Saham News
IHSG Melonjak 4,24% Sepekan, Kapitalisasi Pasar BEI Tembus Rp10.749 Triliun
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 18 July 2026 Waktu baca 5 menit
MALANG — Presiden Prabowo Subianto menanggapi kritik mengenai harga beras dengan menekankan pentingnya menjaga pendapatan petani. Menurutnya, masyarakat tidak dapat hanya menuntut harga pangan murah tanpa memperhitungkan biaya, tenaga, dan risiko yang ditanggung produsen.
Pernyataan itu disampaikan dalam Panen Raya TNI Terintegrasi di Pangkalan TNI Angkatan Udara Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat, 17 Juli 2026.
Prabowo mengatakan pihak yang menilai harga beras terlalu mahal sebaiknya ikut merasakan proses menanam dan menghasilkan pangan. Ia bahkan berkelakar bahwa TNI dan Kementerian Pertanian dapat menyediakan lahan bagi masyarakat yang ingin mencoba menanam padi sendiri.
Pernyataan tersebut menyoroti persoalan yang selalu muncul dalam kebijakan pangan: bagaimana menjaga harga beras tetap terjangkau bagi konsumen tanpa menekan pendapatan petani.
Bagi rumah tangga, kenaikan harga beras dapat langsung memengaruhi pengeluaran sehari-hari. Namun, harga jual yang terlalu rendah juga dapat membuat petani kesulitan menutup biaya benih, pupuk, tenaga kerja, irigasi, sewa lahan, hingga penanganan pascapanen.
Dalam pidatonya, Prabowo mengambil posisi bahwa petani berhak memperoleh penghasilan yang layak karena mereka menghasilkan kebutuhan dasar bagi seluruh masyarakat. Ia menyebut petani dan nelayan sebagai pahlawan yang sesungguhnya karena peran mereka dalam menjaga ketersediaan pangan nasional.
Pernyataan itu tidak serta-merta menyelesaikan persoalan harga di tingkat konsumen. Tantangan pemerintah tetap terletak pada pengelolaan rantai distribusi agar kenaikan harga yang dibayar masyarakat benar-benar diteruskan kepada produsen, bukan hanya terkumpul pada perantara atau terjadi akibat biaya distribusi yang tidak efisien.
Agenda di Malang merupakan bagian dari panen raya tiga komoditas strategis yang dilaksanakan secara serentak di 43 lokasi di seluruh Indonesia.
TNI Angkatan Udara mendampingi panen tebu di delapan titik, TNI Angkatan Darat terlibat dalam panen padi di 31 lokasi, sedangkan TNI Angkatan Laut mendampingi panen kedelai di empat titik.
Pembagian tersebut merupakan bagian dari program pendampingan terpadu TNI terhadap sektor pertanian. Pemerintah ingin menghubungkan peningkatan produksi dengan pengolahan hasil, distribusi, dan hilirisasi agar komoditas pertanian memberikan nilai ekonomi yang lebih besar.
Prabowo menilai kegiatan serentak tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak dapat hanya dibebankan kepada Kementerian Pertanian. Menurutnya, swasembada pangan membutuhkan keterlibatan pemerintah pusat, daerah, petani, badan usaha, TNI, Polri, dan berbagai unsur masyarakat.
Dalam laporan kepada Presiden, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menyampaikan bahwa lahan tebu siap panen di Lanud Abdulrachman Saleh mencapai 800,5 hektare.
Dari lahan tersebut, hasil panen diperkirakan mencapai 72.045 ton. Nilai yang diterima pabrik disebut rata-rata sekitar Rp720.000 per ton.
Tebu yang dipanen tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan gula. Produk turunannya dapat diolah menjadi molase, bioetanol, bahan untuk industri dan farmasi, serta pupuk organik. Pengembangan tersebut diharapkan meningkatkan nilai tambah yang diterima dari setiap siklus produksi.
Sebelum menyaksikan panen, Prabowo juga meninjau sejumlah stan yang menampilkan program ketahanan pangan TNI dan inisiatif hilirisasi pertanian. Ia turut melihat fasilitas pengolahan sampah serta berbagai produk hasil pengembangan komoditas.
Prabowo menggunakan kegiatan tersebut untuk menegaskan bahwa peran TNI dan Polri tidak terbatas pada pertahanan dan keamanan.
Menurutnya, kedua institusi merupakan bagian dari masyarakat dan memiliki tanggung jawab membantu mengatasi kesulitan rakyat. Keterlibatan dalam sektor pertanian diposisikan sebagai bentuk pengabdian untuk memperkuat produksi serta mendampingi petani di lapangan.
Dua bulan sebelumnya, Prabowo menghadiri panen raya jagung bersama Polri di Kabupaten Tuban pada 16 Mei 2026. Agenda tersebut mencakup panen jagung serentak, pembangunan sepuluh gudang ketahanan pangan, dan pengoperasian 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Polri.
Melalui dua kegiatan tersebut, pemerintah memperlihatkan pembagian peran: Polri mendukung pengembangan jagung dan sarana penyimpanannya, sedangkan tiga matra TNI memberikan pendampingan terhadap padi, kedelai, dan tebu.
Peningkatan produksi belum tentu langsung menghasilkan kesejahteraan apabila petani menerima harga rendah, menghadapi biaya tinggi, atau tidak memiliki sarana penyimpanan dan pengolahan.
Sebaliknya, menjaga harga di tingkat produsen juga harus disertai langkah untuk melindungi daya beli masyarakat. Pemerintah perlu memastikan distribusi berjalan efisien, stok tersedia, bantuan pangan tepat sasaran, dan selisih antara harga gabah di tingkat petani dengan harga beras di tingkat konsumen tetap wajar.
Pernyataan Prabowo di Malang memperlihatkan keberpihakan yang kuat terhadap pendapatan produsen pangan. Namun, keberhasilan kebijakan pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan pemerintah menjaga dua kepentingan sekaligus: petani memperoleh keuntungan yang layak dan masyarakat tetap mampu membeli beras.
Panen raya di 43 titik menjadi simbol peningkatan produksi. Tahap berikutnya adalah memastikan hasil panen diserap dengan harga yang menguntungkan, diolah secara efisien, dan disalurkan tanpa menciptakan beban berlebihan bagi konsumen.
Sumber: bisnis.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.