Rupiah Tertekan Pagi Ini, Dolar AS Kembali Sentuh Rp17.900-an

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 22 July 2026 Waktu baca 5 menit

JAKARTA — Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Rabu, 22 Juli 2026, dengan pelemahan ketika pelaku pasar menunggu keputusan suku bunga terbaru Bank Indonesia.

Berdasarkan data Refinitiv yang menjadi acuan bahan ini, rupiah dibuka turun 0,22% ke posisi Rp17.920 per dolar Amerika Serikat. Pada perdagangan sebelumnya, mata uang Indonesia ditutup menguat 0,28% di level Rp17.880 per dolar AS.

 

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa penguatan rupiah sehari sebelumnya belum sepenuhnya menghilangkan kehati-hatian pasar. Investor masih menimbang risiko dari kebijakan moneter domestik, harga minyak yang kembali menanjak, serta eskalasi konflik di Timur Tengah.

 

Indeks dolar AS atau DXY pada sekitar pukul 09.00 WIB turun tipis 0,02% ke level 101,161. Meski melemah pada awal perdagangan Asia, indeks tersebut sebelumnya mencatat kenaikan selama empat hari berturut-turut seiring meningkatnya permintaan terhadap aset berdenominasi dolar.

 

Dua Pilihan Sulit bagi Bank Indonesia

Fokus utama pasar domestik tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia periode Juli.

Pertemuan berlangsung selama dua hari, pada 21–22 Juli 2026. Sesuai mekanisme BI, hari pertama digunakan untuk mengevaluasi kondisi ekonomi, stabilitas sistem keuangan, sistem pembayaran, dan pilihan bauran kebijakan. Keputusan suku bunga ditetapkan pada hari kedua.

 

Sebelum RDG Juli, BI Rate berada di level 5,75%. Bank sentral menaikkan bunga dari 4,75% menjadi 5,25% pada Mei, kemudian menjadi 5,50% pada 9 Juni dan 5,75% pada 18 Juni.

Secara kumulatif, suku bunga telah naik 100 basis poin sejak Mei. Kenaikan terakhir dilakukan untuk memperkuat stabilisasi rupiah sekaligus menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap berada dalam sasaran 2,5% plus-minus 1%.

 

Berdasarkan polling terhadap 14 institusi yang tercantum dalam bahan, delapan responden memperkirakan BI menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 6%. Enam responden lainnya memproyeksikan BI mempertahankan bunga di 5,75%.

 

Apabila BI kembali menaikkan bunga, keputusan itu akan menjadi pengetatan keempat sepanjang 2026.

Pilihan tersebut tidak mudah. Suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset rupiah dan membantu meredam tekanan nilai tukar. Namun, kenaikan bunga juga berpotensi menaikkan biaya pinjaman, menekan permintaan kredit, serta memperlambat konsumsi dan investasi.

 

Rupiah Menjadi Pertimbangan Utama

Ekspektasi kenaikan bunga terutama muncul karena volatilitas rupiah masih tinggi.

Tekanan terhadap mata uang negara berkembang dapat meningkat ketika dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah AS naik. Dalam situasi tersebut, investor global memiliki insentif lebih besar untuk memindahkan dana ke instrumen dolar yang menawarkan imbal hasil tinggi dan dianggap lebih aman.

 

Ekonom CIMB Niaga Mika Martumpal, dalam bahan yang menjadi dasar artikel, memperkirakan kenaikan 25 basis poin diperlukan untuk memperkuat stabilitas rupiah di tengah risiko geopolitik.

Chief Economist Valbury Asia Futures Fikri C. Permana juga menilai BI perlu memperhitungkan volatilitas mata uang, kemungkinan pengetatan moneter global, serta kebutuhan mempertahankan daya tarik aset portofolio Indonesia.

 

Namun, mempertahankan BI Rate juga masih memiliki dasar. Inflasi domestik tetap menjadi pertimbangan, sementara kebijakan bunga yang terlalu ketat dapat membebani pertumbuhan ekonomi.

 

Konflik Mengganggu Dua Jalur Energi

Tekanan eksternal terbesar berasal dari meluasnya konflik Amerika Serikat dan Iran.

Dua kapal tanker pembawa minyak Arab Saudi menuju Asia dilaporkan berbalik arah di Laut Merah setelah kelompok Houthi Yaman mengancam kapal-kapal yang menggunakan pelabuhan Saudi.

 

Gangguan tersebut membuka front baru dalam konflik karena risiko pelayaran tidak lagi hanya terkonsentrasi di Selat Hormuz. Ancaman kini juga mencakup Bab el-Mandeb, pintu masuk menuju Laut Merah dan Terusan Suez.

 

Laut Merah sebelumnya menjadi jalur alternatif penting bagi Arab Saudi ketika arus pengiriman melalui Hormuz terganggu. Apabila kedua rute menghadapi risiko pada saat bersamaan, biaya asuransi, waktu tempuh, dan ongkos pengangkutan minyak dapat meningkat.

 

Sejumlah kapal dapat terpaksa mengambil jalur yang lebih panjang mengelilingi Afrika, menambah waktu perjalanan dan mengurangi ketersediaan kapal tanker di pasar global.

 

Harga Minyak Kembali Dekati US$92

Ketegangan tersebut mendorong kenaikan harga energi.

Minyak mentah West Texas Intermediate naik 2,09% menjadi US$84,97 per barel, sedangkan Brent bertambah 1,88% ke US$90,90. Brent sempat menyentuh US$91,99, level tertingginya sejak 11 Juni 2026.

 

Kenaikan minyak berpengaruh langsung terhadap Indonesia karena negara ini merupakan pengimpor bersih minyak.

Harga yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor, menambah tekanan pada neraca perdagangan migas, serta memperbesar biaya subsidi dan kompensasi energi pemerintah.

 

Dampak berikutnya dapat muncul melalui inflasi. Jika biaya bahan bakar, transportasi, dan distribusi naik, harga barang dan jasa berisiko ikut terdorong.

Situasi itu mempersempit ruang BI. Bank sentral harus menjaga nilai tukar dan mengantisipasi inflasi tanpa menekan pertumbuhan secara berlebihan.

 

The Fed Kembali Menyoroti Risiko Inflasi

Pergerakan rupiah juga dipengaruhi perubahan ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral Amerika Serikat.

Survei Reuters terbaru menunjukkan mayoritas ekonom masih memperkirakan Federal Reserve mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75% hingga akhir 2026. Namun, semakin banyak responden melihat peluang kenaikan bunga apabila inflasi tetap tinggi.

 

Ketua The Fed Kevin Warsh kembali menegaskan komitmen mengembalikan inflasi menuju target 2%, sementara lonjakan harga minyak menambah risiko bahwa proses penurunan inflasi berlangsung lebih lambat.

 

Ekspektasi bunga AS yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama cenderung mendukung dolar dan imbal hasil Treasury. Kondisi tersebut dapat menekan rupiah karena aset Indonesia harus menawarkan kompensasi risiko yang lebih menarik agar dapat mempertahankan arus modal asing.

 

Pasar Menunggu Arah Kebijakan

Keputusan BI akan menentukan arah rupiah dalam jangka pendek.

Kenaikan bunga ke 6% dapat memberikan dukungan awal terhadap mata uang, terutama apabila disertai sinyal bahwa BI akan terus melakukan intervensi dan menjaga likuiditas valuta asing.

 

Namun, respons pasar juga bergantung pada komunikasi bank sentral. Investor akan mencermati proyeksi inflasi, pandangan mengenai harga minyak, kebijakan stabilisasi rupiah, serta kemungkinan arah bunga pada pertemuan berikutnya.

Apabila BI mempertahankan bunga di 5,75%, pasar akan menilai apakah instrumen lain—seperti intervensi di pasar spot, domestic non-deliverable forward, dan pembelian Surat Berharga Negara—cukup kuat untuk menjaga stabilitas.

 

Pergerakan rupiah hari ini dengan demikian tidak hanya mencerminkan permintaan dan penawaran dolar. Nilai tukar berada di titik pertemuan antara kebijakan BI, ekspektasi bunga AS, konflik geopolitik, serta risiko kenaikan biaya energi global.

 

Disclaimer: Artikel ini hanya bertujuan memberikan informasi dan edukasi. Pembahasan mengenai nilai tukar, suku bunga, dan kondisi pasar bukan rekomendasi untuk melakukan transaksi investasi atau valuta asing. Setiap keputusan finansial menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.