Berita Terkini
Kim Jong Un Awasi Uji Coba Sistem Roket Serangan Baru, Ancaman Regional Meningkat
/index.php
Edukasi - Diposting pada 28 January 2026 Waktu baca 5 menit
Sejak usia dini, masyarakat Indonesia akrab dengan nasihat finansial klasik: berhemat dan rajin menabung. Anjuran ini kerap dipandang sebagai jalan menuju kestabilan bahkan kesejahteraan ekonomi. Namun dalam praktiknya, hidup hemat di Indonesia bukan sekadar persoalan pilihan individu. Jejak sejarah justru menunjukkan bahwa budaya penghematan tidak pernah benar-benar mengakar sebagai nilai sosial yang kuat.
Sejarawan Ong Hok Ham pernah mengulas persoalan ini pada 1986. Dalam wawancaranya dengan Kompas (10 Februari 1986), Ong menyatakan bahwa masyarakat Indonesia sejak lama hanya mengenal dua pola hidup ekstrem, yakni kehidupan serba mewah dan kehidupan serba kekurangan. Sementara itu, konsep hidup sederhana dan hemat hampir tak mendapat tempat di antara keduanya.
Menurut Ong, persoalan ini berakar pada sejarah hubungan sosial sebelum abad ke-20. Pada masa itu, jumlah penduduk di Pulau Jawa masih relatif sedikit sehingga ikatan sosial menjadi kebutuhan utama. Ikatan tersebut diwujudkan melalui praktik pemberian upeti, hadiah, fasilitas, hingga posisi sosial tertentu. Setelah kewajiban itu terpenuhi, rasa aman dan kesetiaan pun terjaga. Pola ini, sayangnya, tidak berhenti seiring perubahan zaman.
Memasuki era modern, praktik keterikatan sosial tersebut beralih rupa menjadi bentuk investasi sosial, baik untuk kepentingan jangka pendek maupun panjang. Aktivitas memberi tidak lagi semata simbol loyalitas, tetapi juga menjadi cara mempertahankan status dan jaringan dalam struktur masyarakat.
Bagi kalangan berada, pola ini tidak menimbulkan masalah berarti. Namun bagi masyarakat miskin, tuntutan sosial semacam itu justru menjadi tekanan yang sulit dihindari. Dalam kondisi ini, hidup hemat menjadi sesuatu yang nyaris mustahil, karena kemiskinan tidak serta-merta membebaskan seseorang dari kewajiban sosial.
Fenomena ini terlihat dalam kehidupan sehari-hari, ketika pengeluaran sering kali muncul bukan karena kebutuhan pribadi, melainkan demi memenuhi tuntutan sosial—seperti menjamu tamu, memberi hadiah, atau menggelar pesta besar meskipun harus berutang. Akibatnya, kondisi ekonomi rumah tangga pun terkorbankan.
Pandangan Ong saat itu juga merupakan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang tengah menghadapi tekanan ekonomi. Pada Januari 1986, Presiden Soeharto menyerukan agar seluruh lapisan masyarakat menjalani hidup hemat dan sederhana sebagai langkah menghadapi krisis ekonomi. Ia menekankan bahwa gaya hidup sederhana bukan hanya tanggung jawab pejabat, tetapi juga kewajiban moral masyarakat luas, khususnya kelompok mampu.
Namun, seruan tersebut justru menuai kritik karena tidak diiringi teladan yang nyata. Banyak pejabat dan kalangan kaya tetap mempertahankan gaya hidup mewah, termasuk menggelar acara di hotel-hotel kelas atas.
Pada akhirnya, pemulihan ekonomi Indonesia tidak ditopang oleh kampanye hidup hemat semata, melainkan oleh kebijakan deregulasi yang mendorong ekspor dan investasi. Menjelang akhir dekade 1980-an, perekonomian nasional pun kembali menunjukkan kestabilan.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.