Berita Terkini
Kim Jong Un Awasi Uji Coba Sistem Roket Serangan Baru, Ancaman Regional Meningkat
/index.php
Berita Terkini - Diposting pada 28 January 2026 Waktu baca 5 menit
Menciptakan daratan baru di tengah lautan luas dalam waktu singkat terdengar mustahil. Namun, China berhasil mewujudkan hal tersebut di Laut China Selatan. Dalam kurun sepuluh tahun terakhir, negara itu mengubah terumbu karang yang sebelumnya terendam menjadi pulau-pulau buatan berukuran besar dengan kecepatan luar biasa. Di balik kemajuan teknologi yang digunakan, terdapat metode ekstrem yang diterapkan serta dampak lingkungan bawah laut yang sangat serius.
Menurut laporan Times of India, kunci utama proyek ini terletak pada penerapan teknologi pengerukan yang dilakukan secara agresif. China mengoperasikan kapal keruk jenis suction cutter paling mutakhir, seperti Tian Kun Hao, yang mampu memotong dasar laut yang keras dan menghisap materialnya ke permukaan.
Kapal-kapal tersebut bekerja layaknya penyedot raksasa. Pasir, pecahan karang, dan sedimen dasar laut dihisap lalu dialirkan melalui pipa-pipa besar menuju area terumbu karang dangkal. Dengan jumlah material mencapai jutaan meter kubik, China mampu membentuk daratan baru yang cukup luas untuk pembangunan landasan pacu pesawat dalam waktu hanya beberapa bulan.
Meski secara teknis merupakan pencapaian besar, konsekuensi ekologis yang ditimbulkan sangat mengkhawatirkan. Penyemprotan pasir dalam skala besar menciptakan lapisan sedimen tebal yang menyelimuti perairan.
Para ahli kelautan menyebut sedimen tersebut berfungsi seperti kabut polusi bagi ekosistem laut. Endapan ini menghalangi sinar matahari yang dibutuhkan lamun dan terumbu karang untuk melakukan fotosintesis. Selain itu, saat sedimen mengendap, ia menimbun karang hidup, memutus suplai oksigen, dan mematikan organisme yang telah berkembang selama ribuan tahun.
Sejumlah biolog laut memperingatkan bahwa kehancuran ini bersifat tidak dapat dipulihkan. Terumbu karang merupakan ekosistem hidup yang tumbuh sangat lambat, hanya beberapa sentimeter setiap tahun. Ketika karang terkubur di bawah jutaan ton pasir dan beton, peluang pemulihannya hampir tidak ada dalam rentang waktu kehidupan manusia.
Di samping menghancurkan habitat ribuan spesies ikan, pulau-pulau buatan ini juga mengubah pola arus laut alami. Perubahan tersebut mengganggu pergerakan larva ikan dan distribusi nutrisi, yang pada akhirnya mengancam ketahanan pangan jutaan penduduk di negara-negara sekitar yang bergantung pada sumber daya laut.
Dari kejauhan, pulau-pulau buatan ini tampak sebagai pencapaian teknik modern yang mengesankan. Namun, di bawah permukaan laut, dampaknya jauh lebih suram. Pembangunan di wilayah perairan sensitif membawa kerugian lingkungan yang jauh lebih besar dibandingkan apa yang terlihat di permukaan.
Temuan ini didasarkan pada penelitian Earth Island Institute yang secara berkelanjutan memantau perubahan drastis di kawasan tersebut. Daratan buatan yang dibangun China mungkin akan bertahan lama, tetapi kerusakan ekosistem laut yang ditimbulkannya berpotensi bersifat permanen.
Sumber: detik.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.