Saham News
5 Rekomendasi Saham 3 Agustus: BBRI hingga SGER
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 03 August 2026 Waktu baca 5 menit
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kehilangan momentum penguatannya pada perdagangan Senin, 3 Agustus 2026. Setelah sempat bergerak di zona hijau pada pagi hari, indeks berbalik melemah hingga penutupan sesi pertama.
Berdasarkan data dalam brief, IHSG turun tipis 0,03% ke level 6.234. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak cukup fluktuatif pada rentang 6.213 hingga 6.273.
Data perdagangan 3 Agustus 2026 tersebut masih berstatus [PERLU VERIFIKASI].
Nilai transaksi yang tercatat dalam brief mencapai Rp7,68 triliun, dengan volume perdagangan sebanyak 23,09 miliar saham. Transaksi dilakukan dalam sekitar 1,39 juta kali frekuensi perdagangan.
Pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia relatif berimbang. Sebanyak 323 saham menguat, 294 saham melemah, sedangkan 169 saham tidak mengalami perubahan harga.
Meski jumlah saham yang menguat lebih banyak, penurunan sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar membuat IHSG gagal mempertahankan kenaikannya.
Tiga sektor menjadi pemberat utama pergerakan pasar pada sesi pertama.
Sektor teknologi mencatat koreksi paling dalam sebesar 1,33%. Pelemahan kemudian disusul sektor kesehatan sebesar 0,87% dan sektor keuangan sebesar 0,51%.
Tekanan terhadap indeks terutama berasal dari saham-saham berkapitalisasi besar berikut:
DCII memberikan tekanan sekitar 8,5 poin.
BBCA menekan indeks sekitar 4,43 poin.
BBRI memberikan tekanan sekitar 4,4 poin.
SRAJ menekan sekitar 2,73 poin.
BMRI menekan sekitar 2,46 poin.
BREN memberikan tekanan sekitar 2,33 poin.
Saham CASA, ASII, CPIN, dan TCPI juga tercatat ikut membatasi pergerakan IHSG.
Tekanan terhadap IHSG terjadi bersamaan dengan munculnya data perdagangan internasional Indonesia untuk Juni 2026.
Menurut data dalam brief, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit sebesar US$450 juta. Apabila terkonfirmasi, hasil tersebut berarti Indonesia mengalami defisit perdagangan selama dua bulan berturut-turut.
Nilai ekspor Juni disebut mencapai US$25,46 miliar, tumbuh 8,84% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, impor meningkat lebih cepat hingga 34,27% secara tahunan menjadi US$25,91 miliar. Kenaikan impor yang lebih tinggi dibandingkan ekspor membuat neraca perdagangan kembali berada dalam posisi negatif.
Data resmi BPS menunjukkan neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mengalami defisit US$1,61 miliar.
Pada bulan tersebut, nilai ekspor tercatat US$23,20 miliar atau turun 5,73% secara tahunan. Sebaliknya, impor naik 22,16% menjadi US$24,81 miliar.
Bank Indonesia menjelaskan bahwa defisit Mei terutama disebabkan oleh melebarnya defisit perdagangan minyak dan gas menjadi US$3,76 miliar. Neraca perdagangan nonmigas masih menghasilkan surplus US$2,15 miliar.
Defisit Mei menjadi defisit bulanan pertama Indonesia setelah mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Defisit perdagangan menunjukkan nilai impor lebih tinggi dibandingkan ekspor selama periode tertentu.
Bagi pasar keuangan, kondisi tersebut dapat meningkatkan perhatian terhadap kebutuhan valuta asing, ketahanan eksternal, dan pergerakan nilai tukar rupiah. Kekhawatiran dapat menjadi lebih besar apabila defisit terjadi berulang atau disertai pelemahan arus modal asing.
Namun, kenaikan impor tidak selalu menjadi sinyal negatif. Impor bahan baku dan barang modal juga dapat mencerminkan peningkatan aktivitas produksi atau investasi. Investor tetap perlu memperhatikan komposisi barang yang diimpor sebelum menarik kesimpulan mengenai dampaknya terhadap ekonomi.
Pergerakan tipis IHSG memperlihatkan bahwa pasar masih berusaha menilai dampak data ekonomi terbaru.
Saham perbankan seperti BBCA, BBRI, dan BMRI menjadi penting untuk dicermati karena memiliki bobot besar terhadap indeks. Pergerakan saham teknologi DCII dan saham energi baru terbarukan BREN juga dapat memengaruhi arah pasar dalam jangka pendek.
Investor perlu menunggu konfirmasi data perdagangan resmi, arah nilai tukar rupiah, dan perkembangan arus dana asing sebelum mengambil keputusan.
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi. Informasi di dalamnya bukan rekomendasi personal, ajakan membeli, maupun ajakan menjual saham tertentu.
Sumber: bloombergtechnoz.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.