IHSG Anjlok Tertekan Tarif Baru Trump, Saham Apa yang Paling Terpukul?

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 24 July 2026 Waktu baca 5 menit

JAKARTA — Reli pasar saham Indonesia kehilangan tenaga pada akhir pekan setelah kekhawatiran terhadap perang dagang dan inflasi global mendorong investor melakukan aksi ambil untung.

Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah 1,88% ke level 6.196,43 pada perdagangan Jumat, 24 Juli 2026. Indeks LQ45 ikut terkoreksi lebih dalam sebesar 1,97%.

 

Tekanan berlangsung luas di seluruh pasar. Sebanyak 587 saham berakhir di zona merah, sedangkan hanya 104 saham yang menguat dan 105 saham tidak mengalami perubahan harga. Komposisi tersebut menunjukkan pelemahan tidak hanya terjadi pada beberapa saham berkapitalisasi besar, tetapi menyebar ke mayoritas emiten.

Koreksi tajam tersebut terjadi setelah IHSG sempat menembus area 6.400 secara intraday pada pekan yang sama. Kenaikan sebelumnya mendorong sebagian investor merealisasikan keuntungan ketika sentimen global berubah negatif.

 

Indonesia Terkena Tarif Tambahan 10%

Salah satu tekanan utama datang dari keputusan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memberlakukan tarif baru terhadap barang dari 60 mitra dagang.

Tarif tersebut ditetapkan sebesar 10% atau 12,5%, tergantung pada penilaian Washington mengenai kebijakan masing-masing negara dalam melarang dan mengawasi impor barang yang dibuat menggunakan tenaga kerja paksa.

 

Indonesia masuk dalam kelompok yang dikenai tarif 10%. Pemerintah AS menyatakan Indonesia telah memiliki atau menyampaikan komitmen mengenai larangan produk tenaga kerja paksa, tetapi dinilai belum sepenuhnya menerapkan dan menegakkan kebijakan tersebut.

 

Kebijakan itu menggunakan Pasal 301 Undang-Undang Perdagangan AS 1974. Tarif baru mulai berlaku ketika pungutan global sementara sebesar 10% yang diterapkan sebelumnya berakhir.

 

Secara keseluruhan, kebijakan tersebut mencakup sekitar 99% impor AS, meskipun sejumlah barang—termasuk minyak, gas, pupuk, dan sebagian produk pangan—memperoleh pengecualian.

 

Bagi pasar Indonesia, tarif tambahan menimbulkan ketidakpastian mengenai daya saing ekspor, permintaan dari AS, dan potensi perubahan kebijakan perdagangan global. Dampak akhirnya akan bergantung pada jenis produk yang dikecualikan, kemampuan eksportir menyesuaikan harga, serta hasil negosiasi pemerintah dengan Washington.

 

Harga Minyak Sempat Melampaui US$100

Sentimen negatif lainnya datang dari lonjakan harga minyak akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah.

Brent sebelumnya ditutup di atas US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.

 

Harga kemudian terkoreksi pada Jumat hingga sekitar US$97 per barel. Namun, Brent tetap berada dalam jalur kenaikan mingguan lebih dari 10%, mencerminkan besarnya premi risiko geopolitik yang masih diperhitungkan pasar.

 

Kekhawatiran tidak hanya berkaitan dengan Selat Hormuz. Serangan di Laut Merah juga meningkatkan risiko terhadap jalur Bab el-Mandeb, yang menjadi akses penting bagi pengiriman energi menuju Terusan Suez.

 

Apabila kedua jalur tersebut terganggu secara bersamaan, kapal tanker dapat terpaksa mengambil rute yang lebih panjang. Kondisi itu berpotensi meningkatkan biaya pengiriman, asuransi, dan harga energi global.

 

Minyak Mahal Mengubah Ekspektasi Suku Bunga

Lonjakan minyak memiliki dampak lebih luas daripada sekadar mengangkat harga saham produsen energi.

Energi yang mahal dapat meningkatkan biaya transportasi, produksi, dan distribusi. Kondisi tersebut berisiko mempertahankan inflasi global pada level tinggi dan mengurangi ruang bank sentral untuk menurunkan suku bunga.

 

Pasar obligasi global juga mulai mencerminkan kekhawatiran tersebut. Imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat ketika investor kembali memperhitungkan kemungkinan Federal Reserve mempertahankan kebijakan ketat atau bahkan menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi semakin kuat.

 

Skenario suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama kurang menguntungkan bagi pasar negara berkembang. Imbal hasil aset AS yang meningkat dapat mendorong investor global mengurangi eksposur terhadap saham dan obligasi berisiko, termasuk aset Indonesia.

 

Bagi Indonesia, harga minyak tinggi juga dapat menekan rupiah, neraca perdagangan migas, inflasi, serta kebutuhan anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi.

 

Sektor Cyclical Mengalami Tekanan Terbesar

Aksi jual paling dalam terjadi pada sektor barang konsumen nonprimer atau cyclical, yang turun sekitar 3,04%.

Sektor bahan baku melemah sekitar 3,02%, sedangkan sektor energi terkoreksi 2,82%. Penurunan saham energi menunjukkan bahwa pasar tidak hanya melihat kenaikan harga minyak sebagai peluang pendapatan bagi produsen, tetapi juga mempertimbangkan risiko makroekonomi dan aksi ambil untung setelah reli sebelumnya.

 

Phintraco Sekuritas menilai pelemahan Jumat dipicu kombinasi kenaikan harga minyak, kebijakan tarif AS, dan profit taking setelah IHSG mencatat penguatan kuat.

Momentum jual juga terlihat pada sejumlah saham yang sebelumnya naik cepat. Di antara saham LQ45, CUAN turun 7,28%, BUMI melemah 6,56%, dan DEWA terkoreksi 6,36%.

 

Sinyal Teknikal Mulai Melemah

Dari sisi teknikal, IHSG ditutup di bawah rata-rata pergerakan lima hari atau MA5. Namun, indeks masih berada di atas MA10, sehingga tren pemulihan jangka pendek belum sepenuhnya patah.

Histogram positif pada indikator MACD terus menyempit. Kondisi tersebut menandakan momentum kenaikan mulai kehilangan kekuatan.

 

Stochastic RSI juga berbalik menuju area pivot, yang dapat menunjukkan meningkatnya tekanan jual setelah indeks mengalami reli panjang.

Phintraco memperkirakan IHSG berpotensi menguji area 6.000–6.100 pada pekan berikutnya apabila harga minyak tetap tinggi dan sentimen global belum membaik.

Level tersebut menjadi penting karena berada di bawah penutupan Jumat dan dapat berfungsi sebagai zona penopang apabila aksi ambil untung berlanjut.

 

Koreksi Tidak Hanya Disebabkan Satu Faktor

Koreksi IHSG pada akhir pekan mencerminkan pertemuan tiga risiko sekaligus.

Pertama, tarif baru AS menambah ketidakpastian terhadap perdagangan dan pertumbuhan ekonomi global. Kedua, konflik Timur Tengah meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dan inflasi. Ketiga, reli sebelumnya membuat pasar lebih rentan terhadap profit taking.

 

Pergerakan berikutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak, respons pemerintah Indonesia terhadap tarif AS, arah dolar dan yield Treasury, serta aliran dana investor asing.

Apabila Brent kembali bertahan di atas US$100, kekhawatiran inflasi dan suku bunga tinggi kemungkinan tetap mendominasi. Sebaliknya, penurunan harga minyak atau tanda meredanya ketegangan geopolitik dapat memberi ruang bagi IHSG untuk melakukan stabilisasi.

 

Disclaimer: Artikel ini hanya bertujuan memberikan informasi dan edukasi. Analisis pasar, level teknikal, dan penyebutan saham bukan rekomendasi maupun ajakan untuk membeli atau menjual efek. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

Sumber: detik.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.