Marina Budiman, Ratu Data Center yang Menjadi Wanita Terkaya Indonesia

Berita Terkini - Diposting pada 17 July 2026 Waktu baca 5 menit

Marina Budiman, Presiden Komisaris PT DCI Indonesia Tbk (DCII)

JAKARTA — Nama Marina Budiman menjadi representasi perubahan peta kekayaan di Indonesia. Ketika daftar orang terkaya nasional selama ini banyak diisi pengusaha komoditas, perbankan, dan manufaktur, Marina membangun kekayaannya dari sektor yang relatif lebih baru: infrastruktur pusat data.

 

Dalam snapshot Forbes Real-Time Billionaires pada pertengahan Juli 2026, Marina menjadi satu-satunya perempuan yang masuk jajaran sepuluh orang terkaya di Indonesia. Kekayaannya diperkirakan mencapai US$5,7 miliar atau sekitar Rp102,9 triliun, menempatkannya di posisi kedelapan secara nasional.

 

Tepat satu tingkat di atasnya terdapat Otto Toto Sugiri, mitra bisnis yang telah bekerja bersama Marina sejak fase awal perkembangan industri teknologi informasi Indonesia. Keduanya kini dikenal sebagai pendiri PT DCI Indonesia Tbk., operator pusat data yang sahamnya diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia dengan kode DCII.

 

Berawal dari Keinginan Menjadi Bankir

Marina lahir pada 1961 dan menyelesaikan pendidikan di University of Toronto pada 1985. Ia memperoleh gelar sarjana di bidang keuangan dan ekonomi sebelum kembali ke Indonesia untuk memulai karier profesionalnya.

Pilihan awal Marina sebenarnya mengarah ke sektor perbankan. Ia bergabung dengan Bank Bali pada 1985. Di perusahaan tersebut, Marina terlibat dalam proyek pemasangan perangkat lunak perbankan—pengalaman yang kemudian memperkenalkannya pada peran teknologi dalam mendukung kegiatan bisnis. Di Bank Bali pula ia bekerja bersama Otto Toto Sugiri.

 

Pengalaman tersebut mengubah arah kariernya. Pada 1989, Marina bergabung dengan PT Sigma Cipta Caraka sebagai project manager. Kariernya di Sigma berkembang hingga ia menjabat sebagai chief financial officer pada 2000 serta sales and delivery director selama periode 2008–2010.

 

Merintis Internet ketika Industri Digital Belum Terbentuk

Salah satu langkah penting Marina terjadi pada 1994 saat ia ikut mendirikan Indonet bersama Otto dan sejumlah mitra lainnya.

Indonet dikenal sebagai penyedia layanan internet swasta pertama di Indonesia. Perusahaan tersebut didirikan pada Maret 1994 dan memulai kegiatan komersialnya pada April tahun yang sama—ketika akses internet masih jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

 

Keterlibatan Marina dalam Indonet menunjukkan bahwa kiprahnya di industri digital telah dimulai jauh sebelum munculnya layanan komputasi awan, perdagangan elektronik, kecerdasan buatan, maupun ekonomi aplikasi.

 

Pada 2023, Marina, Otto, dan para pendiri lainnya melepas kepemilikan mereka di Indonet kepada perusahaan pusat data regional Digital Edge.

 

Melihat Peluang di Balik Ledakan Data

Babak berikutnya dimulai ketika Marina bersama Otto Toto Sugiri, Han Arming Hanafia, dan para pendiri lainnya membangun DCI Indonesia pada 2011.

Alih-alih menciptakan aplikasi untuk konsumen, DCI bergerak di lapisan dasar ekonomi digital. Perusahaan menyediakan fasilitas untuk menempatkan server, jaringan, sistem komputasi, dan perangkat teknologi penting milik perusahaan perbankan, telekomunikasi, penyedia cloud, e-commerce, serta berbagai institusi lainnya.

 

Forbes pernah memasukkan Marina dalam Asia’s Power Businesswomen dan menyoroti perannya dalam membangun DCI sebagai salah satu operator pusat data terbesar di Indonesia. Forbes juga menyebut DCI sebagai pusat data Tier IV pertama di Asia Tenggara.

 

Saat ini, DCI menyatakan dirinya sebagai operator pusat data Tier IV pertama dan terdepan di Indonesia serta operator pertama dan satu-satunya di Asia Tenggara yang memiliki sertifikasi Tier IV Gold untuk keberlanjutan operasional.

 

Dari Cibitung hingga Surabaya

Ekspansi DCI berjalan seiring dengan meningkatnya kebutuhan penyimpanan dan pemrosesan data.

Portofolio fasilitas perusahaan kini tersebar di empat wilayah, yakni Cibitung, Karawang, pusat Jakarta, dan Surabaya. Fasilitas E2 Surabaya resmi beroperasi pada April 2026 dan menjadi langkah pertama perusahaan memperluas platformnya ke kawasan Indonesia timur.

 

Perusahaan juga mengoperasikan E1 di pusat Jakarta dengan kapasitas beban teknologi informasi sebesar 19 megawatt. DCI menyebut fasilitas tersebut sebagai pusat data Tier IV pertama dan satu-satunya di pusat kota Jakarta.

 

Pengembangan jaringan ini membuat DCI berada pada posisi strategis dalam pertumbuhan layanan cloud, kecerdasan buatan, layanan keuangan digital, e-commerce, dan transformasi sistem perusahaan.

 

IPO yang Mengubah Nilai Kepemilikan Para Pendiri

DCI Indonesia resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada 6 Januari 2021. Dalam penawaran umum perdana, perseroan menawarkan 357.561.900 saham dengan harga Rp420 per saham.

Pergerakan saham DCII setelah IPO kemudian menjadi faktor utama yang mendorong nilai kekayaan para pendirinya. Kekayaan Marina sangat berkaitan dengan valuasi saham tersebut, sehingga estimasi kekayaan versi Forbes dapat berubah tajam ketika harga DCII bergerak.

 

Marina tercatat memiliki 536.505.149 saham atau setara 22,51% kepemilikan DCII. Porsi tersebut menjadikannya pemegang saham individual terbesar kedua setelah Otto Toto Sugiri yang menguasai sekitar 29,9%.

Pemegang saham utama Persentase
Otto Toto Sugiri 29,90%
Marina Budiman 22,51%
Han Arming Hanafia 14,11%
Anthoni Salim 11,12%

Selain menjadi salah satu pendiri dan pemegang saham utama, Marina menjabat sebagai Presiden Komisaris DCI sejak 2016. Sebelumnya, ia pernah menjalankan posisi Presiden Direktur perusahaan.

 

Kekayaan yang Mengikuti Harga Saham

Estimasi kekayaan Marina tidak bersifat tetap. Forbes memperbarui nilai kekayaan miliarder yang memiliki saham perusahaan publik dengan memperhitungkan perubahan pasar.

Pada daftar Indonesia’s 50 Richest yang diterbitkan Desember 2025, Forbes memperkirakan kekayaan Marina sebesar US$8,2 miliar. Namun, snapshot real-time pada Juli 2026 menunjukkan nilainya berada di kisaran US$5,7 miliar–US$5,8 miliar. Perbedaan tersebut menggambarkan besarnya pengaruh fluktuasi harga saham DCII terhadap nilai kepemilikannya.

 

Karena itu, angka Rp102,9 triliun sebaiknya dibaca sebagai estimasi nilai aset pada waktu tertentu, bukan jumlah uang tunai yang tersimpan dalam rekening pribadi.

 

Wajah Baru Kelompok Konglomerat Indonesia

Kehadiran Marina dan Otto di jajaran orang terkaya Indonesia memperlihatkan bahwa infrastruktur digital telah berkembang menjadi sumber penciptaan nilai ekonomi yang sangat besar.

Pertumbuhan cloud computing, kecerdasan buatan, transaksi digital, dan kebutuhan pengelolaan data membuat pusat data tidak lagi sekadar fasilitas pendukung. Infrastruktur tersebut kini menjadi bagian penting dari operasional perusahaan, layanan publik, sistem pembayaran, dan ekonomi internet.

 

Perjalanan Marina—dari proyek perangkat lunak di sebuah bank, merintis penyedia internet pada 1994, hingga membangun operator pusat data berstandar internasional—juga menunjukkan bahwa kekayaannya terbentuk melalui proses panjang selama lebih dari empat dekade.

 

Posisinya sebagai satu-satunya perempuan dalam sepuluh besar orang terkaya Indonesia sekaligus memperlihatkan dua hal: semakin besarnya nilai industri digital dan masih terbatasnya representasi perempuan pada tingkat tertinggi kepemilikan bisnis nasional.

Sumber: kompas.id

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.