Berita Terkini
Anggaran MBG Bisa Turun di Bawah Rp200 T, Purbaya Ungkap Efisiensi Baru
/index.php
Saham News - Diposting pada 04 September 2026 Waktu baca 5 menit
Investor asing kembali menunjukkan minat besar terhadap saham perbankan Indonesia.
Dalam lima hari perdagangan yang berakhir pada 3 September 2026, dana asing tercatat mengalir deras ke empat bank besar, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).
Total akumulasi net buy asing pada empat saham tersebut mencapai sekitar Rp3,87 triliun.
Di antara bank jumbo tersebut, BBRI menjadi saham yang paling banyak dikoleksi investor asing.
Sepanjang periode 28 Agustus hingga 3 September 2026, BBRI mencatat net buy asing sekitar Rp1,41 triliun.
BBCA berada di posisi berikutnya dengan akumulasi sekitar Rp1,19 triliun hingga Rp1,20 triliun, tergantung pembulatan data yang digunakan.
Sementara BMRI mencatat net buy sekitar Rp1 triliun dan BBNI sekitar Rp261,4 miliar.
Jika digabungkan, BBRI, BBCA, dan BMRI menyumbang sekitar Rp3,61 triliun dari total akumulasi pada empat bank besar tersebut.
Dengan kata lain, mayoritas aliran dana asing ke kelompok bank jumbo selama periode itu terkonsentrasi pada tiga saham tersebut.
Berikut 10 saham dengan akumulasi net buy asing terbesar selama periode 28 Agustus–3 September 2026 berdasarkan data perdagangan yang dipublikasikan:
| Peringkat | Saham | Net Buy Asing |
|---|---|---|
| 1 | BBRI | Rp1,41 triliun |
| 2 | BBCA | Rp1,19 triliun |
| 3 | BMRI | Rp1,00 triliun |
| 4 | BBNI | Rp261,4 miliar |
| 5 | TPIA | Rp238,8 miliar |
| 6 | RLCO | Rp180,8 miliar |
| 7 | DSSA | Rp168,1 miliar |
| 8 | TAPG | Rp147,6 miliar |
| 9 | MBMA | Rp140,2 miliar |
| 10 | ERAA | Rp126,9 miliar |
Daftar tersebut menunjukkan bahwa empat dari sepuluh saham dengan net buy asing terbesar berasal dari sektor perbankan.
Namun, besarnya net buy tidak secara otomatis berarti saham-saham tersebut akan terus menguat.
Aksi beli asing juga terlihat kuat pada perdagangan Kamis, 3 September 2026.
Pada hari tersebut, investor asing mencatat net buy sekitar Rp1,07 triliun di seluruh pasar.
Nilai pembelian asing mencapai sekitar Rp6,22 triliun, sementara penjualannya sekitar Rp5,15 triliun.
BMRI menjadi saham dengan net buy asing terbesar pada sesi tersebut, mencapai sekitar Rp471,4 miliar.
BBCA mengikuti dengan Rp207,1 miliar, sedangkan BBNI membukukan net buy sekitar Rp87,4 miliar.
BBRI juga masih mencatat pembelian bersih asing berdasarkan data periode yang digunakan.
Besarnya arus masuk tersebut menunjukkan bahwa minat asing terhadap saham bank tidak hanya datang dari satu emiten.
Akumulasi investor asing berlangsung bersamaan dengan penguatan pasar saham Indonesia.
Dalam periode lima perdagangan hingga 3 September, IHSG tercatat menguat sekitar 2,02% dan berakhir di level 6.667,89.
Khusus pada perdagangan 3 September, IHSG naik 72,11 poin atau sekitar 1,09%.
Aktivitas pasar juga cukup ramai.
Nilai transaksi pada perdagangan tersebut mencapai sekitar Rp18,56 triliun hingga Rp18,60 triliun, dengan volume sekitar 39,28 miliar saham dan frekuensi perdagangan sekitar 2,47 juta kali.
Besarnya aktivitas transaksi menunjukkan meningkatnya partisipasi pasar ketika indeks bergerak naik.
Saham bank besar memiliki beberapa karakteristik yang membuatnya sering menjadi tujuan investor institusi asing.
Pertama adalah likuiditas.
BBRI, BBCA, BMRI, dan BBNI memiliki nilai transaksi harian yang relatif besar sehingga investor dengan dana besar dapat masuk maupun keluar tanpa harus bertransaksi pada saham dengan likuiditas terbatas.
Kedua adalah kapitalisasi pasar.
Bank jumbo memiliki bobot besar dalam berbagai indeks, sehingga sahamnya sering menjadi bagian dari portofolio dana institusi yang mengikuti benchmark tertentu.
Ketiga adalah eksposur terhadap ekonomi domestik.
Performa bank berkaitan erat dengan pertumbuhan kredit, konsumsi, investasi, kualitas aset, suku bunga, dan aktivitas ekonomi Indonesia.
Ketika pandangan investor global terhadap ekonomi domestik membaik, saham perbankan kerap menjadi salah satu instrumen yang digunakan untuk mendapatkan eksposur tersebut.
Namun, faktor-faktor tersebut bukan berarti saham bank selalu menjadi pilihan terbaik dalam setiap kondisi pasar.
Bagi investor asing, return saham Indonesia tidak hanya ditentukan oleh perubahan harga saham.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga sangat penting.
Investor asing dapat memperoleh keuntungan dari kenaikan saham, tetapi sebagian keuntungan tersebut dapat tergerus jika rupiah mengalami depresiasi besar ketika dana dikonversi kembali ke mata uang asal.
Sebaliknya, rupiah yang relatif stabil atau menguat dapat membuat aset rupiah lebih menarik.
Data JISDOR Bank Indonesia menunjukkan rupiah berada di Rp17.689 per dolar AS pada 3 September 2026, menguat dibanding Rp17.770 sehari sebelumnya.
Pergerakan kurs karena itu menjadi salah satu indikator yang relevan ketika membaca arah foreign flow di Bursa Efek Indonesia.
Aksi beli investor asing sering mendapatkan perhatian karena nilai transaksinya dapat sangat besar.
Namun, net buy harus dibaca dengan konteks.
Net buy hanya menunjukkan bahwa nilai pembelian investor asing lebih besar daripada nilai penjualannya dalam suatu periode.
Data tersebut tidak menjelaskan alasan setiap transaksi.
Investor asing dapat membeli karena valuasi, rebalancing indeks, ekspektasi kebijakan moneter, perubahan nilai tukar, momentum harga ataupun strategi jangka pendek.
Arus dana tersebut juga dapat berbalik menjadi net sell dalam waktu relatif singkat.
Karena itu, melihat satu atau beberapa hari net buy belum cukup untuk memastikan tren jangka panjang.
Bagi investor ritel, data aliran dana asing dapat digunakan sebagai salah satu informasi tambahan.
Namun, mengikuti pembelian asing tanpa melihat fundamental perusahaan memiliki risiko.
Kinerja bank tetap dipengaruhi pertumbuhan kredit, kualitas aset, rasio kredit bermasalah, net interest margin, biaya dana, profitabilitas, modal, kebijakan dividen, serta kondisi ekonomi.
Valuasi juga perlu diperhitungkan.
Saham dengan fundamental baik tetap dapat memberikan hasil yang kurang menarik jika dibeli pada valuasi yang terlalu tinggi.
Sebaliknya, adanya net sell asing tidak selalu menunjukkan fundamental suatu emiten memburuk.
Data 28 Agustus hingga 3 September memperlihatkan kecenderungan yang cukup jelas: sebagian besar akumulasi asing terbesar di Bursa Efek Indonesia mengarah ke saham bank besar.
BBRI berada di urutan pertama dengan sekitar Rp1,41 triliun, disusul BBCA sekitar Rp1,19 triliun, BMRI Rp1 triliun, dan BBNI Rp261,4 miliar.
Secara gabungan, jumlahnya mencapai sekitar Rp3,87 triliun.
Pada saat yang sama, IHSG naik sekitar 2,02% dalam lima perdagangan dan mencapai 6.667,89.
Yang perlu diperhatikan selanjutnya bukan hanya apakah asing masih membeli dalam satu sesi berikutnya.
Hal yang lebih penting adalah apakah tren akumulasi bertahan dalam periode yang lebih panjang, bagaimana pergerakan rupiah, serta apakah fundamental dan valuasi bank-bank tersebut tetap mendukung.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan edukasi pasar, bukan rekomendasi personal untuk membeli, menjual, atau mempertahankan BBRI, BBCA, BMRI, BBNI, maupun saham lainnya.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.