Asing Kembali Borong Saham RI saat Bursa Global Bergejolak, Ada Apa?

Saham News - Diposting pada 21 July 2026 Waktu baca 5 menit

JAKARTA — Pasar saham Indonesia mulai memperoleh perhatian baru dari investor global ketika reli saham berbasis kecerdasan buatan di sejumlah bursa utama kehilangan tenaga.

 

Perubahan arah tersebut terlihat pada perdagangan Senin, 20 Juli 2026. Investor asing membukukan pembelian bersih Rp93,47 miliar di seluruh pasar Bursa Efek Indonesia. Di pasar reguler, nilai pembelian bersih mencapai Rp156,57 miliar, tetapi sebagian terpotong penjualan bersih Rp63,10 miliar di pasar negosiasi dan tunai.

 

Masuknya dana asing berlangsung ketika Indeks Harga Saham Gabungan ditutup naik 0,91% ke level 6.231,78. Total transaksi mencapai sekitar Rp17,1–Rp17,2 triliun, dengan volume perdagangan kurang lebih 35,6 miliar saham.

 

Rotasi dari Pasar Mahal Menuju Saham Tertinggal

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai arus modal tersebut mencerminkan kombinasi sentimen global dan domestik.

Investor internasional mulai mengambil keuntungan dari pasar yang sebelumnya melonjak karena euforia AI, lalu mengalihkan sebagian dana ke negara berkembang dengan valuasi lebih rendah. Indonesia termasuk pasar yang kembali dipertimbangkan setelah mengalami koreksi tajam sejak awal tahun.

 

Gambaran serupa terlihat dari keputusan sejumlah pengelola dana global. Invesco mengaku mengambil keuntungan dari saham Korea Selatan dan mulai membeli saham Indonesia. Sejumlah investor juga kembali melirik saham perbankan, komoditas, dan perusahaan konsumer Indonesia karena valuasinya dinilai lebih menarik.

 

IHSG telah naik lebih dari 10% sepanjang Juli, sementara indeks-indeks regional yang banyak diisi perusahaan teknologi mulai mengalami tekanan. Meski demikian, rebound pasar Indonesia masih berlangsung dari basis yang rendah setelah indeks sempat menjadi salah satu pasar saham berkinerja terlemah di Asia pada 2026.

 

Koreksi Saham Cip Memicu Evaluasi Ulang

Rotasi tersebut terjadi ketika investor mulai mempertanyakan keberlanjutan reli perusahaan semikonduktor dan infrastruktur AI.

 

Philadelphia Semiconductor Index atau SOX turun sekitar 18% sepanjang Juli dan telah terkoreksi sedikit lebih dari 20% dari rekor penutupan pada akhir Juni. Penurunan itu secara teknikal menempatkannya dalam zona bearish.

Koreksi tersebut belum menghapus seluruh kenaikan tahun berjalan. SOX masih tumbuh sekitar 65% sejak awal 2026, jauh lebih tinggi daripada kenaikan S&P 500 sekitar 9%.

 

Investor kini menilai apakah belanja besar untuk pusat data, cip, komputasi, dan pengembangan model AI akan menghasilkan pertumbuhan pendapatan yang sebanding. Volatilitas juga diperbesar oleh perdagangan opsi serta exchange-traded funds dengan leverage yang dapat menambah pembelian ketika harga naik dan mempercepat penjualan ketika harga turun.

 

Kondisi tersebut belum membuktikan seluruh sektor AI berada dalam gelembung. Perusahaan semikonduktor masih diperkirakan mencatat pertumbuhan laba yang kuat. Namun, ekspektasi pasar yang sangat tinggi membuat saham-saham tersebut lebih rentan terkoreksi ketika laporan keuangan atau proyeksi manajemen tidak memenuhi harapan.

 

Investor Domestik Tetap Mendominasi

Walaupun dana asing mulai kembali, investor domestik masih menjadi kekuatan utama perdagangan di BEI.

Dalam rekap perdagangan 20 Juli, porsi aktivitas investor lokal mencapai sekitar 78,83%, sedangkan investor asing menyumbang 21,17% dari partisipasi volume transaksi. Dari sisi nilai, investor domestik menguasai sekitar 60,53% dan investor asing 39,47%.

 

Persentase volume beli dan jual dalam data tersebut merupakan ukuran partisipasi masing-masing kelompok pada dua sisi transaksi. Angka itu tidak dapat langsung dijumlahkan dan dibandingkan dengan volume headline bursa karena setiap transaksi selalu melibatkan pihak pembeli dan penjual.

 

Pada sisi nilai, investor asing melakukan pembelian sekitar Rp6,8 triliun dan penjualan Rp6,7 triliun. Investor domestik mencatat pembelian Rp10,3 triliun dan penjualan Rp10,4 triliun.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa aliran asing dapat memengaruhi saham berkapitalisasi besar dan arah indeks, tetapi likuiditas pasar secara keseluruhan masih sangat bergantung pada partisipasi investor lokal.

 

Arus Masuk Harian Belum Membalikkan Tren Tahunan

Pembelian bersih satu hari belum berarti modal asing sepenuhnya kembali ke Indonesia.

Hingga 20 Juli 2026, investor asing masih membukukan penjualan bersih sekitar Rp75,61 triliun di seluruh pasar. Di pasar reguler, nilai jual bersih mencapai Rp90,88 triliun. Angka itu sebagian diimbangi pembelian bersih Rp15,27 triliun melalui pasar negosiasi dan tunai.

 

Posisi tersebut konsisten dengan laporan mingguan BEI. Hingga Jumat, 17 Juli, penjualan bersih asing sepanjang tahun masih tercatat sekitar Rp75,71 triliun, meskipun investor global telah membukukan net buy Rp638,05 miliar pada sesi terakhir pekan tersebut.

 

Artinya, pergerakan terbaru lebih tepat disebut sebagai tanda awal rotasi selektif daripada pembalikan arus modal yang telah terkonfirmasi.

Investor asing juga tidak membeli seluruh pasar secara merata. Saham yang cenderung menjadi sasaran utama adalah emiten berkapitalisasi besar, memiliki likuiditas tinggi, tata kelola relatif kuat, dan laba yang lebih mudah diproyeksikan.

 

Valuasi Murah Menjadi Daya Tarik

Salah satu argumen utama untuk kembali memasuki pasar Indonesia adalah valuasi.

Setelah koreksi besar sejak awal tahun, rasio harga terhadap laba IHSG dilaporkan berada di bawah rata-rata historis. Beberapa pengukuran menempatkan rasio price-to-earnings pasar di kisaran 9–10 kali, dibandingkan rata-rata lima tahun yang lebih tinggi.

 

Valuasi murah tidak otomatis berarti harga saham akan segera naik. Diskon dapat bertahan apabila investor masih melihat risiko fiskal, pelemahan rupiah, ketidakpastian kebijakan, atau masalah transparansi pasar.

 

Namun, harga yang lebih rendah memberikan titik masuk lebih menarik bagi investor yang meyakini pendapatan perusahaan tetap bertumbuh dan risiko makroekonomi dapat dikendalikan.

 

S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil juga membantu meredakan sebagian kekhawatiran investor. Meski demikian, evaluasi MSCI terhadap aksesibilitas dan transparansi pasar Indonesia tetap menjadi agenda penting hingga November.

 

Perbankan, Telekomunikasi, dan Infrastruktur Dicermati

Nafan memperkirakan laporan keuangan semester pertama 2026 menjadi penentu kelanjutan arus masuk.

Sektor perbankan berpotensi menarik dana karena memiliki bobot besar terhadap IHSG, likuiditas tinggi, dan basis pendapatan yang relatif stabil. Telekomunikasi serta infrastruktur juga dapat memperoleh perhatian apabila kinerja operasionalnya memenuhi ekspektasi pasar.

 

Reuters mencatat saham Bank Central Asia, Vale Indonesia, Alamtri Minerals Indonesia, dan Amman Mineral Internasional termasuk nama yang kembali disukai sejumlah investor global. Pengelola dana Allan Gray juga mulai masuk ke Indonesia melalui saham Indofood Sukses Makmur karena valuasi dan kemampuan perusahaan menghasilkan kas.

 

Aliran modal kemungkinan tetap selektif. Investor global cenderung memilih perusahaan yang memiliki neraca sehat, bisnis menghasilkan arus kas, saham mudah diperdagangkan, dan risiko tata kelolanya dapat dipantau.

 

Konflik Timur Tengah Menjadi Risiko Utama

Rotasi menuju Indonesia berlangsung di tengah konflik Amerika Serikat dan Iran yang masih mengganggu pasar energi.

Sebelum perang, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Gangguan pada jalur tersebut telah mendorong harga minyak dan memperbesar risiko inflasi global.

 

Arab Saudi dilaporkan mengalihkan lebih dari 70% ekspor minyak hariannya menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Pengiriman dari pelabuhan tersebut meningkat menjadi sekitar 4 juta barel per hari. Namun, ancaman blokade Houthi di Bab el-Mandeb dapat mengganggu rute alternatif itu.

 

Bagi Indonesia sebagai pengimpor minyak bersih, kenaikan harga energi dapat menekan rupiah, memperbesar beban subsidi, meningkatkan inflasi, dan mengurangi peluang pelonggaran suku bunga. Reuters menilai faktor tersebut masih menjadi salah satu hambatan bagi pemulihan kepercayaan investor terhadap aset Indonesia.

 

Peluang Berlanjut, tetapi Belum Merata

Arus dana asing berpotensi berlanjut apabila rupiah stabil, laba perusahaan memenuhi ekspektasi, dan prospek penurunan suku bunga global kembali menguat.

 

Sebaliknya, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, penguatan dolar, atau eskalasi konflik Timur Tengah dapat mendorong investor kembali mengambil keuntungan dan mengurangi posisi di pasar negara berkembang.

 

Karena itu, net buy asing pada 20 Juli sebaiknya dipandang sebagai sinyal membaiknya selera risiko, bukan jaminan bahwa tekanan pasar telah berakhir.

Indonesia mulai menarik perhatian sebagai pasar yang murah dan belum dipadati investor. Namun, keberlanjutan rebound tetap bergantung pada konsistensi kebijakan, stabilitas nilai tukar, perbaikan tata kelola pasar, serta kemampuan emiten mengubah pemulihan ekonomi menjadi pertumbuhan laba.

 

Disclaimer: Artikel ini hanya bertujuan memberikan informasi dan edukasi. Pembahasan mengenai kondisi pasar, sektor, maupun saham tertentu bukan rekomendasi atau ajakan untuk membeli dan menjual efek. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

Sumber: kompas.id

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.