China Bangun 'Hong Kong' Baru Dekat Indonesia, Nilai Proyek Fantastis Rp1.760 Triliun

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 17 January 2026 Waktu baca 5 menit

Pemerintah China secara resmi mengubah Pulau Hainan menjadi kawasan pabean khusus dengan nilai mencapai US$113 miliar atau sekitar Rp1.760 triliun, menjadikannya proyek perdagangan bebas terbesar yang pernah dijalankan negara tersebut. Inisiatif bertajuk Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan (Hainan FTP) ini mulai berlaku pada 18 Desember 2024, dengan sistem kepabeanan yang dipisahkan dari wilayah daratan utama China.

 

Melalui penurunan tarif dan pelonggaran aturan, kebijakan ini diarahkan untuk menarik minat investor asing sekaligus menjadikan Hainan sebagai pusat perdagangan alternatif di luar Hong Kong, di tengah tekanan ekonomi global.

 

Kebijakan baru tersebut secara signifikan meningkatkan proporsi barang yang dapat masuk tanpa bea masuk, dari sebelumnya hanya 21% menjadi 74%. Jumlah kategori barang bebas tarif juga diperluas lebih dari tiga kali lipat, hingga mencakup lebih dari 6.600 jenis produk.

 

Dalam skema ini, produk yang diproses di Hainan dapat dipasarkan ke China daratan tanpa dikenai tarif, asalkan memiliki nilai tambah lokal di atas 30%. Selain itu, kebijakan ini membuka akses bagi perusahaan asing ke sektor-sektor jasa tertentu yang sebelumnya dibatasi, serta menyederhanakan mekanisme investasi lintas negara.

 

Proyek ini diproyeksikan mempercepat integrasi rantai pasok regional dan mempererat hubungan ekonomi China dengan negara-negara Asia Tenggara, mengingat posisi geografis Hainan yang strategis di kawasan selatan.

 

Wakil Perdana Menteri China, He Lifeng, menyatakan bahwa pelabuhan ini berpotensi menjadi pintu utama bagi babak baru keterbukaan ekonomi China terhadap dunia internasional.

 

Respons pasar terhadap peluncuran Hainan FTP pun positif, ditandai dengan penguatan saham di bursa China dan Hong Kong pada hari Senin seiring masuknya indikasi aliran modal baru. Para analis menilai Hainan berperan sebagai arena uji coba berisiko rendah bagi upaya China menuju liberalisasi ekonomi tingkat lanjut.

 

Namun demikian, ekonom senior Economist Intelligence Unit, Xu Tianchen, menilai bahwa meskipun model Hainan menawarkan liberalisasi yang terkontrol dan bermanfaat bagi pemulihan rantai pasok, kawasan ini belum mampu menandingi keunggulan Hong Kong dalam hal sistem hukum dan keterbukaan sektor keuangan.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

TAG :