Teknologi Terkini
Xiaomi Siap Luncurkan Kacamata Pintar di Indonesia, Ini Bocoran Fitur & Harganya
/index.php
Berita Terkini - Diposting pada 17 January 2026 Waktu baca 5 menit
Amerika Serikat meningkatkan nada kerasnya terhadap Kuba setelah keberhasilan operasi militer di Venezuela, menandakan bahwa Washington akan menerapkan kebijakan yang lebih tegas terhadap Havana kecuali pemerintah komunis di pulau tersebut mengubah arah kebijakannya.
Jeremy Lewin, pejabat Departemen Luar Negeri AS yang menangani bantuan luar negeri dan isu kemanusiaan, mengatakan kepada wartawan pada Kamis bahwa Kuba dihadapkan pada pilihan yang jelas.
Ia menegaskan bahwa jika Havana terus melakukan penindasan serta menyalahgunakan pengiriman bantuan terbaru dari AS, maka Kuba akan dimintai pertanggungjawaban.
Menurut Lewin, operasi pasukan khusus yang berhasil menangkap Nicolas Maduro di Caracas awal bulan ini seharusnya menjadi peringatan serius bagi Kuba mengenai kesungguhan ancaman Amerika Serikat.
Lewin menambahkan bahwa peristiwa di Venezuela seharusnya menjadi pesan tegas bagi rezim Kuba dan para pemimpin otoriter lain di dunia agar tidak meremehkan Presiden Donald Trump, seraya menekankan bahwa era kelemahan, kekacauan, konflik, dan campur tangan asing di kawasan tersebut telah berakhir.
Hingga kini, baik Kedutaan Besar Kuba di Washington maupun Kementerian Luar Negeri Kuba di Havana belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Sebelumnya, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan pengiriman bantuan senilai 3 juta dolar AS bagi warga Kuba yang terdampak Badai Melissa. Bantuan tersebut meliputi makanan, peralatan pemurnian air, perlengkapan dapur, selimut, dan lampu tenaga surya, yang dikirim dari Miami ke wilayah Holguin dan Santiago de Cuba.
Namun, Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez menyatakan melalui media sosial X bahwa meskipun Kuba pada prinsipnya bersedia menerima bantuan, Amerika Serikat dianggap memanfaatkan isu kemanusiaan untuk kepentingan politik dan manipulasi.
Selama bertahun-tahun, Kuba menjadi sekutu dekat Venezuela dengan menyediakan tenaga medis, aparat keamanan, dan dukungan intelijen sebagai imbalan atas pasokan minyak bersubsidi. Dalam operasi AS baru-baru ini, hampir tiga puluh agen Kuba yang bertugas melindungi Maduro dilaporkan tewas, dan jenazah mereka dipulangkan ke Kuba dalam sebuah upacara yang dihadiri Raul Castro serta Presiden Miguel Diaz-Canel.
Selain menghadapi krisis ekonomi dan kemanusiaan yang kian memburuk akibat kelangkaan pangan, bahan bakar, dan obat-obatan, Kuba juga menjalin hubungan erat dengan negara-negara yang dianggap musuh AS seperti Rusia dan Iran, yang semakin memicu kekhawatiran Washington.
Pasca penangkapan Maduro, spekulasi mengenai kemungkinan Kuba menjadi sasaran berikutnya pemerintahan Trump semakin menguat, meskipun Trump sempat menyatakan bahwa rezim tersebut terlalu lemah dan berpotensi runtuh tanpa intervensi langsung.
Namun, pernyataan Menteri Luar Negeri Marco Rubio mencerminkan sikap yang lebih keras. Ia mengatakan bahwa jika dirinya berada di pemerintahan Kuba, ia akan merasa sangat khawatir.
Bagi Rubio, yang keluarganya meninggalkan Kuba sebelum Fidel Castro berkuasa pada 1959, runtuhnya rezim Kuba akan menjadi pencapaian pribadi sekaligus modal penting bagi ambisi politiknya di masa depan.
Sumber: bloombergtechnoz.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.