Usai Prabowo Temui Putin, RI Jajaki Pabrik Pupuk Rusia dan Kapal Ikan 102 Meter

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 04 September 2026 Waktu baca 5 menit

Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskow, Senin 13 April 2026 (Tim Media Presiden)

Usai Prabowo Temui Putin, RI Jajaki Pabrik Pupuk Rusia dan Kapal Ikan 102 Meter

Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok membuka sejumlah peluang bisnis baru bagi Indonesia, mulai dari industri pupuk hingga teknologi perkapalan.

Salah satu rencana yang paling konkret datang dari PT Pupuk Indonesia (Persero). Perusahaan pelat merah tersebut telah menandatangani studi bersama untuk mengkaji peluang investasi fasilitas produksi pupuk urea di Vladivostok, kawasan Timur Jauh Rusia.

Pada saat yang sama, Rusia menawarkan teknologi kapal pengolahan ikan berukuran lebih dari 102 meter yang dinilai dapat mendukung peningkatan nilai tambah hasil perikanan Indonesia.

Pembahasan berlangsung di tengah kunjungan Prabowo ke Rusia untuk menghadiri Eastern Economic Forum ke-11 di Far Eastern Federal University, Vladivostok, pada 3 September 2026.

 

Prabowo Jadi Tamu Kehormatan Utama EEF

Prabowo datang ke Vladivostok atas undangan Presiden Vladimir Putin dan hadir sebagai tamu kehormatan utama Eastern Economic Forum ke-11.

Forum yang berlangsung pada 1–4 September 2026 tersebut mempertemukan pemerintah, pemimpin bisnis, dan berbagai pemangku kepentingan dari Rusia serta negara-negara Asia-Pasifik.

Di sela forum, Prabowo dan Putin menggelar pertemuan bilateral dalam format working lunch.

Kedua pemimpin membahas perluasan hubungan strategis Indonesia-Rusia, termasuk bidang pertanian, energi, sumber daya mineral, investasi, pertahanan, perdagangan, serta konektivitas.

Bagi Indonesia, forum tersebut juga menjadi kesempatan untuk mendorong kerja sama ekonomi yang lebih konkret dengan kawasan Timur Jauh Rusia yang secara geografis langsung menghadap Pasifik.

 

Pupuk Indonesia Pelajari Investasi di Vladivostok

Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga CEO Danantara, Rosan P. Roeslani, mengungkapkan bahwa Pupuk Indonesia telah menandatangani joint study untuk mengkaji potensi investasi pupuk urea di Vladivostok.

Artinya, proyek tersebut masih berada pada tahap studi dan belum dapat disebut sebagai pembangunan pabrik yang sudah diputuskan.

Kajian bersama akan menjadi dasar untuk melihat kelayakan investasi, termasuk aspek bahan baku, pasar, logistik, keekonomian proyek, serta kemungkinan kerja sama dengan mitra Rusia.

Menurut Rosan, peningkatan kinerja dan efisiensi Pupuk Indonesia membuat perusahaan mempunyai ruang lebih besar untuk mempertimbangkan ekspansi ke luar negeri.

Investasi internasional juga dipandang bukan semata-mata sebagai langkah bisnis, tetapi berpotensi mendukung ketahanan industri dan pasokan bahan strategis Indonesia.

 

Mengapa Vladivostok Menarik?

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menilai posisi Vladivostok menjadi salah satu alasan kawasan tersebut menarik untuk dipelajari.

Kota pelabuhan di Timur Jauh Rusia itu menghadap langsung ke kawasan Pasifik.

Posisi tersebut relevan karena negara-negara di kawasan Pasifik selama ini merupakan salah satu pasar bagi produk Pupuk Indonesia.

Secara geografis, investasi di Vladivostok juga berpotensi memberikan akses yang lebih dekat terhadap pasar Asia dibanding proyek yang berada jauh di bagian barat Rusia.

Namun, seluruh manfaat ekonomi tersebut masih perlu diuji dalam studi kelayakan sebelum keputusan investasi dapat diambil.

 

Putin Tawarkan Kapal Lebih dari 102 Meter

Pertemuan bilateral juga memunculkan peluang lain yang cukup menarik bagi sektor maritim Indonesia.

Menurut Rosan, Putin menawarkan teknologi kapal berukuran lebih dari 102 meter yang dilengkapi kemampuan pengolahan hasil perikanan secara langsung.

Konsepnya bukan sekadar kapal untuk menangkap atau mengangkut ikan.

Dengan fasilitas pemrosesan di atas kapal, hasil tangkapan dapat segera ditangani dan diolah sebelum mencapai pelabuhan sehingga kualitas produk berpotensi lebih terjaga.

Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, teknologi semacam ini dapat relevan dengan agenda peningkatan produktivitas perikanan dan hilirisasi hasil laut.

Meski demikian, belum ada keputusan pembelian kapal.

Prabowo akan mengirim tim untuk mempelajari teknologi, manfaat, biaya serta kecocokan sistem tersebut dengan kebutuhan industri perikanan Indonesia.

 

Dari Menjual Ikan ke Produk Bernilai Tambah

Jika kelak teknologi tersebut dinilai layak, dampaknya berpotensi lebih luas dibanding sekadar menambah armada kapal.

Pengolahan langsung di laut dapat membantu menjaga rantai dingin, kualitas hasil tangkapan dan efisiensi waktu.

Pada industri perikanan, kualitas produk sangat bergantung pada penanganan setelah ikan ditangkap.

Semakin cepat hasil tangkapan dibekukan, dipilah atau diproses, semakin besar peluang mempertahankan kualitas dan nilai jualnya.

Karena itu, tawaran Rusia menarik untuk dilihat dalam konteks hilirisasi.

Indonesia tidak hanya ingin meningkatkan volume tangkapan, tetapi juga mendorong semakin banyak nilai ekonomi dari sektor kelautan tetap berada di dalam rantai industri nasional.

 

Perdagangan RI-Rusia Tumbuh 12 Persen

Pembicaraan investasi tersebut terjadi ketika perdagangan kedua negara sedang menunjukkan pertumbuhan.

Dalam pertemuannya dengan Prabowo, Putin mengatakan volume perdagangan Indonesia-Rusia tumbuh sekitar 12% sepanjang 2025.

Data pemerintah Indonesia sebelumnya mencatat nilai perdagangan kedua negara pada 2025 berada di kisaran US$5 miliar.

Rusia menempatkan Indonesia sebagai salah satu mitra pentingnya di kawasan Asia-Pasifik.

Sementara bagi Indonesia, Rusia merupakan pasar sekaligus sumber potensial teknologi, energi, pupuk, mineral dan investasi.

Pertumbuhan perdagangan menjadi salah satu alasan kedua negara ingin mendorong hubungan dari sekadar jual-beli barang menuju investasi dan proyek industri bersama.

 

FTA Indonesia-EAEU Sudah Masuk Tahap Ratifikasi

Ada perkembangan penting lain yang dapat memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dengan Rusia dan negara-negara Eurasia.

Indonesia dan Eurasian Economic Union atau EAEU telah menandatangani perjanjian perdagangan bebas pada 21 Desember 2025 di St. Petersburg.

EAEU beranggotakan Rusia, Belarus, Kazakhstan, Armenia, dan Kirgistan.

Perjanjian tersebut mencakup penghapusan atau penurunan tarif terhadap 11.882 pos tarif atau lebih dari 90% barang yang diperdagangkan.

Indonesia kemudian menyelesaikan persetujuan parlemen dan ratifikasi domestik pada Juli 2026.

Pemerintah memperkirakan FTA tersebut dapat mulai berlaku pada awal 2027 setelah seluruh prosedur yang dibutuhkan oleh para pihak selesai.

Dengan demikian, statusnya bukan lagi sekadar rencana untuk meratifikasi, melainkan sudah memasuki tahap menuju implementasi.

 

Apa Dampaknya untuk Bisnis Indonesia?

Jika implementasi FTA berjalan sesuai rencana, perusahaan Indonesia berpotensi memperoleh akses pasar yang lebih kompetitif ke negara anggota EAEU.

Produk makanan dan minuman, kopi, rempah-rempah, produk halal, perikanan, tekstil, alas kaki serta produk manufaktur termasuk sektor yang dinilai memiliki peluang.

Bagi Rusia, akses ke Indonesia juga membuka pasar besar di Asia Tenggara.

Kombinasi FTA, peningkatan perdagangan, serta proyek investasi langsung seperti penjajakan pupuk dapat membuat hubungan ekonomi kedua negara lebih beragam.

Kerja sama tidak lagi hanya berpusat pada perdagangan komoditas, tetapi dapat bergerak ke investasi industri, teknologi, logistik dan manufaktur.

 

Hubungan Ekonomi Masuk Fase Baru?

Kunjungan Prabowo ke Vladivostok menunjukkan bahwa agenda ekonomi menjadi salah satu bagian utama dalam hubungan Indonesia-Rusia.

Namun, penting membedakan antara proyek yang sudah disepakati dengan proyek yang masih dikaji.

Untuk sektor pupuk, Pupuk Indonesia baru menandatangani studi bersama.

Untuk sektor perkapalan, Rusia baru menyampaikan tawaran teknologi dan pemerintah Indonesia akan melakukan kajian lebih lanjut.

Karena itu, nilai investasi, jadwal pembangunan maupun keputusan pembelian kapal belum dapat dipastikan.

Meski demikian, munculnya proyek konkret untuk dipelajari menunjukkan bahwa hubungan bilateral mulai bergerak dari pembicaraan makro menuju peluang investasi yang lebih spesifik.

 

Prabowo Kembali ke Jakarta

Setelah menyelesaikan rangkaian agenda di Vladivostok, Prabowo kembali ke Indonesia.

Pesawat kepresidenan yang membawa Presiden dan rombongan mendarat di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, sekitar pukul 03.00 WIB pada Jumat, 4 September 2026.

Kini perhatian beralih pada tindak lanjut dari berbagai pembahasan yang dilakukan selama kunjungan tersebut.

Untuk proyek pupuk maupun perkapalan, tahap berikutnya akan menjadi penentu apakah peluang yang dibahas di Vladivostok benar-benar berkembang menjadi investasi dan proyek komersial.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.