Panda Bond Indonesia Raih Rating AAA di China, Purbaya: Rata Kanan!

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 22 July 2026 Waktu baca 5 menit

Foto: Dok. Kemenkeu

JAKARTA — Pemerintah Indonesia bersiap memasuki pasar obligasi domestik China melalui penerbitan perdana Panda Bond pada Kamis, 23 Juli 2026. Instrumen berdenominasi renminbi tersebut ditargetkan menghimpun dana sekitar US$1 miliar atau setara kurang lebih 7 miliar yuan, bergantung pada kondisi pasar saat penawaran berlangsung.

 

Menjelang penerbitan, China Lianhe Rating Co., Ltd. memberikan peringkat AAA dengan outlook stabil kepada Indonesia. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai penilaian tertinggi dalam skala domestik China itu menjadi modal penting untuk menarik investor dari salah satu pasar surat utang terbesar di dunia.

 

Pemerintah membatasi penerbitan awal di sekitar US$1 miliar karena Panda Bond merupakan pasar baru bagi Indonesia. Apabila permintaan investor dinilai kuat dan kebutuhan pembiayaan memungkinkan, pemerintah membuka peluang kembali menerbitkan instrumen serupa dalam jumlah lebih besar pada periode berikutnya.

 

Dua Tenor Disiapkan

Berdasarkan dokumen transaksi yang dilihat Reuters, penerbitan dirancang dalam dua seri.

Seri pertama memiliki tenor tiga tahun dengan nilai 5 miliar yuan atau sekitar US$739 juta. Seri kedua berjangka waktu lima tahun dengan nilai 2 miliar yuan atau kurang lebih US$296 juta.

 

Proses pembentukan harga dan pencatatan permintaan investor dijadwalkan berlangsung pada 23 Juli, sedangkan penyelesaian transaksi direncanakan pada 30 Juli 2026. Struktur akhir dan jumlah dana yang dihimpun tetap bergantung pada situasi pasar.

Seri Tenor Nilai indikatif
Panda Bond I 3 tahun 5 miliar yuan
Panda Bond II 5 tahun 2 miliar yuan
Total 7 miliar yuan

Bank of China ditunjuk sebagai lead underwriter sekaligus lead bookrunner. Pemerintah juga menunjuk ICBC, CITIC Securities, China International Capital Corporation, dan DBS Bank China sebagai joint lead underwriters serta joint bookrunners.

Agricultural Bank of China, China Construction Bank, dan Export-Import Bank of China bertindak sebagai co-managers dalam transaksi tersebut.

 

Apa Itu Panda Bond?

Panda Bond merupakan obligasi berdenominasi yuan yang diterbitkan oleh pemerintah, perusahaan, atau lembaga asing di pasar keuangan domestik China.

Bagi Indonesia, instrumen tersebut menyediakan sumber pendanaan tambahan di luar pasar obligasi rupiah, dolar AS, euro, yen, dan pasar renminbi luar negeri. Langkah ini dapat memperluas basis investor sekaligus mengurangi ketergantungan pembiayaan pada satu mata uang atau satu kelompok pasar.

 

Pasar Panda Bond semakin menarik bagi sejumlah negara berkembang karena tingkat bunga yuan relatif rendah dibandingkan beberapa mata uang utama. Pakistan, Kazakhstan, Slovenia, dan Hungaria termasuk negara yang telah memanfaatkan pasar obligasi domestik China, sementara Brasil juga mempersiapkan penerbitan perdananya.

 

Namun, pembiayaan dalam yuan tetap membawa risiko tersendiri. Pemerintah perlu mengelola perubahan nilai tukar, biaya lindung nilai, likuiditas renminbi, dan kesesuaian penggunaan dana dengan kewajiban pembayaran dalam mata uang China.

 

Mengapa Indonesia Mendapat AAA?

Menurut Kementerian Keuangan, China Lianhe memberikan penilaian tertinggi dengan mempertimbangkan prospek pertumbuhan ekonomi, fundamental makroekonomi, kemampuan menghadapi guncangan eksternal, tingkat utang luar negeri, kapasitas pembayaran, cadangan devisa, dan rasio utang pemerintah.

 

Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan pada kuartal I-2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 4,87% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto menjadi bagian dari penopang pertumbuhan tersebut.

 

Cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 mencapai US$145,6 miliar, naik tipis dari US$144,9 miliar pada akhir Mei. Posisi tersebut memberikan bantalan untuk pembayaran kewajiban luar negeri serta stabilisasi nilai tukar ketika pasar keuangan global bergejolak.

 

Sementara itu, data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko menunjukkan rasio utang pemerintah berada di sekitar 40,75% terhadap produk domestik bruto per pertengahan Juli 2026. Sekitar 87,22% utang pemerintah berbentuk Surat Berharga Negara.

 

Rating AAA China Berbeda dari Rating Global

Peringkat AAA dari Lianhe perlu dibaca sesuai konteksnya. Penilaian tersebut menggunakan skala domestik China dan menjadi rujukan penting bagi investor di pasar obligasi onshore negara itu.

 

Rating tersebut tidak berarti peringkat internasional Indonesia berubah menjadi AAA.

Di pasar global, Indonesia memiliki peringkat jangka panjang BBB dari S&P Global Ratings dan Fitch Ratings serta Baa2 dari Moody’s. Ketiganya berada dalam kategori layak investasi, tetapi menggunakan metodologi dan skala pembanding yang berbeda dengan lembaga pemeringkat domestik China.

 

Perbedaan tersebut lazim karena lembaga domestik dapat menilai penerbit dengan membandingkannya terhadap karakteristik dan kondisi pasar lokal. Karena itu, rating AAA dari Lianhe terutama memberikan sinyal mengenai kelayakan kredit Indonesia di mata investor obligasi China.

 

Diversifikasi Pembiayaan APBN

Penerbitan Panda Bond menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas sumber pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Hingga semester I-2026, defisit APBN tercatat Rp196,5 triliun atau 0,76% terhadap PDB. Pemerintah juga membukukan surplus keseimbangan primer sebesar Rp85,1 triliun, dengan pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun dan belanja Rp1.656 triliun.

 

Masuk ke pasar China dapat memberikan fleksibilitas ketika kondisi pasar dolar atau euro kurang menguntungkan. Basis investor yang lebih luas juga berpotensi mengurangi konsentrasi risiko pembiayaan.

Meski demikian, keberhasilan transaksi tidak hanya ditentukan oleh rating. Investor akan mempertimbangkan tingkat kupon, kondisi likuiditas China, pergerakan kurs yuan, prospek fiskal Indonesia, serta perkembangan geopolitik dan suku bunga global.

 

Ujian Pertama di Pasar Baru

Status AAA/Stable memberikan titik awal yang kuat bagi Indonesia. Namun, ukuran keberhasilan Panda Bond akan terlihat dari besarnya permintaan, tingkat imbal hasil yang harus dibayar, distribusi investor, dan kemampuan pemerintah mengelola risiko mata uang.

 

Apabila penerbitan perdana berjalan dengan biaya kompetitif, Indonesia dapat menjadikan pasar China sebagai salah satu sumber pembiayaan reguler. Sebaliknya, apabila biaya lindung nilai dan risiko kurs terlalu tinggi, manfaat diversifikasi dapat berkurang.

 

Penawaran pada 23 Juli karena itu bukan hanya transaksi penggalangan dana. Penerbitan tersebut menjadi ujian awal bagi kemampuan Indonesia membangun kurva imbal hasil yuan serta hubungan jangka panjang dengan investor institusi di China.

 

Disclaimer: Artikel ini hanya bertujuan memberikan informasi dan edukasi. Pembahasan mengenai surat utang tidak merupakan rekomendasi, penawaran, ataupun ajakan untuk membeli instrumen investasi tertentu.

Sumber: detik.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.