Bisnis | Ekonomi
Produk RI Kena Tarif AS 10% Terkait Kerja Paksa, Pemerintah Lanjutkan Lobi
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 25 July 2026 Waktu baca 5 menit
Harga minyak dunia mengalami koreksi tajam pada perdagangan Jumat, 24 Juli 2026, setelah muncul kabar bahwa Pakistan sedang menjajaki pembukaan kembali perundingan antara Amerika Serikat dan Iran dengan dukungan China.
Kontrak minyak Brent ditutup turun US$3,91 atau 3,88% menjadi US$96,78 per barel. Minyak West Texas Intermediate melemah US$2,88 atau 3,12% ke US$89,31 per barel.
Penurunan tersebut terjadi sehari setelah Brent menembus US$100 untuk pertama kalinya sejak Mei. Kendati demikian, koreksi Jumat belum menghapus reli mingguan: Brent masih naik sekitar 9,9%, sedangkan WTI bertambah sekitar 8,3%.
Perubahan harga memperlihatkan betapa sensitifnya pasar minyak terhadap informasi diplomatik.
Tiga sumber Pakistan mengatakan Islamabad sedang mencari jalan untuk menghidupkan kembali perundingan AS–Iran yang terhenti. Inisiatif tersebut muncul setelah dorongan dari China, yang berkepentingan memulihkan jalur perdagangan dan pasokan energi di kawasan Teluk serta Laut Merah.
Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni dilaporkan dua kali berkunjung ke Islamabad dalam sepuluh hari. Ia bertemu dengan pejabat pemerintah Pakistan dan pimpinan militer untuk membahas kemungkinan proses baru.
Namun, pembicaraan itu masih bersifat penjajakan. Para sumber menegaskan bahwa hambatan menuju negosiasi formal tetap tinggi. Pakistan juga menyampaikan bahwa penghentian serangan terhadap Arab Saudi dan negara-negara Teluk lain menjadi prasyarat penting sebelum pembicaraan dapat dilanjutkan.
Dengan demikian, penurunan harga lebih tepat dibaca sebagai berkurangnya sebagian premi risiko, bukan tanda bahwa pasokan minyak akan segera kembali normal.
Situasi di lapangan belum menunjukkan deeskalasi.
Komando Pusat Amerika Serikat menyatakan telah menyelesaikan malam ke-13 berturut-turut serangan terhadap sasaran militer Iran. Targetnya mencakup pusat komando, fasilitas penyimpanan drone, jaringan komunikasi, lokasi pengawasan pantai, serta kemampuan maritim.
Washington mengatakan operasi tersebut bertujuan mengurangi ancaman Iran terhadap pelaut dan kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Lebih dari 50.000 personel militer AS kini ditempatkan di kawasan Timur Tengah.
Risiko eskalasi juga meningkat setelah Presiden Donald Trump mengatakan sedang mempertimbangkan operasi yang lebih besar terhadap Iran. Trump menyebut persiapan militer telah tersedia, meskipun keputusan akhir belum diumumkan.
Pernyataan itu muncul setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menyerang dua tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah. Salah satu kapal, Encelia, mengalami kebakaran pada bagian depan, sementara seluruh awaknya dilaporkan selamat.
Pasar kini menghadapi risiko pada dua jalur pengiriman utama.
Di Selat Hormuz, arus kapal telah turun ke tingkat sangat rendah. Data pelacakan Kpler yang dikutip Reuters menunjukkan hanya sekitar tiga kapal per hari yang melintas selama tiga hari berturut-turut menjelang 24 Juli. Namun, beberapa kapal masih dapat masuk dan keluar, sehingga situasinya belum dapat disebut sebagai blokade total.
Di sisi lain, serangan Houthi menciptakan tekanan baru di Bab el-Mandeb, pintu masuk menuju Laut Merah dan Terusan Suez.
Ancaman tersebut sangat penting karena Arab Saudi sebelumnya mengalihkan sebagian ekspornya dari Teluk menuju pantai barat untuk menghindari gangguan di Hormuz. Minyak yang dikirim melalui Laut Merah tetap harus melewati Bab el-Mandeb apabila diarahkan ke pasar Asia.
Jika kedua jalur terganggu secara bersamaan, kapal dapat terpaksa menggunakan rute memutar mengelilingi Afrika. Perjalanan lebih panjang berarti biaya bahan bakar, sewa kapal, asuransi, dan waktu pengiriman yang lebih besar.
IMO menyebut serangan terhadap kapal di Laut Merah tidak dapat dibenarkan karena membahayakan pelaut, lingkungan laut, dan stabilitas rantai pasok global.
Data resmi IMO memperlihatkan besarnya risiko terhadap pelayaran sipil.
Hingga 21 Juli, organisasi tersebut mencatat 61 insiden terkonfirmasi di kawasan Timur Tengah dan 17 kematian pelaut. Sejumlah kapal juga ditinggalkan setelah mengalami kerusakan, sementara ribuan pelaut masih tertahan di Teluk Persia karena tidak dapat meninggalkan kawasan secara aman.
IMO sebelumnya menyerukan agar operator kapal tidak memaksakan perjalanan selama keselamatan awak tidak dapat dijamin. Organisasi itu juga mendesak seluruh pihak menghentikan serangan terhadap kapal dagang dan membuka jalur aman bagi kapal-kapal yang terperangkap.
Meningkatnya serangan berarti pasar tidak hanya memperhitungkan hilangnya volume minyak. Biaya pengiriman dapat naik meskipun sebuah kapal atau pelabuhan tidak terkena serangan langsung, karena perusahaan asuransi dan operator memasukkan risiko perang dalam tarif mereka.
Masalah minyak global tidak terbatas pada Timur Tengah.
Kazakhstan menurunkan produksi setelah dugaan serangan drone memaksa terminal ekspor utama Caspian Pipeline Consortium di Laut Hitam menghentikan operasi. Jalur tersebut menangani sekitar 2% pasokan minyak mentah dunia.
Produksi Kazakhstan turun menjadi sekitar 1,63 juta barel per hari dari rata-rata Juli sebesar 2,07 juta barel per hari. Produksi ladang Tengiz, yang merupakan ladang terbesar negara itu, dilaporkan merosot dari sekitar 925.000 menjadi 406.000 barel per hari.
Ukraina juga meningkatkan serangan terhadap kapal dan sasaran maritim Rusia di Laut Hitam serta Laut Azov. Militer Ukraina mengklaim telah menyerang lebih dari 180 kapal dan sasaran laut dalam beberapa pekan terakhir, tetapi tidak seluruh klaim tersebut dapat diverifikasi secara independen.
Gangguan serentak di Timur Tengah dan Laut Hitam membuat pembeli minyak semakin bergantung pada pasokan alternatif dari Afrika, Laut Utara, dan negara produsen lain.
Penurunan kontrak Brent tidak selalu mencerminkan kondisi seluruh pasar minyak.
Reuters melaporkan beberapa jenis minyak fisik mendekati US$110 per barel karena pembeli bersaing memperoleh pasokan yang dapat dikirim tanpa melewati jalur berisiko. Harga Forties dari Laut Utara, misalnya, sempat mencapai sekitar US$108,77.
Perbedaan tersebut menunjukkan adanya dua dinamika sekaligus.
Kontrak berjangka turun karena peluang diplomasi mengurangi ekspektasi risiko masa depan. Namun, harga minyak yang benar-benar tersedia untuk pengiriman tetap tinggi karena keterbatasan kapal, penutupan terminal, dan perubahan rute.
Analis JPMorgan memperkirakan setiap tambahan satu bulan gangguan pasokan dapat menambah sekitar US$7–US$8 pada harga Brent. Dalam skenario gangguan selama tiga bulan, rata-rata bulanan Brent dapat mendekati US$114 per barel.
Arah pasar akan bergantung pada perkembangan diplomasi dan pelayaran.
Dalam skenario pertama, Pakistan berhasil mempertemukan kembali AS dan Iran, sementara serangan terhadap negara Teluk dan kapal dagang mulai dihentikan. Premi geopolitik dapat turun lebih jauh dan harga minyak berpotensi menjauh dari US$100.
Skenario kedua adalah konflik tetap berlangsung pada intensitas saat ini. Kapal masih dapat bergerak dalam jumlah terbatas, tetapi biaya asuransi dan logistik tetap tinggi. Dalam kondisi tersebut, harga kemungkinan bertahan volatil pada level tinggi.
Skenario terakhir adalah perluasan serangan terhadap pelabuhan, tanker, jaringan listrik, atau dua selat sekaligus. Risiko kehilangan pasokan nyata dapat kembali mendorong Brent menembus US$100 dan meningkatkan tekanan inflasi global.
Koreksi Jumat karena itu belum menandai berakhirnya krisis energi. Pasar baru memperoleh sebuah kabar diplomatik yang memberi harapan, sementara kapal, produksi, dan operasi militer masih menunjukkan gambaran yang jauh lebih rapuh.
Disclaimer: Artikel ini hanya bertujuan memberikan informasi dan edukasi. Pembahasan harga minyak, komoditas, dan kondisi geopolitik bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual instrumen investasi.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.