Saham News
Asing Kembali Borong Saham RI saat Bursa Global Bergejolak, Ada Apa?
/index.php
Saham News - Diposting pada 21 July 2026 Waktu baca 5 menit
JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan melanjutkan tren positif pada perdagangan Selasa, 21 Juli 2026, dengan menembus level psikologis 6.300. Kenaikan berlangsung di tengah aksi beli yang tersebar pada sebagian besar sektor, terutama properti, bahan baku, energi, dan utilitas.
Berdasarkan snapshot perdagangan sekitar pukul 11.45 WIB, IHSG naik 73,82 poin atau 1,18% ke posisi 6.305,60. Indeks kemudian memperbesar kenaikannya dan menutup sesi pertama di level 6.319,85, atau menguat 1,41%.
Sepanjang sesi pagi, IHSG bergerak pada rentang 6.247,35–6.321,51. Indeks sebelumnya dibuka di posisi 6.273,57 setelah menguat 0,91% menjadi 6.231,78 pada perdagangan Senin.
Reli kali ini disertai pergerakan positif yang cukup merata. Pada snapshot sekitar pukul 11.45 WIB, sebanyak 400 saham menguat, 248 saham melemah, dan 317 saham tidak mengalami perubahan harga.
Nilai transaksi telah mencapai sekitar Rp10,28 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 27,39 miliar saham. Lebarnya jumlah saham yang naik menunjukkan bahwa peningkatan indeks tidak hanya berasal dari satu atau dua saham berkapitalisasi besar.
Sektor properti menjadi pemimpin kenaikan dengan pertumbuhan sekitar 5,46%. Posisi berikutnya ditempati sektor bahan baku yang naik 2,08%, energi 2,05%, utilitas 1,99%, dan teknologi 1,05%.
Sektor kesehatan menjadi satu-satunya kelompok yang bergerak di zona merah, dengan pelemahan sekitar 1,28%.
Dominasi saham properti memperlihatkan tingginya minat pasar terhadap emiten yang sensitif terhadap prospek suku bunga, pembiayaan, dan pertumbuhan ekonomi domestik. Namun, kenaikan pada energi dan bahan baku menunjukkan bahwa reli juga memperoleh dukungan dari saham berbasis komoditas.
Dari sisi emiten, PT Amman Mineral Internasional Tbk. menjadi salah satu penggerak terbesar IHSG. Pada snapshot intraday, saham berkode AMMN memberikan kontribusi sekitar 10,13 poin terhadap kenaikan indeks.
PT Maha Properti Indonesia Tbk. atau MPRO menyumbang sekitar 6,43 poin, sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. memberikan tambahan sekitar 5,85 poin.
Dua kontributor lainnya adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. atau DSSA dengan sekitar 5,16 poin dan PT Bumi Resources Tbk. atau BUMI sebesar 2,95 poin.
Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa penguatan berasal dari kombinasi saham pertambangan, properti, perbankan, dan energi.
Menjelang penutupan sesi pertama, komposisi kontribusi berubah mengikuti pergerakan harga. Bloomberg Technoz mencatat AMMN tetap menjadi kontributor terbesar dengan sekitar 11,01 poin, diikuti BBRI, DSSA, MPRO, dan BBCA. BBRI sendiri menguat 1,66% menjadi Rp3.070 dan berada di jalur kenaikan selama lima hari beruntun.
Sejumlah emiten menjadi pemberat indeks, antara lain PT Kalbe Farma Tbk., PT MD Entertainment Tbk., PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk., PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk., dan PT United Tractors Tbk.
Meski demikian, kontribusi negatif saham-saham tersebut masih lebih kecil dibandingkan dorongan yang berasal dari AMMN, MPRO, BBRI, DSSA, dan BUMI.
Pelemahan KLBF dan SRAJ juga sejalan dengan koreksi indeks sektor kesehatan. Kondisi tersebut memperlihatkan adanya rotasi dana dari saham defensif menuju emiten yang lebih sensitif terhadap pertumbuhan, komoditas, dan perubahan sentimen pasar.
Perhatian investor domestik tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung pada 21–22 Juli 2026. Sesuai jadwal resmi, evaluasi ekonomi dan pilihan bauran kebijakan dibahas pada hari pertama, sedangkan keputusan kebijakan ditetapkan pada hari kedua.
BI Rate saat ini berada di level 5,75% setelah Bank Indonesia menaikkannya sebesar 25 basis poin pada Juni. Kenaikan tersebut dilakukan untuk memperkuat stabilisasi rupiah dan menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5% plus-minus 1%.
Konsensus Bloomberg terhadap 34 ekonom dan analis menunjukkan median proyeksi BI Rate naik lagi sebesar 25 basis poin menjadi 6%. Meski demikian, sejumlah institusi masih memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga di 5,75%.
Ekspektasi pengetatan moneter biasanya menjadi tantangan bagi saham properti karena berpotensi meningkatkan biaya kredit. Namun, penguatan tajam sektor tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar kemungkinan telah mengantisipasi sebagian risiko atau lebih berfokus pada pemulihan sentimen domestik.
Sentimen positif lainnya berasal dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia pada level BBB dan peringkat jangka pendek A-2, dengan outlook stabil pada 13 Juli 2026.
S&P menilai pelemahan indikator fiskal dan eksternal Indonesia bersifat sementara. Kondisinya diperkirakan membaik melalui pemulihan penerimaan pemerintah, kenaikan pendapatan ekspor yang didukung harga komoditas, serta kebijakan pengelolaan sektor sumber daya alam.
Peringkat tersebut mempertahankan Indonesia dalam kategori layak investasi. Namun, S&P tetap mengingatkan bahwa tekanan dapat muncul apabila utang pemerintah, biaya bunga, atau kebutuhan pembiayaan eksternal memburuk secara signifikan.
Meskipun pasar saham domestik bergerak positif, ketegangan di Timur Tengah masih menjadi sumber volatilitas. Konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dan sempat mendorong harga minyak mendekati level tertinggi dalam enam pekan.
Indeks dolar AS berada di sekitar level tertinggi satu pekan, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bergerak di kisaran 4,59%. Kombinasi dolar dan yield yang tinggi dapat mengurangi daya tarik aset negara berkembang karena investor memperoleh imbal hasil lebih besar dari instrumen dolar yang relatif aman.
Bagi Indonesia, kenaikan minyak juga dapat memengaruhi inflasi, beban subsidi, neraca perdagangan, dan pergerakan rupiah. Karena itu, keberlanjutan reli IHSG akan ditentukan oleh keseimbangan antara sentimen domestik yang membaik dan tekanan eksternal yang masih tinggi.
Penembusan level 6.300 menjadi sinyal bahwa minat beli belum mereda. Namun, investor tetap perlu mengamati hasil RDG Bank Indonesia, kelanjutan aliran dana asing, pergerakan rupiah, serta kemampuan indeks mempertahankan level tersebut setelah kenaikan beruntun.
Disclaimer: Artikel ini hanya bertujuan memberikan informasi dan edukasi. Seluruh data, analisis, dan penyebutan saham bukan rekomendasi maupun ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.