Bisnis | Ekonomi
Prabowo Sentil Kritik Harga Beras Mahal: Tanam Padi Sendiri!
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 18 July 2026 Waktu baca 5 menit
WASHINGTON/TEHERAN — Konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase berbahaya setelah kedua negara melancarkan serangan baru pada Jumat, 17 Juli 2026. Sasaran operasi tidak lagi terbatas pada instalasi militer, tetapi mulai menyentuh jembatan, fasilitas pelabuhan, jaringan listrik, sistem air, dan jalur pelayaran strategis.
Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM mengatakan gelombang serangan terbarunya dimulai pukul 15.00 waktu Pantai Timur AS. Operasi tersebut disebut bertujuan melanjutkan pelemahan terhadap kemampuan militer Iran. Setelah rangkaian serangan selesai, CENTCOM menyatakan targetnya mencakup lokasi pengawasan, infrastruktur logistik militer, penyimpanan senjata bawah tanah, serta kemampuan maritim Iran.
Washington menggunakan pesawat tempur, pesawat nirawak, kapal perang, dan aset lainnya dalam operasi itu. CENTCOM juga menyebut lebih dari 50.000 personel Amerika kini berada di kawasan Timur Tengah.
Media pemerintah Iran melaporkan serangan AS mengenai sedikitnya lima jembatan di wilayah selatan. Tujuh orang dilaporkan tewas setelah jembatan dan sebuah stasiun kereta di Bandar Khamir terkena serangan. Bandara Iranshahr serta sejumlah lokasi lain di pesisir selatan juga dilaporkan menjadi sasaran.
Di Pelabuhan Chabahar, serangan merobohkan sebuah menara pengawasan. Amerika menyatakan fasilitas tersebut merupakan bagian dari jaringan pemantauan maritim yang digunakan untuk melacak dan membantu penargetan kapal di sekitar Teluk Oman. Sementara itu, pemberitaan Iran menggambarkannya sebagai menara pengendali pelabuhan. Perbedaan penjelasan tersebut menunjukkan adanya sengketa mengenai apakah fasilitas yang diserang bersifat militer, sipil, atau memiliki fungsi ganda.
Serangan juga dilaporkan terjadi di Jask, Sirik, Ahvaz, Yazd, dan Khorramabad. Pada Sabtu, media Iran melaporkan dua jembatan dan sebuah terowongan jalan mengalami kerusakan di Provinsi Hormozgan.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres menyampaikan kekhawatiran terhadap peningkatan serangan pada infrastruktur sipil, baik di Iran maupun di negara-negara lain di kawasan.
Iran merespons dengan mengumumkan serangan terhadap fasilitas yang berkaitan dengan militer AS di Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Yordania. Teheran juga mengatakan telah menembakkan rudal jelajah ke arah sebuah kapal Amerika di bagian utara Samudra Hindia. Klaim mengenai tingkat kerusakan pada aset AS belum seluruhnya dikonfirmasi secara independen.
Di Yordania, militer setempat menyatakan berhasil menembak jatuh tiga rudal yang memasuki wilayah udaranya. Iran mengklaim telah menyerang pesawat tempur dan pesawat pengisian bahan bakar AS yang berada di negara tersebut, tetapi Washington tidak segera mengonfirmasi klaim kerusakan itu.
Di Qatar, Garda Revolusi Iran mengklaim menargetkan radar dan pesawat militer AS. Pemerintah Qatar mengatakan sistem pertahanannya mencegat serangan rudal tersebut.
Bahrain juga masuk dalam daftar target yang diumumkan Iran. Garda Revolusi mengklaim menyerang lokasi penyimpanan drone AS dan pusat kecerdasan buatan utama Bahrain. Besarnya kerusakan yang diklaim Teheran belum mendapat verifikasi independen.
Dampak paling jelas di luar Iran terlihat di Kuwait. Pemerintah negara tersebut melaporkan sebuah kompleks pembangkit listrik dan desalinasi air terkena serangan Iran. Insiden itu menyebabkan kebakaran, kerusakan fasilitas, dan terganggunya sejumlah unit pembangkit.
Serangan tersebut memperbesar kekhawatiran kemanusiaan karena lebih dari 90% air minum Kuwait bergantung pada proses desalinasi. Banyak negara Teluk menempatkan fasilitas pengolahan air dan pembangkit listrik dalam kompleks yang sama, sehingga kerusakan pada satu bagian dapat memengaruhi dua layanan penting sekaligus.
Militer Kuwait juga mengatakan sejumlah personelnya terluka dalam serangan drone Iran terhadap fasilitas dan kamp militer. Tidak ada laporan korban meninggal dalam serangan tersebut.
Pertempuran terbaru tidak dapat dipisahkan dari perselisihan mengenai Selat Hormuz, jalur yang sebelum perang dilewati sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran. Militer AS mengatakan telah mengalihkan empat kapal komersial, melumpuhkan satu kapal, dan menaiki kapal lainnya untuk menegakkan blokade tersebut.
Iran, di sisi lain, menuntut setiap kapal memperoleh izin sebelum melintasi selat tersebut. Garda Revolusi menyatakan empat kapal yang melanggar aturan pelayaran Iran dihentikan melalui operasi gabungan rudal dan drone.
Sebelumnya, militer AS juga melumpuhkan sebuah kapal tanker kosong yang bergerak menuju Pulau Kharg setelah kapal tersebut disebut mengabaikan beberapa kali peringatan. Washington mengatakan rudal Hellfire ditembakkan ke cerobong kapal untuk menghentikannya.
Kedua pihak dengan demikian bukan hanya menyerang daratan, tetapi juga berusaha menentukan siapa yang memiliki kendali praktis terhadap pelayaran di salah satu jalur energi terpenting dunia.
Pasar minyak merespons eskalasi tersebut dengan kenaikan tajam. Kontrak Brent naik lebih dari 4% dan ditutup pada US$88,10 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate berakhir di US$82,49 per barel.
Sepanjang pekan, kedua acuan minyak tersebut meningkat sekitar 16%. Pelaku pasar memperhitungkan risiko gangguan lanjutan di Selat Hormuz serta kemungkinan meluasnya ancaman terhadap rute pengiriman di Laut Merah.
Kecemasan pasar bertambah setelah Axios melaporkan pemerintahan Trump memberi tahu Israel mengenai rencana pengiriman puluhan pesawat pengisian bahan bakar tambahan. Pesawat tersebut dapat memperpanjang jangkauan serta durasi operasi udara apabila Amerika memperluas serangannya terhadap Iran.
Pengalihan lebih dari 70% ekspor minyak Saudi menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah menunjukkan produsen kawasan mulai mencari rute alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap Hormuz. Namun, ancaman terhadap jalur Bab el-Mandeb akan membatasi efektivitas strategi tersebut.
Pertukaran serangan terbaru semakin memperkecil peluang menyelamatkan kerangka gencatan senjata yang disepakati pada Juni.
Amerika dan Iran menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni untuk menjaga keterbukaan Selat Hormuz dan membuka jalan menuju penyelesaian perang yang lebih permanen. Namun, gencatan senjata tersebut runtuh pada awal Juli setelah serangan terhadap kapal komersial dan dimulainya kembali operasi militer Amerika.
Sejak itu, kedua negara terlihat menguji batas eskalasi. Washington memperluas daftar target dan menegakkan blokade, sedangkan Iran meningkatkan serangan terhadap negara-negara yang menampung pangkalan atau aset militer AS. Pola saling membalas ini menciptakan risiko bahwa setiap serangan akan memunculkan respons yang lebih besar daripada tindakan sebelumnya.
Presiden Donald Trump tetap menggambarkan operasi militer Amerika sebagai sebuah keberhasilan. Dalam pidatonya pada Kamis malam, ia mengatakan Amerika sedang meraih kemenangan besar di Iran dan hasilnya akan terlihat dalam waktu dekat. Namun, pernyataan tersebut disampaikan ketika serangan lintas kawasan justru meningkat dan prospek perundingan semakin suram.
Tekanan politik terhadap pemerintah AS juga bertambah karena kenaikan minyak berpotensi meningkatkan harga bahan bakar dan biaya hidup menjelang pemilu kongres pada November. Reuters mencatat lonjakan harga minyak menjadi sumber tekanan baru bagi Trump dan Partai Republik yang berupaya mempertahankan kendali atas Kongres.
China dan Pakistan menyerukan penghentian permusuhan serta dimulainya kembali dialog antara Washington dan Teheran.
Seruan itu disampaikan setelah Menteri Luar Negeri China Wang Yi bertemu Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar di Shanghai. Kedua negara meminta gencatan senjata segera dipulihkan agar konflik tidak meluas ke negara-negara lain.
Seruan tersebut belum menghasilkan terobosan. AS dan Iran masih melihat kendali atas Hormuz, kemampuan militer lawan, serta tekanan terhadap negara-negara Teluk sebagai sumber daya tawar yang terlalu berharga untuk dilepaskan.
Konflik pada puncaknya antara Maret dan awal April memang lebih besar dari sisi volume serangan. Namun, fase terbaru membawa risiko yang berbeda karena semakin banyak fasilitas penting dan jalur logistik yang terlibat.
Kerusakan pada jembatan, sistem listrik, pengolahan air, pelabuhan, dan jalur pelayaran dapat menimbulkan dampak yang bertahan lebih lama daripada serangan terhadap satu pangkalan militer. Gangguan tersebut berpotensi memengaruhi pasokan air, listrik, bahan bakar, pangan, dan perdagangan lintas negara.
Selama Washington mempertahankan blokade dan Teheran menuntut kendali atas pelayaran di Hormuz, ruang kompromi akan tetap sempit. Risiko terbesar bukan hanya keputusan salah satu pihak untuk memulai perang berskala penuh, melainkan akumulasi serangan balasan yang perlahan membuat jalan keluar diplomatik semakin sulit ditemukan.
Sumber: bloombergtechnoz.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.