.php
Saham News - Diposting pada 21 July 2026 Waktu baca 5 menit
JAKARTA — Saham PT Bank Central Asia Tbk. melanjutkan pemulihan pada perdagangan Selasa, 21 Juli 2026, setelah mencatat lonjakan tajam pada akhir pekan sebelumnya.
BBCA dibuka di level Rp6.550, meningkat Rp75 dari posisi penutupan Senin sebesar Rp6.475. Dalam perdagangan intraday, saham bank swasta terbesar Indonesia tersebut sempat berada di sekitar Rp6.525.
Apabila dihitung dari posisi Rp6.125 pada 14 Juli, harga Rp6.525 mencerminkan kenaikan Rp400 atau sekitar 6,53%. Namun, reli jangka pendek itu belum sepenuhnya menutup tekanan sejak awal tahun. Dibandingkan penutupan 2 Januari 2026 sebesar Rp8.025, BBCA masih turun sekitar Rp1.500 atau 18,69%.
Pergerakan tersebut memunculkan pertanyaan bagi investor ritel: apakah kenaikan terbaru merupakan awal pemulihan yang lebih panjang atau hanya rebound setelah koreksi besar?
Salah satu penopang penguatan BBCA adalah kembalinya pembelian investor asing.
Pada perdagangan Kamis, 16 Juli 2026, BBCA mencatatkan pembelian bersih asing sekitar Rp186,7 miliar. Sehari berikutnya, nilai net buy asing di pasar reguler dilaporkan meningkat menjadi sekitar Rp698,3 miliar. Saham BBCA pun menjadi salah satu saham yang paling banyak dikoleksi investor asing pada akhir pekan.
Masuknya dana asing terjadi bersamaan dengan kenaikan harga BBCA sebesar 4,02% menjadi Rp6.475 pada Jumat. Pada sesi tersebut, saham BBCA juga menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar, mencapai sekitar Rp2,04 triliun di pasar reguler.
Angka arus asing dapat berbeda menurut sumber data karena ada laporan yang hanya menghitung pasar reguler, sedangkan laporan lain memasukkan transaksi tunai dan negosiasi. Transaksi crossing bernilai besar dapat membuat posisi net buy seluruh pasar berbeda dari angka pasar reguler.
Selain pembelian asing di pasar reguler, perdagangan Jumat juga diwarnai transaksi tutup sendiri atau crossing BBCA di pasar negosiasi senilai sekitar Rp1,2 triliun.
Transaksi utama dilakukan melalui broker berkode BK, yakni J.P. Morgan Sekuritas Indonesia. Berdasarkan data pasar yang dikutip sejumlah laporan, transaksi tersebut mencakup sekitar 1,9 juta lot pada harga rata-rata Rp6.400 per saham. Broker yang sama tercatat berada di sisi beli dan jual.
Crossing dengan broker yang sama sebagai pembeli dan penjual tidak otomatis dapat dibaca sebagai aksi akumulasi baru. Transaksi seperti itu dapat berkaitan dengan pemindahan kepemilikan antarrekening, penataan portofolio institusi, transaksi pihak terafiliasi, atau kebutuhan penyelesaian tertentu.
Karena dilakukan di pasar negosiasi, harga transaksi juga tidak selalu mencerminkan harga keseimbangan yang terbentuk melalui antrean beli dan jual di pasar reguler.
Laporan mengenai transaksi melalui Henan Putihrai Sekuritas perlu dibaca secara hati-hati. Apabila nilainya benar sebesar Rp492,8 miliar pada harga Rp7.400, volumenya secara matematis harus sekitar 666 ribu lot, bukan hanya 666 lot.
Di tengah pemulihan harga, Kiwoom Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi buy untuk BBCA dengan target harga 12 bulan sebesar Rp8.075 per saham.
Dibandingkan posisi Rp6.525, target tersebut menunjukkan potensi kenaikan sekitar 23,8%. Target harga bukan jaminan bahwa saham akan mencapai level tersebut karena perhitungannya bergantung pada asumsi pertumbuhan laba, valuasi, kondisi ekonomi, dan sentimen pasar.
Kiwoom menilai fundamental inti BCA masih kuat meskipun lingkungan operasional menjadi lebih menantang. Pendapatan operasional kuartal I-2026 dilaporkan mencapai Rp27,8 triliun, tumbuh sekitar 3,3% secara tahunan. Pendapatan nonbunga naik menjadi Rp6,6 triliun, sementara pendapatan bunga bersih relatif terbatas.
Laba bersih BCA dan entitas anak mencapai Rp14,7 triliun pada tiga bulan pertama 2026. Pencapaian tersebut didukung efisiensi biaya dan pertumbuhan sejumlah lini bisnis di tengah tekanan terhadap margin bunga.
Kekuatan utama BCA tetap berasal dari dana murah atau current account and savings account.
CASA mencapai Rp1.089 triliun pada akhir Maret 2026, tumbuh 11,2% dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah tersebut mencakup sekitar 85,2% dari keseluruhan dana pihak ketiga BCA.
Dominasi CASA memberikan biaya dana yang relatif rendah. Keunggulan ini menjadi penting ketika persaingan likuiditas perbankan meningkat dan suku bunga berada pada level tinggi.
Total kredit BCA tumbuh 5,6% menjadi sekitar Rp994 triliun. Kredit produktif mencapai Rp760,2 triliun atau naik 7,8%, sementara pembiayaan UMKM meningkat 12% menjadi Rp146 triliun.
Meski demikian, laju pertumbuhan kredit secara keseluruhan masih lebih lambat daripada pertumbuhan dana murah. Kondisi tersebut dapat menjadi keuntungan dari sisi likuiditas, tetapi juga berpotensi menahan pendapatan bunga apabila penyaluran kredit tidak kembali meningkat.
BCA mencatat rasio kredit bermasalah bruto atau gross non-performing loan sebesar 1,8%. Rasio loan at risk berada di level 5,1%.
Perseroan juga memiliki pencadangan sekitar 174,6% terhadap NPL dan 69,7% terhadap LAR. Angka tersebut menunjukkan bahwa kualitas aset serta bantalan terhadap potensi kerugian kredit masih berada pada kondisi yang relatif kuat.
Kualitas kredit yang terjaga menjadi faktor penting karena perlambatan ekonomi atau kenaikan biaya hidup dapat menekan kemampuan pembayaran debitur, terutama pada segmen konsumer dan usaha kecil.
Terdapat beberapa faktor yang dapat mendukung kelanjutan pemulihan BBCA.
Pertama, pertumbuhan kredit perlu kembali meningkat tanpa mengorbankan kualitas aset. Kedua, BCA harus mempertahankan dominasi CASA agar biaya pendanaan tetap rendah. Ketiga, tekanan terhadap net interest margin perlu mereda agar pertumbuhan kredit dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba yang lebih kuat.
Kembalinya arus asing juga dapat mendukung valuasi BBCA. Sebagai salah satu saham dengan kapitalisasi terbesar dan likuiditas tinggi, BBCA sering menjadi tujuan utama ketika investor global menambah eksposur terhadap pasar saham Indonesia.
Namun, reli jangka pendek juga meningkatkan risiko aksi ambil untung. Harga yang telah naik lebih dari 6% dalam beberapa sesi dapat mengalami konsolidasi, terutama apabila pasar menilai kenaikannya terlalu cepat dibandingkan perubahan fundamental.
Risiko utama BBCA berasal dari tekanan margin bunga yang berlangsung lebih lama, pertumbuhan kredit yang lemah, kenaikan biaya kredit, dan memburuknya kondisi ekonomi.
Pergerakan rupiah, kebijakan suku bunga Bank Indonesia, imbal hasil obligasi, serta arus modal asing juga dapat memengaruhi valuasi saham perbankan.
Investor perlu membedakan antara kualitas perusahaan dan harga yang layak dibayar. Perusahaan dengan fundamental kuat tetap dapat menghasilkan imbal hasil yang kurang optimal apabila saham dibeli pada harga terlalu tinggi atau tanpa mempertimbangkan jangka waktu investasi.
Target Rp8.075 menunjukkan bahwa Kiwoom masih melihat potensi pemulihan dalam 12 bulan. Akan tetapi, keputusan investor sebaiknya tidak hanya bertumpu pada satu target analis, transaksi asing selama dua hari, atau crossing jumbo.
Kinerja kuartal berikutnya, perkembangan margin bunga, pertumbuhan kredit, kualitas aset, dan valuasi relatif terhadap bank besar lain tetap menjadi indikator yang lebih penting untuk menilai apakah pemulihan BBCA dapat berlanjut.
Disclaimer: Artikel ini hanya bertujuan memberikan informasi dan edukasi. Penyebutan saham, target harga, serta analisis bukan rekomendasi personal atau ajakan untuk membeli maupun menjual efek. Setiap keputusan investasi merupakan tanggung jawab masing-masing investor.
Sumber: kompas.id
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.